Menanti Realisasi Pancacita

Facebook
Twitter
WhatsApp
Foto bersama setelah pelantikan Wakil rektor (Warek) UIN Alauddin Makassar. Rabu (14/08/2019).

Rektor UIN Alauddin resmi melantik kabinetnya. Selanjutnya, realisasi pancacita pun dinanti civitas akademika lewat program kerja jelang ratifikasi.

Washilah– Rektor terpilih periode 2019-2023 UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis resmi melantik empat Wakil Rektor (WR) diantaranya, WR Bidang Akademik Prof Mardan, WR Bidang Administrasi Negara dan Keuangan Dr Wahyuddin Naro, WR Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof Darussalam serta WR Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga Prof Kamaluddin Abunawas.

Usai pengambilan sumpah, keempat wakil rektor akan merencanakan  pancacita yang diusung rektor sebagai program kerja. Prof Hamdan menyebut, perihal lima program (pancacita) yang akan digapai di bidang akademik.

“Pancacita saya di bidang akademik ada lima yakni, program studi, moderenisasi agama yang mengakar, publikasi yang aktif, jejaring yang luas dan data yang terintegrasi,” tuturnya (30/07/2019).

Sementara lima konsep lainnya di non akademik yakni kampus asri, bersih dan nyaman, tradisi yang terjaga, bisnis produktif, kesejahteraan yang meningkat dan alumni yang kompetif, Asia hingga Internasional.

Tak lupa, Prof Hamdan turut mengingatkan jajaran kerjanya harus memiliki program penguatan universitas, khususnya, penerbitan jurnal-jurnal teknologi pada kawasan Asia hingga International.

“Jadi, saya pikir dengan kepemimpinan kabinet baru yang terbentuk bersama Bapak/Ibu yang sudah dilantik tentunya kita bisa mengarahkan program kita yang sudah bisa bersanding dengan universitas lain yang ada di Asia. Dengan syarat, bagaimana universitas yang ada di Asia melirik kita, misalnya salah satu program yang akan kita wujudkan iyalah memulai konvensi di tingkat nasional,” ujarnya usai pelantikan kabinet rektor, Rabu (14/08/2019).

Ketua Dewan Mahasiswa Universitas (Dema-U), Junaedi menerangkan, tidak dipungkiri periode kepemimpinan baru ini tidak terhindarkan dari banyaknya masalah yang menuntut untuk segera diatasi. Seperti, akreditasi prodi, kurikulum pembelajaran, penelitian dan publikasi ilmiah yang minim, peninjauan besaran UKT, Drop out (DO) dini, dana kemahasiswaan yang cupul, bentrok horizontal, di kalangan mahasiswa, serta kerja sama yang tak nampak wujudnya.

Di sisi lain Junaedi juga menekankan perihal banyaknya tugas WR Bidang Administrasi dan Kemahasiswaan yang mesti dijalankan.

“Pekerjaan Rumah (PR) WR III sekarang perhatikan lembaga kemahasiswaan, fasilitas ditingkatkan dan anggaran harus dinaikkan. Itu yang harus diperjuangkan, untuk WR II peningkatan kualitas tenaga pendidikan harus lebih memadai dan dosen-dosen yang mengajar harus sesuai dengan disiplin ilmunya, itu yang harus ditertibkan,” jelasnya.

Selain lembaga kemahasiswaan dan tenaga pendidik, Junaedi juga menyinggung terkait infrastruktur yang mesti ditambahkan seperti gedung kuliah, hingga laboratorium yang mesti sesuai standar. Mengingat, akreditasi institut yang kini memegang predikat A.

“Bidang empat sebagai bidang kerja sama bagaimana ia bisa melakukan kerja sama yang benar-benar bisa dirasakan dan terlihat di UINAM sebagai hasil kerja sama pihak luar,”  tutupnya.

Menanggapi permasalahan tersebut, jajaran WR mengaku siap memperbaiki meski, program yang dicanangkan belum disahkan secara penuh melalui rapat program kerja pimpinan.

Prof Mardan dalam pernyataannya juga turut menyebut, lima program dibidang akademik akan ia upayakan berstandar Internasional. Seperti lingkungan belajar (The Learning Environment), yang inovatif, terencana, terukur dan terstruktur. Kedua program riset unggulan sebagai basis pengembangan keilmuan dibidang ilmu-ilmu eksakta, ilmu soisal dan ilmu keislaman yang salin terintegrasi dan terkoneksi.

Ketiga Menggiatkan kinerja pablikasi dan mendongkrat indeks sitasi kejenjang internasional agar produk riset dapat dikomsumsi oleh masyarakat global selanjutnya kampus peradaban akan menjadi bagian dari jejaring komunitas akademik global dalam konteks pembelajaran, riset, pengabdian kepada masyarakat, terakhir Transfer pengetahuan kepada khalayak luas melalui karya akademik yang dihasilkan melalui pembelajaran dan penelitian universitas.

“Semua berstandar Internasional pertama The Learning Environment, kemudian Research Publikation and cittions, international outlook, terakhir industry income,” ucapnya.

Sayangnya, Information Technology (IT) yang masih belum ter-updates serta keterbatasan SDM yang mengelolah menjadi masalah tersendiri. Mengingat, program ini mesti didukung fasilitas memadai.

“Tetapi tentu saya mampu melakukan inovasi jika didukung oleh SDM, yang saya sangat butuhkan yaitu IT. Fakultas sekarang IT nya lambat sekali, bagaimana perangkatnya sudah lebih 10 tahun padahal yang ada itu lima tahun harus diganti,” paparnya.

Masalah ini, bahkan disebut Prof Mardan sudah menjadi pembahasan sejak periode rektor sebelumnya, yang mana digitalisasi perlu dioptimalkan. Jika tidak, maka sistem di universitas akan terbelakang.

Eks dekan Fakultas Adab dan Humaniora ini pun berharap, agar nantinya, rektor bersedia menempatkan orang-orang ahli serta berpengalaman lewat Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M).

Di bidang yang berbeda, Dr Wahyuddin Naro justru merujuk kepada program yang sudah ada dan tak akan keluar dari visi misi rektor itu sendiri. Iapun berharap, bakal menuntaskan pembangunan sejumlah gedung yang sempat mangkrak.

“Kita berharap semua gedung bisa tuntas, bukan hanya rumah sakit, tapi juga gedung pascasarjana dimana selama ini pascasarjana selalu numpang,” katanya.

Polemik UKT-BKT yang tiap tahun dipermasalahkan, justru membuat Wahyuddin Naro enggan berkomentar terlalu jauh. Baginya, harus ada regulasi yang jelas tentang letak kesalahannya.

“Untuk UKT yang tidak sesuai, harus ada regulasi terlebiuh dahulu yang diberikan untuk dipahami dimana letak kesalahannya, karena kita bekerja harus sesuai dengan regulasi bukan dari pengalaman apalagi perasaan,” tegasnya.

Minimalisir DO Dini

Prof Darussalam sementara itu, menyatakan akan melanjutkan program positif yang sudah ditorehkan Prof Aisyah Kara selaku WR III sebelumnya. Terutama, soal DO dini yang akan terus diminimalisir.

“DO saya akan meminimalisirnya dimana tidak ada lagi DO di semester dua, kita akan memberikan kesempatan sampai semester empat, tapi itulagi kita juga membutuhkan regulasi,” imbuhnya.

Oleh karenanya, penting baginya untuk mengkaji regulasi tentang DO bagi mahasiswa baru dengan pemberdayaan penasehat akademik, dan menjaga koordinasi bersama wakil dekan bidang kemahasiswaan.

Baca juga Dilantik Menjadi WR III, Prof Darussalam Akan Minimalisir DO Dini

Metode ini pun menutut eks Dekan Fakultas Syariah dan Hukum ini, sebagai langkah strategis dalam menekan angka DO dini. Hanya saja, tahun ajaran yang sedang berlangsung membuatnya belum bisa mengeluarkan surat keputusan secara resmi dalam waktu dekat.

Cita Dr Kamaluddin Abunawas beda lagi. Dalam sesi wawancaranya dengan Reporter Washilah, Warek IV ini berambisi membangun relasi lebih luas bagi universitas, menerima mahasiswa asing hingga membawa institut ke tingkat internasional.

“UIN Alauddin harus memiliki  mahasiswa asing, paling tidak mahasiswa yang sekitaran dari Asia, hal ini agar kita mampu bertahan pada akreditasi A,” tuturnya.

Peningkatan kualitas pada sektor pendidikan, pengabdian serta penelitian  lembaga pemerintahan tingkat Asia sudah dirancang Kamaluddin Abunawas matang-matang dalam programnya.

Ia menargetkan, September ini program yang harus mulai jalan yakni menjalin kerjasama dengan seluruh PTKIN yang ada di Indonesia Timur serta mencari sumber beasiswa dari berbagai institusi untuk mahasiswa strata satu dan dua.

“Kerjasama dalam rangka pengembangan lembaga, karena bidang saya ada dua, yaitu kerjasama dan pengembangan lembaga,” lanjutnya.

Pesan Pendahulu

Tercatat, keberhasilan yang paling menonjol di kepemimpinan Musafir Pababari mengantarkan UIN Alauddin  menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di luar pulau Jawa, yang terakreditasi A.

“Hanya UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Bandung, UIN Semarang, UIN Surabaya dan UIN Malang. Luar biasa, tapi jauh lebih berat untuk mempertahankan hal itu. Sekarang ini bagaimana rektor bisa mempertahankan terlebih untuk meningkatkan,” ungkapnya.

Prof Musafir Pabbbari juga menekankan, perihal pekerjaan yang belum terselesaikan pada periodenya. Macam pembangunan rumah sakit dan gedung pascasarjana misalnya, jika tidak maka terancam mandek lagi.

Paling penting, ialah proses pencairan bantuan dana pinjaman dari Saudi Fund for Development (SFD) sebesar 640 Miliar.

“Kalau saya tidak salah, itu sudah di depan mata, tapi bisa gagal jika tidak diseriusi, bisa dialihkan kepada UIN lain yang lebih siap. Jadi harapan saya agar bisa diselesaikan. Saya kira Prof Hamdan pasti bisa melakukan itu. Saya berharap hal tersebut agar bisa terimplementasi tahun 2020 dan memang memerlukan kerja keras,” pintanya.

Penulis : Muhammad Fahrul Iras

Editor   : Suhairah Amaliah

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami