My first Overseas.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh | Muhammad Fathul Amin

Panorama dunia tidak ada puasnya unutk dinikmati oleh mata yang memeiliki iris yang berwarna hitam ini, ingin rasanya melihat segala sesuatu ciptaan tuhan diseluruh belahan dunia meskipun mustahil, kata-kata ini yang sering terbenak dipikiran saya, hari itu adalah hari penentu tercapainya impianku untuk berkelana ke luar negeri, pengumuman hasil seleksi Youth Ambassador Exchange Programe. Yang di adakan oleh AIESEC, setelah mengikuti berbagai macam test seleksi, akhirnya tiba hari pengumuman hasil seleksi, pengumuman hasil seleksi akan diumumkan melalui via E mail, awalnya saya tidak percaya dengan pengumuman itu, tapi setelah saya menanyakan ke teman-teman ternyata saya benar-benar diterima untuk menjadi exchange participant.
Benak ini tidak pernah berhenti berhayal untuk menginjakkan kedua kaki ini di negeri orang, waktu demi waktu berlalu saya harus melengkapi berkas-berkas seperti passport, visa dan tiket penerbangan ke luar negeri, Youth Ambassador Exchange Programe ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk memilih negara tujuan, dari 124 negara yang menjadi pilihan iris ini adalah negara yang sejarahnya tidak pernah dijajah oleh bangsa Eropa, selain tiket penerbangan yang murah saya juga ingin merasakan budaya masyarakat Thailand yang terkenal sebagai masyarakat yang sangat sopan dan ramah kepada semua orang.
Hati ini mulai berbisik kepada saraf dan memerintahkan badan ini untuk bekerja, kedepan saya akan mendapatkan pengalaman yang saya dambakan dari dulu, sungguh moment yang sangat bagus untuk dicatat dalam sejarah hidup ini. Yang paling penting untuk saya saat itu adalah Passport, hari yang akan melelahkan namun asyik, membuat passport atau dokumen penting ketika ingin berkunjung ke luar negeri, banyak orang bilang membuat passport itu gampang-gampang susah, gampang bagi orang yang memiliki keluarga atau kenalan di dalam instansi pemerintahan dalam hal ini departement imigrasi dan susah dilontarkan oleh orang yang tidak punya hubugan dengan orang dalam, seperti saya.
Hari pertama membuat passport, ada teman yang bilang kalo saya ini berani bicara dengan orang, ini menjadi modal saya untuk mandiri, tapi sebelum ke kantor Imigrasi, saya menyempatkan untuk mencari informasi tentag pembuatan passport terlebih dahulu, agar tidak kesulitan pas di kantor Imigrasi. Setiba di Kantor Imigrasi yang bertempat di daerah Daya, sebelum langsung masuk ke dalam kantor, terlebih dahulu saya membaca aturan-aturan yang berlaku untuk membuat passport dan mencocokkan dengan hasil bacaan saya dari internet, dan ternyata sama, Paspor bisa dibuat di semua kantor imigrasi di Indonesia. KTP anda Kab. Soppeng, Kab. Bone, Kab. Wajo bisa bikin paspor di Kota Makassar. Tidak masalah dimana pun anda berada, silahkan langsung datang ke kantor imigrasi, bawa foto kopi KTP, Kartu Keluarga, surat keterangan dari kantor (untuk bikin passport–bisa juga tidak perlu bawa surat ini), foto kopi dan asli Akte Kelahiran karena nama di passport harus sesuai dengan nama di dalam Akte Kelahiran. Biaya pengurusan paspor sekitar Rp 255.000-270.000 tanpa bantuan calo, dengan jumlah lembaran sebanyak 48 lembar, kira-kira 16 hari jadi dan umumnya anda datang 2-3 kali untuk pengurusan paspor tersebut. Kalo e-passport (eletronik passport harganya sekitar Rp 600.000).
Hari itu hari Sabtu, tanggal 23 November 2013, Sebenarnya saya sudah sangat terlambat untuk membuat passport, karena pihak AIESEC Thailand sudah meminta file scan dari passport saya, saya diberi waktu untuk mengirim file scan passport via E mail dalam waktu 4 hari, sedangkan passport saya bisa selesai sekitar tanggal 9 Desember 2013, dengan keterlambatan itu saya mencoba mencari cara membuat paaport tidak lebih dari 4 hari, setelah lama berfikir dan mencari cara, saya memberanikan diri untuk bertanya ke pihak kantor Imigrasi mengenai pembuatan passport dengan menggunakan jasa calo, karena mendesak terpaksa saya harus memberanikan diri mengunakan jasa calo walaupun itu tidak diperbolehkan dalam aturan pembuatan passport.
Orang yang menjaga loket memberi informasi mengenai itu dan saya langsung ketempat pengurusan passport yang cepat namun mahal menurut saya, setiba di ruangan, saya langsung ditanya mengenai harga yang akan dipasang untuk waktu yang cepat, ada 3 macam waktu dan harga yang bisa pilih untuk membuat passport, tipe pertama, tipe normal seperti saya sebutkan di atas, saya harus membayar Rp 255.000-270.000 untuk 16 hari, tipe ke dua, tipe ini saya sebut tipe medium yang dimana saya harus membayar Rp. 400.000-550.000 dengan jangka pengurusan passport selama 8 hari dan tipe terakhir atau tipe ke tiga adalah tipe expert yang dimana saya harus membayar Rp. 700.000-800.000 dalam jangka 4 hari, saat itu saya berfikir panjang kali lebar, disisi lain saya dikejar untuk mengirim file scan passport saya dalam jangka waktu 4 hari dan disisi lain untuk membuat passport dalam jangka waktu 4 hari saya harus membayar paling tidak Rp. 700.000, sejenak saya berbisik ke pada lubuk hati yang paling dalam, dan walhasil hati saya lebih memilih untuk tidak memakai jasa calo tersebut, dan mungkin pihak AIESEC masih bisa dinegosiasikan untuk jangka waktunya dengan alasan yang masuk akal tentunya, akhirnya saya memilih jalur yang normal untuk menghemat biaya dan tidak melanggar aturan yang ada. Setelah 4 kali pulang dan pergi ke kantor Imigrasi yang kebetulan dekat dengan alamat rumah saya, hari pertama mengambil nomor mengumpul berkas sesuai dengan yang saya sebutkan di atas dan mengambil nomor antrian, hari ke dua, saya membayar di bank BNI terdekat, hari ketiga saya diwajibkan untuk mengikuti wawancara dan pengambilan foto di kantor Imigrasi dan hari terakhir pengambilan passport.
Saya berharap, cerita ini dapat bermamfaat untuk pembaca, baik dalam hal inspirasi maupun informasi.
To be continue …… 
*penulis adalah mahasiswa BSI yang sekarang sedang berada di Thailand

  Berita Terkait

Rimpuh

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami