Masuknya Kolonialisasi di Tanah Makassar

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber | Beritabali.com

Oleh : Ilham Hamsah

Kolonialisme adalah sebuah sistem politik yang berkembang pesat di Eropa pada abad XVI hingga XIX, menurut beberapa sumber pengertian kolonialisme sacara garis besar dapat diartikan sebagai sebuah sistem politik dimana suatu negara menjajah negara lain dengan maksud mendapatkan kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar dari negara jajahan tersebut, dengan cara mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang terdapat dinegeri jajahan untuk semata-mata membiayai dan memakmurkan negerinya sendiri.

Dampak yang diberikan kolonialisasi Eropa terhdap wilayah nusantara pada abad XVI hingga abad XIX tentunya memberikan dampak besar kepada pola hidup dan tatanan pemerintahan di wilayah nusantara pada saat itu, lantas bagaimana kolonialisasi bisa sampai ke wilayah nusantara, siapa yang membawa dan bagaimana sikap masyarakat nusantara khususnya di wilayah Makassar? Itulah yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini, tetapi sebelum masuk ke inti bahasan kita terlebih dahulu harus mengetahui latar belakang kolonialisme ini lahir dari negeri asalnya (Eropa), maka dari itu penulis membagi tulisan ini kedalam beberapa bagian, diantaranya sebagai berikut:

1. Pelayaran Bangsa Eropa
Setelah sekian lama berlangsung kemelut dalam perang atas nama agama atau yang lebih dikenal dengan sebutan Perang Salib antara pihak Kristen Khatolik Eropa dengan Negara-negara muslim di semenanjung Arabia, konflik ini baru selesai pada tahun 1492 yang ditandai dengan pengusiran bangsa Moor dari semenanjung Iberia. Hal ini membuat negeri-negeri yang berada di semenanjung Iberia seperti Spanyol & Portugis mendapat sumber pengetahuan dari komunitas muslim yang pernah berkuasa disana selama berabad-abad, semua peninggalan dari arsitektur hingga pemikiran yang disalurkan melalui tulisan yang kemudian dibukukan lalu diarsipkan kedalam sebuah perpustakaan yang dikenal dengan Perpustakaan Kordoba, setelah pengusiran tersebut menjadi milik kerajaan Kristen Spanyol, hal ini yang membuat perkembangan ilmu pengetahuan di negeri kawasan semenanjung Iberia sangat maju khususnya dalam bidang geografi, kelautan dan navigasi ketimbang negara lain di wilayah Eropa.

Sementara dilain sisi dampak dari perang salib juga mempengaruhi stabilitas perdagangan diwilayah eropa, statement anti Kristen dilontakan masyarakat Muslim Arab sehingga mereka enggan menjual hasil bumi mereka kepada orang-orang Kristen Eropa, hal ini mengakibatkan orang-orang Eropa memutar orak agar dapat mendapatkan bahan pangan khususnya rempah yang pada saat itu sangat langka dan bernilai ekonomi sangat tinggi di kawasan eropa, singkat cerita pelayaran bangsa portugis dan spayol mengalami perseteruan kemudian perseteruan ini berhasil diredam oleh Paus Alexander VI yang menggambar garis khayal yang membagi dunia menjadi dua bagian yang lebih dikenal dengan Perjanjian Tordesillas dimana sisi barat menjadi bagian spayol dan sisi timur menjadi bagian Portugis.

2. Konflik Antara Dualisme Kristen di Eropa
Setelah pembagian dunia yang dilakukan Paus Alexander VI dimana diputuskan bahwa wilayah Maluku menjadi hak Portugis dan wilayah Filipina menjadi hak Spanyol, kedua bangsa ini kemudian menjadi Negara superior di wilayah eropa pada abad ke-16 karena berhasil memonopoli pasokan rempah dari wilayah asia. Di utara orang-orang belanda yang bertindak sebagai makelar Lisbon memiliki ambisi mendapatkan akses langsung ke wilayah Maluku yang dengan ini sekaligus memutuskan hubungan dengan portugis, kembali kita persingkat, pelayaran pertama belanda ke Maluku terjadi pada tahun 1958 yang dipimpin oleh seorang bernama Cornelis de Houtman, lalu kemudian setelah gejolak panjang yang terjadi antara Rakyat Maluku dan VOC dengan Portugis yang berakhir dengan pengusiran Portugis dari tanah Maluku.

Sokongan bantuan yang diberikan pihak colonial belanda untuk mengusir Portugis nampaknya harus dibayar mahal dengan tindakan monopoli oleh VOC, hal ini mengakibatkan VOC dapat dengan bebas menancapkan pola kolonialisasi serta eksploitasi di tanah Maluku serta menjadikan Maluku pos pertama yang dimiliki VOC di wilayah asia tenggara.

3. Kesultanan Makassar
Setelah sebelumnya kita telah membahas latar belakang dan sejarah singkat datangnya bangsa Eropa ke wilayah asia tenggara, pada bagian ini merupakan klimaks dari bagian-bagian sebelumnya dimana kita akan menjurus kepada titik utama bahasan yakni Makassar, tetapi perlu saya ingatkan sekali lagi bahwa ini hanyalah sejarah singkat, karna untuk membahas ini secara keseluruhan medianya bukanlah disini tetapi melalui diskusi dan membaca buku sejarah secara langsung.

Di Sulawesi selatan pada abad ke-16 terdapat dua buah kerjaan kembay yang penting bagi jalur perniagaan, yakni kerajaan Gowa dan Tallo, saking eratnya hubungan antara kerajaan ini sampai-sampai dianggap sebagai sebuah kerajaan saja dengan nama Kerajaan Makassar.

Ibnoe Soewarso, seorang sejarawan mengatan bahwa pada mulanya rakyat Makassar hidup dengan cara bertani. Hasil komoditi utamanya adalah beras yang dimana beras ini kemudian dibawa berlayar dan dipertukankan dengan rempah, khususnya rempah di wilayah Maluku, selain itu pelabuhan Makassar yang kian hari kian besar menarik minat orang eropa (Portugis & Inggris).

Pada abad ke-17 makassar mencapai masa kejayaannya, pada waktu itu Bandar niaga Makassar ramai dikunjungi pedagang baik dalam maupun luar negeri (Eropa & Arab), lambat laun keadaan ini membuat Makassar menjadi Negara maritim yang besar di kawasan timur nusantara.

Perkembanngan Makassar sebagai Negara maritim yang besar dan kuat mencemaskan pihak VOC. Makassar merupakan batu perintang terhadap kekuasaan VOC di Maluku karena Makassar selalu bersedia menjual rempah-rempah ke pedagang-pedagang Eropa dan juga Makassar aktif dalam jariangan pernaiagaan dengan masyarakat Maluku hingga pada masanya, Makassar kerap membantu perjuangan rakyat Maluku yang sedang berperang melawan VOC

Pertentangan antara Makassar dan VOC makin lama makin meruncing, sejak tahun 1633 VOC telah berupaya melumpuhkan perdagangan Makassar. Beberapa kali Bandar Makassar di blockade oleh VOC oleh angkatan laut VOC tetapi selalu gagal, dan dengan mudah kapal-kapal Makassar yang jumlahnya ratusan menandingi kapal-kapal blockade VOC.

Sementara itu VOC berhasil menerapkan kembali senjata utamanya dalam menaklukan negeri, yakni berdiri ditengah dua kekuatan yang sama kuat disuatu daerah kemudian membantu ketika salah satu kerajaan telah kalah dan setelah berhasil menguasai negeri tersebut voc kembali meminta jatah dari hasil usahanya membantu, dalam kasus ini pertikaian antara dua kerajaan di wilayah Sulawesi selatan yakni kerajaan Makassar dengan kerajaan Bone, VOC berhasil masuk kedalam pertentangan ini dengan menawarkan bantuan kepada Aru Palakka yang menjadi seteru utama Makassar dikarenakan penindasan yang dilakukan kerajaan Makassar kepada masyarakat Bone.

Permusuhan Makassar dan Bone sudah terjadi sejak 1640 dan hingga sekarang gejolak politik ras anatara kedua kubu ini masih sangat dirasakan. Bone yang dijajah Makassar karena merupakan penghasil beras diwilayah Sulawesi selatan. Pada tahun 1660 Aru Palakka beserta pengikutnya mengangkat senjata melawan Makassar. Oleh sultan Hasanuddin (1654-1660) pemberontakan tersebut ditindas kejam, akibat dari pemberontakan ini Aru Palakka menjadi buronan dan sempat melarikan diri ke buton, dalam pelariannya ke buton pasukan ayam jantan kembali menyerang dan meluluh lantahkan buton hingga Aru Palakka terpaksa datang ke Batavia yang pada waktu itu merupakan markas utama VOC di wilayah Nusantara.

Sejak saat itu VOC dan kerajaan bone dibawah pimpinan Aru Palakka mengadakan persekutuan guna membebaskan Bone dari belenggu penjajahan Makassar dan VOC dengan leluasa mengambil alih sistem pemerintahan di Makassar. Bersama dengan Aru Palakka dan rakyat bone, VOC melancarkan serangan kepada Makassar pada tahun 1666, perang ini kemudian dikenal dengan nama perang Makassar, serangan yang dilancarkan dua arah tersebut (dari darat & Laut) mengakibatkan Makassar kewalahan, walaupun sempat melancarkan perlawanan yang gigih Makassar tetap harus dipaksa mengakui kekalahannya dari pihak VOC dan Bone.

Hasanuddin yang pada waktu itu menggantikan putranya (Mappasomba) yang sedang sakit, dipaksa menandatangi Perjanjian Bongaya yang amat merugikanpihak Makassar pada saat itu, maka dengan perjanjian itu Makassar bukan lagi sebuah Negara merdeka dan dari sinilah awal mula kolonialisme di tanah Makassar.

Tercatat pula dalam sejarah bahwa rakyat Makassar yang menolak perjanjian itu kembali mengangkat senjata, tercatat tahun 1669 rakyat Makassar kembali menyerang pemerintahan colonial VOC tetapi ini semua berhasil di padamkan. Makassar dibawah pemerintahan VOC dijadikan sebagai pusat pemerintahan kolonialisme di wilayah Sulawesi, itulah mengapa hingga saat ini Makassar tetap menjadi kota yang besar dan padat di wilayah Sulawesi karna merupakan pusat utama kolonialisme yang dijalankan VOC di Sulawesi.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Semester IV. 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami