Pemindahan Ibu Kota Negara: Suatu Solusi atau Masalah Baru?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Muh. Nasir

Oleh: Muh. Nasir

Upaya pemindahan ibu kota baru bukanlah hal yang baru. Isu pemindahan ibu kota baru sudah direncenakan sejak masa Presiden Soekarno hingga masa pemerintahan SBY. Berbagai daerah direncanakan akan menjadi lokasi ibu kota baru, namun semua itu hanyalah sekedar wacana belaka. Barulah pada masa pemerintahan Jokowi, rencana pemindahan ibu kota benar-benar terjadi. Ibu kota baru akan dibangun di wilayah administratif Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Tentunya pemindahan ibu kota baru bukan kebijakan yang sifatnya asal-asalan, melainkan melewati serangkaian kajian mendalam terkait rencana tersebut. Kajian tersebut berkaitan dengan kajian yang berkaitan dengan keekonomian, demografi, sosial politik, pertahanan keamanan dan lain sebagainya. Apakah pemindahan ibu kota baru akan menjadi solusi atau justru akan menambah masalah?

Berbagai masalah yang akan dihadapi dalam pemindahan ibu kota baru. Lantas masalah seperti apa? Seperti membutuhkan biaya yang fantastis dalam membangun ibu kota baru. Butuh biaya sekitar Rp 466 Triliun. Bisa saja hal tersebut akan membebani APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) kedepannya. Alternatif lain dengan menjual atau menyewakan aset negara yang ada di Jakarta, seperti gedung-gedung pemerintahan. Berbagai hal di atas akan menjadi biaya tambahan dalam membangun ibu kota baru.

Masalah yang lain, yakni butuh lahan sekitar 180 ribu hektare (Ha) dalam membangun ibu kota baru. Selain itu, butuh waktu yang cukup lama dalam membangun suatu ibu kota baru, diperkirakan butuh waktu 20-30 tahun lamanya. Mengapa butuh waktu selama itu ? Hal ini dikarenakan banyaknya hal yang harus dibangun, seperti gedung pemerintahan yang baru, dan pembangunan infrastrukur yang menunjang, seperti jalan dan jembatan, sumber daya air dan permukiman.

Sebelum membangun berbagai hal tersebut, terlebih dahulu dibuat desain ibu kota baru. Saat ini sudah ada desain yang ditetapkan pemerintah yang didapatkan lewat sayembara. Desain itulah yang menjadi acuan dalam pembangunan ibu kota baru yang ditargetkan dimulai pada tahun 2021.

Terlepas dari berbagai masalah yang dihadapi, tentu pemindahan ibu kota ke Kalimantan juga dianggap menjadi solusi pemerintah dalam mengatasi berbagai masalah yang selama ini dihadapi. Lantas solusi seperti apa yang didapat dari pemindahan ibu kota baru?

Pemindahan ibu kota baru ke Kalimantan, dianggap menjadi daerah paling bebas dari ancaman bencana alam. Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan daerah ibu kota sekarang. Sebut saja bencana banjir yang menjadi langganan setiap tahun. Selain itu, masih luasnya lahan kosong di Kalimantan, dapat menjadi solusi agar tidak terjadi kepadatan penduduk yang tinggi. Apalagi melihat kondisi ibu kota sekarang, yang jumlah penduduknya mencapai 10 juta jiwa.

Kepadatan penduduk tentunya sejalan dengan banyaknya kendaraan pribadi yang masuk ke ibu kota. Hal inilah yang menjadi penyebab kemacetan yang tiap tahunnya mengalami peningkatan. Lewat pemindahan ibu kota baru ke Kalimantan bisa menjadi solusi jitu untuk mengurangi kemacetan. Bagaimana caranya? Berpindahnya ibu kota, diharapkan bahwa banyak pula penduduk yang pindah daerah dari Jakarta ke ibu kota baru, sehingga akan mengurangi kepadatan penduduk sekaligus mengurangi kemacetan.

Lalu solusi apalagi yang didapat? Tak hanya itu, pemindahan ibu kota baru juga dapat mendorong pemerataan ekonomi. Saat ini, sebagian besar ekonomi terserap di Pulau Jawa. Selain pemerataan ekonomi, diharapkan pula akan mendorong pemerataan pembangunan, yang saat ini terjadi ketimpangan, karena pembangunan lebih dominan atau terpusat di Pulau Jawa. Hal ini tentunya akan mengubah mindset kita agar perekonomian dan pembangunan di Indonesia tidak Java centris (terpusat di Jawa).

Oleh karena itu, pemindahan ibu kota yang baru, diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang selama ini terjadi di ibu kota. Tentunya dibutuhkan perencanaan atau strategi-strategi yang matang dalam merealisasikan hal tersebut, agar rencana pemindahan ibu kota yang baru benar-benar bisa menjadi solusi, bukan malah menambah masalah yang sudah ada.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) semester VII.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami