“Paradoks Spiral” Puisi oleh Ashari Prawira Negara

Facebook
Twitter
WhatsApp
(Sumber: artikel-sains.blogspot.com)

Menganggap apa yang ku tulis adalah sampah

meski itu bagian dari serpihan-serpihan kebenaran 
namun mata picik tetaplah mata picik
Aku seorang yang jujur, begitulah aku
Bukan karena aku ingin atau karena aku harus
Namun itu sudah mendarah daging
Bisa apa aku
Meski aku menapaki jalan pulang
persimpangan masih menghadang
Meski aku berharap hujan mendung tak kunjung datang
Meski aku ingin namun langit mengekangnya
Meski aku berusaha 
Domba tetaplah domba 
Dan tidak akan pernah melahirkan serigala
Harus apa aku
Spiral cahaya dan kegelapan saling mengikat di dalam jari jemariku, 
menuntunku menggores tinta emas diatas lembaran timah 
Apa daya, ditempatku Tuhan seolah tiada
*Penulis adalah Mahasiswa Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami