Opini: “Muslim Dalam Lingkar Konservatif”

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber : Kompas.com

Oleh : Fadhilah Azis

Beda Negara, beda pendapat. Tampaknya pernyataan ini menjadi landasan kuat kenapa perlakuan terhadap orang-orang muslim  di negara minoritas memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Ada yang menghujat karena trauma, namun tidak sedikit yang juga menentang karena pengaruh pihak luar.

Pemboman Gedung WTC (Word Trade Centre) pada tahun 2001 menjadi titik awal terancamnya keberadaan umat muslim di Amerika  pada saat itu. Teroris yang menyatakan diri sebagai umat muslim menjadi momok yang amat menakutkan. Islam dipojokan, berbagai kecaman bahkan tuduhan tak berdasar sekalipun, seolah hak beragama mereka dicabut secara terang-terangan. Kini 15 tahun sudah berlalu, Osama bin laden ditembak mati namun diskriminasi kaum muslim di Negara adikuasa itu sayangnya belum juga berakhir.

Di Eropa lain lagi, Negara mereka tenang akan terorisme. Dari beberapa kasus yang bergulir mengenai pemboman hanya sekitar 2% pelaku yang mengaku sebagai muslim, sisanya adalah ras bahkan orang-orang yang anti islam. Tapu lucunya, islamlah yang kemudian menuai hujatan dan sikap tak pantas. Hak pekerjaan bahkan hak pendidikan menjadi sandungan tinggi bagi mereka yang mengaku Islam.  Pengaruh media, pihak luar, juga intervensi dunia politik disebut-sebut menjadi dalang utamanya. Menanamkan paham bahwa Islam mengajarkan sikap tak terpuji tanpa verifikasi sama sekali, hanya melalui pihak luar atau juga dari mulut orang-orang yang jelas kontra terhadap keberadaannya.

Negara matahari terbit yakni Jepang nampaknya sedikit berbeda, mayoritasnya memang kaum ateis, banyak yang enggan mengenal tuhan meski paham akan teori ketuhanan. Meski begitu, masuknya berita teroris yang menyangkutpautkan dengan Islam membuat mereka memiliki sudut pandangnya sendiri dan pengaruh itu tidak lantas merubah sikap mereka . Toleransi terhadap kaum beragama masih menjadi acuan tegas yang mereka terapkan, pun menempatkan hak kaum minoritas demi perdamaian masih menjadi hal wajib. Hingga mereka yang memeluk Islam disana juga masih tenang-tenang saja.

Pengaruh budaya setempat kadang memiliki andil besar terhadap persepsi masyarakatnya, terlena akan isu juga sudah lama mendarah daging di wilayah-wilayah tertentu. Propaganda yang dilakukan media juga sering mengalami kekeliruan dan dampaknya tidak main-main. Pihak yang terbawa adalah mereka yang paling merugi, dihujat bahkan diasingkan.

Tak hanya kamu muslim tentu saja, tapi ada banyak golongan yang sering mengalami tuduhan-tuduhan tertentu. Masyarakat seharusnya memiliki pedoman dalam menyikapi isu yang beredar luas. Bukan asal percaya lantas kemudian menghakimi tanpa dasar yang pasti.

Banyak dari mereka yang terpengaruh hingga sisi kemanusiaannya menghilang begitu saja. Kaum minoritas tetap punya hak meski kepentingan mereka seringkali dinomorduakan, toh selama etika dan norma suatu golongan masih dijaga maka sah-saja saja. Sejatinya, ketika kedewasaan bersikap diprioritaskan maka konflik berkepanjangan jelas bisa dihindari, karena membangun budaya masyarakat yang harmonis adalah impian semua orang.

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami