Bolehkah Umat Islam Ucapkan “Selamat Hari Natal”

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh: Nur Afni Aripin

Tanggal 25 Desember selalu menjadi Hari Perayaan Natal bagi umat kristiani yang ditujukan untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Dimana perayaan Natal selalu di identikkan dengan tradisi pohon natal, bertukar hadiah bahkan mengenai sinterklas.

Sebagaimana kata Natal hadir dari ungakapan bahasa latin Dies Natalies atau dalam artian bahasa Indonesia Hari Lahir. Sedangkan dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, yang berasal dari istilah inggris di tahun 1131 yaitu Cristes Messe yang berarti Misa Kristus.

Euforia perayaan Natal selalu disemarakkan dalam negeri termasuk tahun ini. begitupun mengenai persoalan ramainya pro kontra terhadap pengucapan selamat Natal kepada Umat Kristiani, yang berujung pada perdebatan bahkan mengkafirkan orang yang pro dengan pengucapan itu. Mereka berpegang teguh pada satu dalil hadis yang diriwiyatkan oleh Abu Daud sebagaimana dalam hadis Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia digolongkan sebagai kaum tersebut.”

Padahal apabila hadis ini ditelaah secara dalam mengenai pemaknaannya, tentu tidak masalah mengucapkan selamat hari natal asalkan keyakinan dan imam kita tidak goyah. Sehingga pada kesimpulannya ucapan selamat natal tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur apakah seseorang muslim menjadi kafir atau tidak.

Sebagaimana Fatwa syekh yusuf Qardhawi yaitu ulama kontemporer yang merupakan ketua cendikiawan Muslim Internasional dimana beliau membolehkan mengucapkan selamat Natal kepada Kerabat bahkan siapa saja.

“Kalau kita mengucapkan selamat pada orang Kristiani berarti sama saja kita menganggap Nabi Isa sebagi Tuhan?”
Pernyataan diatas selalu saja menjadi kalimat pembelaan bagi mereka yang memang “ngotot” mengkafirkan orang orang yang pro terhadap pengucapan hari Natal. Namun mereka lupa bahwa pengucapan selamat Natal tidak menjadi masalah jika tidak dibarengi dengan iman (keyakinan). Singkatnya begini mengucapkan selamat tidak serta merta menyetujui keyakinan orang orang yang diselamati. Bahkan salah satu ulama kontemporer Syaikh’Ali Jum’ah dan Habib ‘Ali al Jifri mengungkapkan bahwa mengucapkan selamat adalah bagian dari etikat dalam pergaulan sosial yang bahkan esensinya sama dengan salam yang diucapkan orang bertemu.

Bahkan mengucapkan selamat hari natal juga bukan syarat seseorang masuk Kristen. Dalam hal ini aspek untuk menjaga Ukhuwah Wathoniyah lebih dijunjung sebagai bentuk penghargaan sesama manusia dengan alasan utama baik kita atau mereka sama sama mahluk Allah.

Faktanya mengucapkan selamat hari Natal termasuk dalam toleransi beragama bagaimana kita menghargai kepercayaan mereka. Bukankah Islam hadir untuk menebar “Rahmatan Lil Alamin “ yaitu menghadirkan rahmat dan kedamaian bagi alam semesta dengan mewujudkan sikap toleransi yang didalamnya merangkul sikap menghargai dan menghormati eksistensi maasing masing pihak. Sebagaimana Umat Islam menghormati dan mengakui Nabi Isa AS, namun jika merayakan dengan mengikuti ritual umat Kristiani dihari natal hal itu bisa dilabeli hukum Haram. Sebagaimana Fatwa MUI ditahun 2016 melarang umat islam menggunakan atau mengajak penggunaan atribut atribut kegamaan non muslim.

Hal yang harus kita garis bawahi bahwa Indonesia merupakan negara Multicultural dengan keberagaman etnis, ras, suku bahkan agama. Dalam kemajemukan bangsa Indonesia memiliki enam agama yang diakui sah oleh negara. diantaranyam Agama islam, Kristen, Buddha, Hindu, Katholik dan Kong hu chu.

Sadar atau tidak pada masyarakat multi agama pertentangan antar pemeluk agama yang berbeda tidak bisa dihindari. Tapi Jika ditanya, bagaimana indonesia mempertahankan dan menjaga stabilitas persatuan keberagaman itu? tentu saja jawabannya adalah toleransi keberagaman. Sebagaimana kesadaran antar umat beragama yang diwujudkan dalam toleransi bisa menekan bahkan meminimalisir bentrokan antar pemeluk agama.

Seperti yang kita ketahui Toleransi beragama yang berkembang bukan hanya hadir untuk menjadikan manusia menghargai teologi dan imam masing masing agama dan ummat beragama, tapi juga kemudian menjadi dasar untuk memahami dan menghargai budaya agama tersebut. Pada akhirnya toleransi yang dilakukan dengan mengapllikasikan kesadaran penuh akan melahirkan sikap inklusif umat beragama. Dimana sikap ini menanggap agama sendiri benar tetapi masih memberi ruang untuk menyatakan kebenaran agama lain yang diyakini oleh pemeluknya. Sikap inklusif ini mampu memberikan sisi positif dalam meruntuhkan sikap ekstrimis dan ekslusif umat beragama yang menciptakan pemahaman fanatik buta, radikalisme dan terorisme.

Bukankah perbedaan adalah rahmat? maka euforia perayaan hari Natal tahun ini sentimen perdebatan mengenai larangan pengucapan selamat hari natal kepada umat kristiani haruslah dimusnahkan. Bukankah pengucapan selamat hari natal seharusnya menjadi alat guna mempererat tali persatuan dan memahami arti keberagaman.

Mari menjadi Warga Negara Beradab dengan menjunjung nilai keberagaman, toleransi dan persatuan.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Usuhuluddin Filsafat dan Politik (FUFP). 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami