Sungguh kasihan nasibmu
Si miskin yang memiliki harapan yang semu
Panas terik menyelimuti hari-harimu
Sepanjang malam kau mengigil karena kedinginan
Kebahagiaan yang tak kunjung kau temukan
Tak pernah mengenal dunia kesenangan
Hidupmu yang penuh akan penderitaan yang tak kunjung menjauh
Hidupmu bagai air mengalir tak berujung
Si miskin yang malang
Hati si miskin yang kaya
Penuh dengan beribu kata maaf
Senyum dengan hati yang selalu merintih
Kau kaya akan harapan
Kau hidup dengan Doa
Kepadanya kau mengadu
Tentang segala keluh kesahmu
Kau pemilik hati yang tulus dan kaya.
*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) semester II.











