Satu Aktivis Persma Washilah ditangkap Polisi di Hari Tani, Begini Kronologisnya

Facebook
Twitter
WhatsApp

Washilah – Sekitar pukul 17:00 Wita, Massa aksi Gerakan Rakyat Makassar (Geram) datang ke Polrestabes Makassar menuntut pembebasan 19 kawan-kawannya yang ditangkap.

Reporter Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin (LIMA) Media Mahasiswa Washilah UIN Alauddin Makassar M Shoalihin bersama dua lainnya Arya Nur Prianugraha dan Ulfa Rizkia Apriliani juga bergeser ke Polrestabes ikut mengamati gerak Massa aksi.

Tiba di Polrestabes, Massa aksi duduk di depan kantor sembari membakar lilin dan bernyanyi. “Pak Polisi, Pak Polisi, bebaskan kawan kami,” teriak massa aksi bersahutan.

Beberapa waktu berselang, tepatnya pukul 18:37, puluhan aparat kepolisian yang keluar dari dalam Kantor Polrestabes, mengimbau kepada massa aksi agar meninggalkan lokasi dengan dalih telah mengakibatkan kemacetan dibeberapa jalan sekitar Polrestabes.

Tidak mengacuhkan imbauan Polisi, massa aksi melanjutkan bernyanyi menuntut pembebasan 19 kawannya.

Sekitar pukul 18.42 WITA, Reporter Pers Mahasiswa Washilah UIN Alauddin Makassar M Shoalihin berjalan ke parkiran dengan niat mengambil motornya untuk bergegas ke Sekretariat, karena ada rapat tiba-tiba. Disaat bersamaan polisi datang membubarkan massa aksi. Menangkap empat orang, termasuk M Shoalihin aktivis Pers Mahasiswa.

Menanggapi hal itu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Makassar Firmansyah mengatakan tindakan penangkapan terhadap aktivis Pers mahasiswa itu jelas tindakan melanggar hukum dan tentu kami mengecam tindakan itu.

“Penangkapan itu melanggar pasal 28F UUD 1945 berkaitan dengan hak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan memberikan informasi dengan menggunakan media apa saja yang ada, hak yang juga dikuatkan oleh Pasal 14 ayat (2) Undang-undang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,” ujarnya.

Dia menambahkan penangkapan itu harus ditujukan pada seseorang yang sedang melakukan kejahatan sehingga tidak ada alasan bagi pihak kepolisian untuk menahan seorang dan itu jelas KUHP. Olehnya itu, menurut hukum sudah seharusnya kawan Pers mahasiswa tersebut dibebaskan.

Penulis : Muhammad Aswan Syahrin

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami