“Tragedi Malam Minggu” Oleh: Ardiansyah

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok pribadi I risaldy.mirza

Sejuk udara berbalut embun, bintang membentang temani bulan yang mulai mematang. Suasana itu menjadi racikan khas, pemanis malam gemerlap yang membawa kita terlelap.

Mulutku sesekali menguap, apa karna faktor gelap?. Fikirku tak’ risih lagi akan kantuk yang begitu meluap, dia hanya fokus pada sebab yang nantinya menjadi akibat.

Jam mulai menunjuk keatap, detik demi detik bergerak menuju angka genap. Memang bukan waktu yang mantap untuk datang dan berbagi gelap. Tapi apa boleh buat, ini kemauan yang sudah sangat mendesak.

Dengan rambut rapi bekas kerimbat, kutancap motor dengan cepat, bagai seorang pembalap aku datang diwaktu yang tepat. Matamu sudah sangat memikat, membuat dahaga akan syahwat jadi sedikit berontak.

Tapi bisa kutahan… mengingat tuhan selalu memberi ganjaran, akan perbuatan yang sebenarnya mengenakkan. kufokuskan mata pada dirimu yang memang begitu menawan, seakan berangan aku bagai ditaman.

Entah berapa ribu rasa yang tertuang menjadi kata, membuat waktu terus berjalan menjadi tak terasa. Saat kudapati malam mulai menua, kudengar suara kasar dari pintu sebelah.

“Sudah jam berapa dek?” Saat dicernah oleh telinga, aku tertunduk bagai hewan melata, sembari mulut berkata “iya om… ini sudah mau pulang.”

Dengan rasa bersalah aku berbalik arah, menuju tempat semula membawa kenangan yang sedikit indah, jadikan malam yang merona sedikit lebih berwarna.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Semester IV.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami