Saat Ketakutan Melahap Keberanian

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi | Sigit

Oleh : Sigit

Pada momentum pascapemilu, selalu berlangsung budaya takut untuk berbeda, menyampaikan pendapat yang tidak sepaham dengan yang lain misalnya. Apalagi, melakukan dan melangkahkan kaki ke arah yang berbeda.

Sebab, terkadang manusia pada saat mendapatkan posisi jabatan dalam roda pemerintahan, timbul rasa takut dalam dirinya. Ada yang takut kekuasaan yang ia jalani tidak selancar dulu dan terlebih takut kehilangan kekuasaan yang telah ia jalani bertahun-tahun.

Bagi beberapa orang yang ingin menyatakan diri atas pilihan politik, amat mempunyai kekhawatiran. Sebab dalam praktik sehari-harinya, menyatakan berbeda dengan pemerintah sangat mengandung risiko. Keberadaan kita akan dianggap sebagai pembangkangan, perlawanan, atau sejumlah klaim yang bagaikan neraka.

Bukan hanya berbicara tentang ketakutan para kaum elite politik, berbagai macam wajah manusia juga memiliki ketakutan-ketakutan yang unik, misalnya seorang suami yang takut istri atau sebaliknya.

Lebih miris rasanya ketika melihat anak masih duduk di bangku sekolah tapi merasa takut kehilangan pacarnya. Mereka merangkai kata “Sayang” setiap harinya sebagai wujud kewajiban agar si pacar tak pergi dari dekapannya, sampai pada sesuatu yang tidak kita harapkan untuk terjadi adalah ketakutan kita bersama.

Bukankah kita tahu kalau rasa takut akan dikalahkan dengan keberanian? Ketika Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2011-2015, Abraham Samad dengan keberanian melakukan kegiatan pemberantasan korupsi, karena takut Indonesia akan hancur sebab masifnya kegiatan korupsi.

Ketakutan adalah hak milik budaya kita yang bersifat tradisional. Sejak kecil kita sudah dididik untuk patuh dan mengikuti perkataan orang tua, bapak/ibu guru, menaati negara, dan peraturan lainnya.

Alangkah indahnya kalau pola hubungan ketakutan itu kita ganti pelan-pelan dengan pola hubungan cinta, sayang, saling memahami, dan saling memberi ruang, betapa romantisnya realitas nasional kita andai seperti itu.

Ketakutan orang berbeda-beda, sama halnya kesukaan orangpun berbeda-beda. Namun, sejatinya manusia itu semata-mata hanya harus takut kepada Tuhan.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Manajemen Haji dan Umrah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester II.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami