Penentuan UKT Mengundang Pilu

Facebook
Twitter
WhatsApp
Nur Kaimah (Kerudung Hijau) saat menceritakan hasil wawancara UKT/BKT yang ia alami kepada pengurus Lembaga Kemahasiswaan (LK), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di gedung Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Kamis (15/08/2019).

Washilah – Kamis, 15 Agustus 2019, jarum jam menunjukkan pukul 11: 10 WITA, pengurus Lembaga Kemahasiswaan (LK) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) mulai sibuk mengawal proses wawancara jalur Ujian Masuk Mandiri (UMM) di gedung Lembaga Penjaminan Mutu (LPM).

Panas menyengat menyaksikan antrian ratusan Calon Mahasiswa Baru (Camaba), sedang menunggu giliran tes wawancara yang menjadi syarat untuk menentukan kategori Uang Kuliah Tunggal / Biaya Kuliah Tunggal ( UKT/BKT) selama menjadi mahasiswa di UIN Alauddin Makassar nantinya.

Setibanya di kerumunan para Camaba yang kepanasan, terlihat salah seorang berjalan lemas keluar dari ruangan wawancara menutup wajahnya dengan menahan tangis.

Nurkaimah, salah seorang Camaba Jurusan Ilmu Ekonomi asal Biringbulu Kabupaten Gowa, mengaku tidak sanggup membayar UKT yang ia dapatkan dengan kondisi perekonomian keluarganya.

Jilbab hijau yang ia kenakan nampak basah oleh air mata, dengan nada tersendat-sendat ia menjelaskan hasil wawancaranya kepada pengurus LK yang sedang mengawal wawancara UMM.

“Saya dapat UKT II kak, baru saya tidak dibiayai sama orang tuaku, kakakkuji ini mau bantuka cuman tidak bisaki kalau tinggi,” ucapnya.

Tangisnya yang tak kunjung reda, dalam isak ia menceritakan kembali deretan pertanyaan yang dilayangkan pewawancara kepadanya.

“Apa pekerjaan orang tua? Orang mana? Anak keberapa?,” kenangnya.

“Ituji, langsung dikasi kategori II kak,” sambungnya.

Orang tuanya yang berprofesi sebagai buruh tani memutuskan untuk tidak membiayai pendidikannya, dikarenakan biaya hidup yang besar dengan penghasilan yang tidak menentu. Keinginan Kaimah sapaan akrabnya, untuk melanjutkan pendidikan pun gugur bak daun di musim semi.

Setelah menganggur selama setahun, kaimah akhirnya mendapat jalan untuk melanjutkan pendidikan melalui bantuan kakaknya. Kakak yang jauh ditanah rantau hidup sebagai buruh di salah satu ladang sawit di Kalimantan, mengumpulkan pundi – pundi rupiah untuk kehidupan keluarga dan adiknya, tak ingin menyianyiakan kesempatan itu, Kaimah mencoba mendaftarkan diri di salah satu kampus negeri di Makassar.

Usaha tak pernah menghianati hasil, Kaimah dinyatakan lulus di kampus Islam negeri terbaik di Indonesia Timur. Kaimah kemudian mengikuti segala rangkaian penerimaan Camaba. Namun, setelah tahap tes wawancara yang menjadi syarat untuk penentuan UKT/BKT semangat Kaimah untuk melanjutkan pedidikan pun kembali usang. Pasalnya, kategori II yang ia dapatkan dengan nominal 1.500.000 dianggap berat untuk ia penuhi, Kaimah bermohon mendapat kategori yang lebih rendah.

“Tidak bisa sekali mi kak, saya sudah jelaskan kalau orang tua saya tidak membiayai, katanya inimi minimal UKT II, karna masih lengkap orang tuaku, bermohonka di dalam kak nabilang tidak bisa masih lengkap orang tuamu,” tuturnya sambil terisak.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini terus saja mengeluarkan air mata ditengah kerumunan lautan manusia. Menjadikan ia pusat perhatian, pengurus LK terus mencoba menenangkannya dan mencari jalan keluar agar ia tetap bisa melanjutkan pendidikan.

22 Agustus 2019 adalah jadwal terakhir pembayaran UKT untuk Camaba jalur UMM, hari yang menegangkan untuk Kaimah yang punya cita-cita ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri.

Penulis: Reza Nur Syarika (magang)
Editor : Suhairah Rasyid

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami