Oleh: Muhardi
Proses spiritual dan gerak kehidupan yang syarat akan makna, manusia tak pernah melupa bahwa tiap-tiap tapak hidup selalu ada peran simbol yang membayangi. Hal tak mengherankan ketika menemui tubuh yang gersang tenggelam dalam perdebatan panjang tak bermuara. Layaknya perdebatan pengikut dalam menjalankan ritus-ritus keagamaan. Peran simbol sangatlah terpenting dalam menyusun karakter identitas.
Cukup menarik perhatian, ungkapan salah satu kritikus kebudayaan Erving Goffmanm yang menyajikan dengan lugas “masyarakat terjebak dalam kehidupan simbolis sebagai masyarakat dengan dramaturgi dalam kehidupan sehari-hari. Seolah-olah mereka berada terus menerus memainkan simbol-simbol untuk memainkan peran identitas yang sedang dimainkannya”. “Uang adalah simbolis yang paling kuat dan berpengaruh, siapa yang punya uang dialah yang menjadi raja”, Hal itulah yang diucapkan Vonny Rosyane, pacar terpidana mati kasus kepemilikan narkotika, Freddy Budiman. Karena uang yang dimilikinya kehidupan penjara hanyalah bersifat kamuflase. Ia masih bisa merayakan pesta narkotika dan berkencang dengan wanita-wanita cantik.
Terlepas dari ungkapan-ungkapan di atas, sisi lain dari simbol ternyata dapat pula dijadikan sebagai alat dalam meracik Tatanan sosial yang lebih produktif. Teks, bahasa layaknya karya sastra mampu dipergunakan sebagai alat dalam meramu kehidupan yang lebih bijak, sebab ia mampu mempengaruhi perilaku seseorang bahkan agama dan kebudayaan sekalipun. Karya sastra merupakan ruang semesta dengan ketajaman dan keliarannya, ia dapat menembus dan melintasi apa saja, termasuk sekat budaya, tabir agama, hingga tangga-tangga hirarki kasta.
Sastra seperti puisi adalah hal yang tak asing dan bukanlah sesuatu yang baru ditemui terkhusus bagi yang menyelami agama Islam. Kemunculan kekuatan Islam diawali dengan munculnya bahasa puitis yang berpengaruh dalam dialek-dialek bahasa Arab. Model bahasa puitis digunakan oleh para penyair dari kelompok kabilah yang bertemu dan bertamu di kasus-kasus.
Di biara yang panjang, sastra muncul dengan bahasa-bahasa yang santun dan puitis, ia dijadikan sebagai alat komunikasi, alat berdakwah bagi orang-orang Arab pada masa itu. Sastra cukup berpengaruh, hingga mempengaruhi sekat-sekat kebudayaan serta menyembuhkan dari penyakit-penyakit hirarki kasta dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam gerak sejarah, sastra selalu hadir, tegak dan mendominasi serta menyelami Islam dengan santun. Bahkan dalam sebuah riwayat, dikisahkan oleh Amir Bin Al-Rasyid, ayahnya berkata “Nabi telah bertanya kepadaku, apakah aku dapat membacakan sejumlah puisi karangan Ummayya Bin Abil Salt, dan pada setiap akhir bait yang dibacakan, Nabi berkata “teruskan” lalu Nabi melanjutkan ungkapannya “Ummayya menjadi seorang Muslim melalui puisi-puisinya”.
Virus sastra sebagai simbol hadir meracik dan meramu kehidupan dengan bahasanya yang santun, puitis hingga membuat seorang individu mampu mencapai kesadaran, keindahan, kekuatan Tuhan dalam proses perjalanan spiritual dan kehidupan nyata.
Makassar, 27 Maret 2020
*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) Semester VIII











