“Kalimat Usang” Oleh: Ardiansyah

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi: Yulia Saraswati

Sebuah kertas usang wakilkan jiwa yang gagah, dengan hasrat untuk menang.
Hasrat untuk senang, hasrat untuk bebas dan merasa terbang.

Dengan letihnya bapak pendiri dengan cita-cita indah. Berjalan dengan gagah, berdiri dengan megah, tanpa sedikit rasa gelisah, beliau lentangkan suara demi sebuah ikrar bangsa.

74 tahun sudah bangsa ini berdiri kokoh bagai kayu jati, 74 tahun sudah kita menikmati hembusan angin mammiri, dan 74 tahun juga kita menikmati keindahan pangkuan ibu pertiwi.

Namun tak ada yang mampu kita berikan, tak ada yang mampu kita tinggalkan. kita malah merampas, kita malah melukai, kita malah menghancurkan cita-cita muliah pendahulu bangsa.

Ketika tangis seorang anak di pelosok negeri tak mampu bersekolah, ketika saudara di ufuk timur berteriak meminta cahaya, ketika petani di kota memurung kehabisan tanah, kita hanya diam dan tak mampu melakukan apa-apa.

Merdeka! Kalimat yang telah berusia 74 tahun ini, nampaknya hanya terbatas pada ucapan belaka. Merdeka! Sebenarnya untuk siapa?

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Semester IV.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami