Kembali Mengingat Sejarah Kelam Penegakan HAM di Indonesia Melalui Pentas Inaugurasi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Kronologi pembunuhan terhadap Aktivis Perempuan Marsinah yang di perlihatkan dalam Teater pentas Inaugurasi Perbandingan Mazhab dan Hukum Angkatan 2019 di Gedung Sidrap Centre. Minggu (14/03/2021).

Washilah – Langit Temaram serta Rintik Hujan yang turun secara perlahan tidak membatasi pengunjung untuk menghadiri acara Inaugurasi yang di laksanakan oleh mahasiswa angkatan 2019 Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum.

Minggu, 14 Maret 2020. Kegiatan itu di laksanakan di gedung Sidrap Centre, tepatnya di perumahan Puri Kencana Sari, Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar.

Terlihat Antusias beberapa mahasiswa yang menjadi tamu undangan dalam kegiatan ini. Terbukti, dengan antrian panjang registrasi menuju ke dalam gedung.

Sembari menunggu giliran untuk mengisi buku registrasi, terlintas nama tema kegiatan yang terpampang dalam foto booth tepat dihadapan para pengunjung yang sedang antre “Distorsi HAM” itulah tema yang diusung dalam kegiatan kali ini.

Seketika ingatan tentang tulisan seorang kawan di Web Washilah perihal Aksi Pada Hari Internasional Woman Day 8 Maret Lalu, yang memuat salah satu bentuk pelanggaran HAM.

Dalam tulisan yang dirilis enam hari lalu itu, memuat informasi adanya 2 massa aksi yang mendapatkan tindakan represif aparat. Dapat dilihat dalam web berjudul “Peringati IWD Dua Massa Aksi Alami Tindakan Represif ”

Pukul 21.19, selepas melakukan registrasi tamu undangan, akhirnya saya masuk ke dalam gedung berbentuk persegi tersebut dan disambut dengan berbagai kerlap-kerlip lampu, luas panggung pementasan hampir seperdua luas gedung sidrap centre, menarik!.

Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan, sejalan dengan MC mulai bersuara menandakan acara akan dimulai dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. MC kemudian mengimbau seluruh tamu undangan untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Serentak semua berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan itu. Seketika ruangan bergema dengan alunan lagu yang di ciptakan oleh W.R Supratman tersebut. lanjut dengan menyanyikan mars PMH.

Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari ketua Panitia Zam Zam Mansyur menyinggung tema inaugurasi lebih menyoroti perihal ham di indonesia. Menurutnya Tema ini berangkat dari kasus HAM yang sampai saat ini belum tuntas dalam penyelidikannya. “Karena beberapa Kasus HAM itu maka dipandang perlu untuk dipentaskan.”

Senada dengan itu Ketua Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum yang diwakili oleh salah satu Dosen, Amril Mariolo M.A menuturkan bahwa dari kegiatan ini kita mampu mengingat kembali berbagai macam kasus Distorsi HAM yang terjadi di masa lalu.

Dosen yang juga Alumni Jurusan PMH tersebut menjelaskan, nantinya dipementasan ini kita akan mengetahui tentang apa yang terjadi, kenapa, dan siapa aktor yang dibelakang perampasan HAM di Indonesia.

Selanjutnya, Amri Mariolo membuka acara ini secara resmi dengan mengucapkan Basmalah “Dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, Inaugurasi ini saya buka secara resmi.”

Pementasan dimulai, suara pengeras suara memenuhi ruangan. Aru dibawakan dengan penuh emosional, Penonton hening dalam iringan musik gendang khas Bugis Makassar. Terlihat beberapa penonton mulai memperlihatkan emosinya ketika sang Aru mulai menyayat kulit menggunakan badik.

Penonton tak hentinya berseru ketika tari kreasi dipentaskan dengan menggunakan lagu melayu Siti Nur khaliza yang berjudul Nirmala. Sejalan dengan suhu ruangan yang mulai meningkat, atmosfer dan apresiasi serta riuh penonton tetap berlanjut.

Teater pun dipentaskan dengan mengambil Tema Distorsi HAM, diceritakan kisah tentang salah satu buruh perempuan yang menjadi korban kekerasan HAM Marsinah. Marsinah lahir di Nglundo, 10 April 1969 dan meninggal secara tragis 8 Mei 1993 pada umur 24 tahun. Yang dikenal sebagai seorang aktivis dan buruh pabrik pada masa Orde Baru.

Teater terus berlanjut dan diperlihatkan Dibalik layar putih dengan lampu temaram membelakangi, redup bayangan tentang kejamnya penculikan dan pembunuhan oleh perempuan itu mampu menguak emosi orang yang melihatnya.

“Kami Menolak Lupa!” Kata klise penutup teater tersebut.

Dilansir dari Catatan Tahunan (Catahu) Komnas HAM terdapat 12 kasus pelanggaran HAM Berat yang sampai kini masih dalam penyelidikan dan belum mendapat titik terang dalam penyelesaiannya.

Peristiwa 65-66, Penembakan Misterius 1982-1985, Peristiwa Talangsari, Lampung 1998, Peristiwa Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II, Peristiwa Penghilangan Orang Secara Paksa 1997-1998, Kerusuhan Mei 1998, Peristiwa Simpang KKA Aceh 3 Mei 1999, Peristiwa Jambu Keupok Aceh 2003, Peristiwa Pembunuhan Dukun Santet 1998-1999, Peristiwa Rumah geudong Aceh 1998, Peristiwa Paniai 2014, Peristiwa Wasior dan Wamena 2001.

Acara berlanjut dengan sastra tentang proses penegakan HAM di Indonesia dan kemudian diikuti oleh penampilan perkusi sebagai acara penutup.

Puncak acara diakhiri dengan Pengukuhan Angkatan 019 Perbandingan Mazhab dan Hukum dengan nama Angkatan Paradigma.

 

Penulis : Awal Anwar (Magang)

Editor : Ulfa Rizkia Apriliyani

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami