Washilah – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) kembali melaksanakan seminar nasional. Kali ini dengan tema “Inovasi Generasi Milenial Dalam Menghadapi Problematika Lingkungan” yang berlangsung di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Selasa (15/10/2019).
“Bioleaf adalah rangkaian program kerja dari HMJ Biologi. Pada tahun ini, kegiatan Bioleaf sudah memasuki tahun ke-tujuh dan skala tahun ini lebih besar dibanding tahun lalu. Sebelumnya, Bioleaf mengikut sertakan dua elemen yakni siswa dan mahasiswa dengan skala provinsi tetapi pada tahun ini Bioleaf hanya menitik beratkan pada mahasiswa tetapi skalanya diperbesar yakni skala nasional,” terang Ketua Panitia Bioleaf, Djodi Setiawan.
Koordinator Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Sulsel, Rizky Anggriana Arimbi yang hadir sebagai pemantik dalam kegiatan ini menyinggung berbagai persoalan lingkungan yang sangat urgen, beberapa diantaranya adalah pembukaan lahan hutan yang dijadikan perkebunan sawit.
“Milenial harusnya paham dan tau cara menyelesaikan problematika lingkungan yang ada di Negara kita saat ini. Kita semua paham bahwa hutan Indonesia sendiri adalah paru-paru dunia, kenapa pembakaran lahan hutan ini terjadi? yaa karena korporat dan pemilik modal biadab di negeri ini ingin memperluas lahan sawitnya, kenapa lahan sawit diperluas? karena bangsa kita adalah bangsa komsumtif yang senang mengkomsusi barang tanpa pernah berpikir untuk memproduksi inovasi baru,” jelasnya.
Selain Rizky Anggriana Arimbi, dalam seminar ini juga hadir Sastrawan dan Pendiri Perpustakaan Palaba Soesilo Ananta Toer sebagi pemantik terakhir. Dalam materinya, adik Pramoedya Ananta Toer menceritakan pengalamannya dan juga menyampaikan hakikat dirinya menjadi manusia.
“Setelah menempuh perguruan tinggi di Uni Soviet (Rusia) saya kembali ke tanah air setelah menerima gelar Doktor, setibanya saya di Indonesia saya langsung di tangkap atas tuduhan pro orde lama dan PKI karena saya tidak menghadiri tahlilan tujuh jendral yang mati pada peristiwa G30S, saya di penjara selama enam tahun tanpa pernah menempuh peradilan hukum. Di dalam penjara saya menemukan hakikat diri saya diciptakan sebagai manusia. Hakikat manusia seharusnya bisa menjadi manfaat pada dirinya, keluarga dan juga lingkungan sekitarnya. Itulah yang mendasari saya memilih menjadi seorang pemulung karena pemulung adalah sosok pembawa manfaat bagi sekitarnya,” bebernya.
Penulis : Ilham Hamsah (magang)
Editor : Suhairah Rasyid











