Lagi, Penangkapan dan Represif Aparat di Hari Tani

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber | @LBH Makassar

Washilah – Peringatan Hari Tani di Indonesia menjadi cerita tersendiri, 24 September tahun lalu menjadi sejarah yang kelam. Lima massa aksi tewas akibat direpresif, dan ditembak aparat kepolisian. Lima diantaranya mereka yang tewas adalah Bagus Putra Mahendra (15), Maulana Suryadi, (23) Akbar Alamsyah (19), Randy (22), dan Yusuf Kardawi (19).

Tahun ini, (24/09/2020), gelombang demonstrasi kembali mewarnai Peringatan Hari Tani di Nusantara.

Di Makassar, Gerakan Rakyat Makassar (Geram) yang melakukan demonstrasi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Selatan berujung penangkapan dan represif dari aparat kepolisian.

Kejadian ini bermula sekitar pukul 14:15 Wita, pada saat Tim Penikam mulai memasuki barisan massa aksi Geram yang tengah memblokade separuh jalan di depan Kantor DPRD Sulsel.

Dari pantauan Reporter Washilah pada pukul 14:40, saling dorong aparat kepolisian dan massa aksi yang berusaha menutup full jalan tak terhindarkan.

Tak lama berselang, salah seorang aparat kepolisian dari barisan aparat kepolisian berteriak “Tim penikam maju,” teriaknya berulang kali.

Tim Penindak Gangguan Makassar (Penikam) kemudian maju dan menangkapi massa aksi satu persatu. Beberapa massa aksi ditangkap, diseret di aspal, dipukuli, dikeroyok dengan cara dipukuli dan ditendang.

Massa aksi yang ditangkap kemudian dimasukkan ke mobil jatanras, dan truk polisi, lalu dibawa ke Polrestabes Makassar pada pukul 14:45.

Diketahui, sebanyak 19 Orang massa aksi dari Geram yang dibawa ke Polrestabes.

“Ada 19 orang yang ditangkap dari Geram, tiga diantaranya Mahasiswa UIN, dua dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, satu dari Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik,” ucap Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (Dema-U) Aidil Fahri.

Aidil Fahri melanjutkan, selain dari 19 orang ditangkap. Beberapa massa aksi juga direpresif oleh aparat hingga pelipisnya bocor.

Salah satu yang dimaksud adalah Ical, seorang korban represif yang harus dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan dengan tujuh jahitan di pelipis kanannya setelah pukulan menggunakan senapan dilayangkan ke pelipisnya.

“Waktu itu keadaan sudah kacau, beberapa teman-teman ditangkap dan dipukuli. Saya menghalangi aparat untuk mengejar beberapa kawan. Tiba-tiba salah seorang aparat melayangkan senapan gas air matanya ke pelipis kananku,” ungkapnya pada Reporter Washilah setelah mendapat perawatan di Rumah Sakit Ibnu Sina.

********************************************

Sekitar pukul 17:00, massa aksi Geram datang ke Polrestabes Makassar menuntut pembebasan 19 kawan-kawannya yang ditangkap.

Massa aksi duduk di depan Polrestabes Makassar sembari membakar lilin dan bernyanyi. “Pak Polisi, Pak Polisi, bebaskan kawan kami,” teriak massa aksi bersahutan.

Beberapa waktu berselang, tepatnya pukul 18:37, puluhan aparat kepolisian yang keluar dari dalam Kantor Polrestabes, mengimbau kepada massa aksi agar meninggalkan lokasi dengan dalih telah mengakibatkan kemacetan dibeberapa jalan sekitar Polrestabes.

Tidak mengacuhkan imbauan Polisi, massa aksi melanjutkan bernyanyi menuntut pembebasan 19 kawannya.

“Bebaskan kawan kami, bebaskan kawan kami, bebaskan kawan kami,” teriak massa aksi menolak untuk bubar.

Merasa tidak diacuhkan, aparat kepolisian dengan gelap mata menangkap empat orang yang berada di lokasi kejadian. Satu diantaranya adalah Reporter Pers Mahasiswa Washilah, Lihin (20).

Saat ini, diketahui 23 Orang massa aksi dari Geram, dan satu Reporter Washilah ditangkap dan berada di Polrestabes Makassar.

Hingga pukul 21:00 Massa aksi masih berada disekitar Kantor Polrestabes Makassar menuntut pembebasan kawan-kawan mereka yang ditangkap.

Penulis : Arya Nur Prianugraha

Editor : Rahma Indah

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami