Fibrosa dan Pengabdian

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh : Nadia Hamrawati Hamzah

Berdasarkan doa yang dibungkus rapi dalam sebuah nama, Fibrosa yang berarti jaringan ikat pada struktural organ manusia. saya bisa menerawang bahwa mereka mungkin dilahirkan ke dunia kampus peradaban memang untuk mengikat satu sama lain.

Angkatan yang terlahir di Pantai Topejawa ini, memutuskan untuk kembali mengemban amanah di Badan Semi Otonom (BSO) Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Keperawatan, ini menandakan bahwa status demisioner kepengurusan tidak menjadi pemisah antara Fibrosa satu dengan yang lainnya, mereka tetap terikat dalam Federation 18’s Regenerate of Nursing Alaudddin atau lebih singkat dikenal dengan F18ROSA.

Pada awal bulan ketiga di kalender masehi, sore hari dimana cuaca lebih cerah dari biasanya menjadi waktu pilihan untuk pelantikan BSO sanggar seni rufaidah (Saseruf) dan volunteer nurse of nursing alauddin (Vena) , ini salah satu moment tak terlupakan bagi sebagian anak yang terlahir di rahim keperawatan tahun 2018 silam. Selepas setahun bergelut di kepengurusan kabinet HMJ berkibar, kini beberapa orang kembali mengabdikan diri di rumah hijau putih dengan garis pengabdian masing-masing.

“kalau bukan karena jaminan dari Fibrosa untuk selalu merangkul bahkan ketika berada di titik terendah sekalipun, tidak akan beranika naik sebagai ketua umum,” kata saya di dalam hati sambil mengamati persiapan yang dilakukan menjelang kegiatan pelantikan dimulai.

Sekitar dua bulan yang lalu, sebelum memantapkan diri untuk maju menjadi calon tunggal ketua umum HMJ Keperawatan. Fibrosa selalu meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja ketika kita tidak saling meninggalkan.

Pelantikan BSO dimulai, tarian yang diiringi dengan lantunan musik menjadi pembuka kegiatan. Terukir wajah bahagia yang sudah jarang kulihat, terlebih ketika penarikan paksa beberapa orang untuk ikut serta dalam tarian. Sontak garis senyum yang lama tak terlihat kini kembali hadir di antara manusia manusia pilihan di keperawatan.

Nurazizah, mahasiswi asal bone yang mengambil jabatan sebagai ketua umum BSO Seseruf mengatakan sejak awal masuk di gerbang keperawatan, intervensi untuk bersikap solid sudah dibangun.

“Sejak awal kita selalu diintervensi untuk selalu solid dalam keadaan apapun, hal itu membuat relasi kita semakin erat sampai sekarang,” ucapnya.

Lebih lanjut, Icha sapaan akrabnya mengungkapkan tidak ada alasan untuk tidak mengabdi kepada rumah tempat kembali.

“Saya sadar bahwa HMJ Keperawatan telah banyak memberikan saya makna dan pelajaran, maka tidak ada alasan untuk tidak mengabdi pada rumah, karena sebaik-baiknya rumah ialah tempat kembali,” ungkap icha dengan disertai senyum manis dibibirnya.

Disisi lain, ketika ditanya alasan mengapa masih tetap mengabdi di HMJ Keperawatan, Khaedirnur selaku Ketua umum BSO Vena menyampaikan HMJ Keperawatan adalah rumah pertama yang menumbuhkan jiwa organisatorisnya.

“Berkat HMJ keperawatan yang senantiasa menumbuhkan jiwa organisatoris sehingga sampai sekarang saya aktif dibeberapa organisasi, itu menjadi dasar saya mengapa selalu mengingat himpunan, dinamika yang dihadirkan didalamnya sangat penuh pendewasaan,” ujarnya.

Pria berambut gondrong ini juga mengakui bahwa semangat berhimpun senantiasa terjaga berkat Fibrosa.

“Satu hal yang pasti ialah berkat Fibrosa, semangat berhimpun ini selalu terjaga. Semoga HMJ Keperawatan tetap berkomitmen melahirkan kader kader berkualitas di tengah zaman yang berubah-ubah,” ucap khaedir mahasiswa berkulit sawo matang itu.

Setelah saya melantik saudara seperjuangan sebagai sayap-sayap himpunan, ritual yang tidak pernah terlewatkan yaitu sesi foto bersama tetapi kali ini dilakukan dengan sedikit berbeda. Saya yang dulunya harus mengambil posisi paling akhir ketika susunan telah rapi, kini mendapatkan posisi yang telah lebih awal disiapkan.

“Ayo foto, Fibrosa-Fibrosa foto,” kalimat yang paling kurindukan dari sekian banyak kalimat yang terucap.

Sesi foto selesai dan kegiatanpun berakhir. Saya memandangi hasil jepretan Era, salah satu mahasiswi yang menyandang status junior di keperawatan. Satu persatu wajah saya perhatikan, ini membuatku semakin yakin bahwa sampai sekarang Fibrosa tetap ada dan berusaha mengabdikan diri dalam bentuk yang berbeda-beda.

*Penulis Merupakan mahasiswa Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Semester VI. 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami