Ancaman KGBO, Begini Cara Pencegahan dan Penanggulangannya

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber | http://daenggassing.com

Washilah – Zaman semakin maju, seiring dengan kecanggihan teknologi yang semakin mutakhir, salah satunya adalah internet. Berdasarkan data Digital 2020, terungkap bahwa sebanyak 4,5 Milyar orang di dunia merupakan pengguna internet.

Hal ini berarti pengguna internet di dunia mencapai 60% atau lebih daripada separuh jumlah penduduk dimuka bumi. Tak dapat dipungkiri, internet yang kini dianggap menjadi kebutuhan dasar manusia memiliki dampak positif juga negatif. Salah satunya adalah KGBO.

Apa itu KGBO?

Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) adalah kekerasan yang didasarkan atas seks atau gender. Ini termasuk tindakan yang mengakibatkan bahaya atau penderitaan fisik, mental atau seksual, ancaman, paksaan, dan penghapusan kemerdekaan.

KBGO atau KBG yang difasilitasi teknologi, sama seperti kekerasan berbasis gender di dunia nyata, tindak kekerasan tersebut harus memiliki niatan atau maksud melecehkan korban berdasarkan gender atau seksual. Jika tidak, kekerasan tersebut masuk dalam kategori kekerasan umum di dunia maya.

Sejak 2015, Komnas Perempuan telah memberikan catatan tentang kekerasan terhadap perempuan yang terkait dengan dunia online, dan menggarisbawahi bahwa kekerasan dan kejahatan siber memiliki pola kasus yang semakin rumit.

Pada 2017, ada 65 laporan kasus kekerasan terhadap perempuan di dunia maya yang diterima oleh Komnas Perempuan. Dalam sebuah panduan “Memahami dan Menyikapi Kekerasan Berbasis Gender Online” yang didusun oleh SAFEnet, sepanjang 2017, setidaknya ada delapan bentuk kekerasan berbasis gender online yang dilaporkan kepada Komnas Perempuan.

Dari delapan itu antaranya, pendekatan untuk memperdaya (cyber grooming), peretasan (hacking), konten ilegal (illegal content), pelanggaran privasi (infringement of privacy), ancaman distribusi foto/video pribadi (malicious distribution), pencemaran nama baik (online defamation), rekrutmen online (online recruitment), pelecehan online (cyber harassment) yang baru-baru ini menimpa beberapa mahasiswi UIN Alauddin Makassar.

Kasus yang menimpa beberapa mahasiswi UIN Alauddin merupakan salah satu bentuk Cyber-Flashing akibat dari eksibiosinisme, yaitu berupa kelainan seksual dimana penderitanya merasa senang memamerkan gestur seksualnya pada orang asing.

Sementata itu, masa pandemi Covid-19, yang memaksa orang-orang untuk berjaga jarak dan tetap dirumah saja menjadikan sosial media ataupun internet menjadi jalan utama agar tetap saling terhubung dalam beraktivitas. Tak ayal, seiring dengan peningkatan penggunaan internet, jumlah kasus KGBO ikut melonjak.

Data dari LBH Apik Jakarta, selama pandemi rata-rata LBH Apik Jakarta menerima 60 laporan kasus kekerasan setiap bulannya. Sejak pembatasan fisik dan sosial diberlakukan Maret lalu, LBH Apik Jakarta sudah menerima 97 kasus kekerasan terhadap perempuan (catatan 16 Maret-19 April 2020). Dari 97 kasus ini, 30 kasus diantaranya adalah kasus KGBO.

Selain itu, menurut data perolehan terbaru Komnas Perempuan, di Indonesia terjadi peningkatan signifikan dalam pelaporan kasus KBGO atau cyber crime pada kalangan perempuan yaitu sebanyak 300 % dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 281 kasus.

Sebagaimana kasus kekerasan gender pada umumnya, penyintas adalah orang yang sangat dirugikan. Mulai dari kerugian psikologis hingga membatasi diri, sebab dari depresi, kecemasan dan ketakutan dan fatalnya di titik-titik tertentu korban akan merasa berada dalam bahaya dan memutuskan untuk bunuh diri.

Penyintas KGBO cenderung merasakan keterasingan sosial sebab informasi yang telah tersebar mengenai dirinya menjadi bahan ejekan dan cemoohan orang disekitarnya. Korban akan merasakan ketakutan untuk beraktivitas baik secara online maupun offline karena trauma dan takut jika hal tersebut menimpanya lagi.

Pencegahan dengan melindungi privasi di dunia maya merupakan hal yang sangat krusial ditengah peradaban yang pesat seperti sekarang, terlebih data yang sensitif, dari pihak tak bertanggung jawab yang mengaksesnya baik melalui online maupun offline. Dimulai dari memisahkan akun pribadi dengan akun publik, hindari menggunakan aplikasi pihak ketiga yang bisa mengakses akun pribadi, memverifikasi dan membuat password dengan tingkat kesulitan tinggi, menghindari berbagi lokasi waktu nyata, berhati-hati pada link URL yang dipendekkan, dan menjaga kerahasiaan pin serta password pada perangkat pribadi.

Lalu, apa yang mesti dilakukan ketika tertimpa KGBO?

1. Dokumentasikan hal-hal yang terjadi

Bila memungkinkan, dokumentasikan semua hal secara detail. Dokumen yang dibuat dengan kronologis dapat membantu proses pelaporan dan pengusutan terhadap pihak berwenang. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat tangkapan layar atas semua kejadian yang dialami, misalnya chat, postingan di media sosial, dll.

2. Hubungi bantuan

Cari tahu individu, lembaga, organisasi atau institusi terpercaya yang dapat memberikan bantuan. Sebelumnya, identifikasi terlebih dulu apa yang paling kamu butuhkan saat itu. Jika kamu merasa butuh bantuan hukum, kamu bisa menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) terdekat dari tempat tinggal, atau menghubungi LBH Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) melalui lbhapik.or.id.

3. Lapor dan blokir pelaku

Di ranah online, korban melalui opsi untuk melaporkan dan memblokir pelaku atau akun-akun yang dianggap atau telah mencurigakan, membuat tidak nyaman, atau mengintimidasi melalui fitur ‘laporkan akun’ di masing-masing media sosial atau digital platform lainnya.

Keberanian dan tindak bijaksana meski ditengah masalah yang menerpa dapat mempercepat dan mempermudah dalam penindakan kasus KGBO, sehingga kasus serupa dapat diminamilisir.

Penulis : Nur Isna Mulyani Rasya

Editor : Rahma Indah

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami