Makassar Kota Poster

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh Ardy
Ketika saya masih menempuh pendidikan di MA DDI-AD Mangkoso lima tahun yang lalu. Berita yang paling marak diperbincangkan  dikalangan masyarakat yaitu Global Warming (pemanasan global).

Ini terjadi dikarenakan rusaknya lapisan ozon sehingga matahari langsung ke bumi. Salah satu penyebabnya, karena banyaknya kendaraan dan pabrik yang menghasilkan asap sehingga merusak udara dan dampaknya merusak lapisan ozon. Udara semakin memanas sehingga es di daerah kutub pun semakin mencair. Kalau ini tidak diatasi. Tiga hari, tiga minggu, tiga bulan, tiga tahun, tiga puluh tahun yang akan datang kira-kira apa yang akan terjadi? Atau bumi ini akan tenggelam?
Upaya yang dilakukan para masyarakat dunia untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, maka dilakukanlah penanaman seribu pohon. Pohon bukan hanya penghias dan penjaga kelestarian lingkungan  tapi juga sebagai paru-paru dunia. Tanpa mau ketinggalan Gubernur Sulawesi selatan Syahrul Yasin Limpo dalam slogannya Go Green juga menghimbau masyarakat Sulawesi selatan untuk menanam seribu pohon. Bahkan di Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat UIN Alauddin Makassar pun tidak mau ikut ketinggalan melaksanakan penanaman seribu pohon.
Pagi yang cerah. Saya melintas di jalan A.P. Pettari  Rabu-01-02-2012 menuju kampus dua UIN Alauddin Makassar. Jalanan terasa sesak dikarenakan banyaknya kendaraan yang memadati  badan jalan. Namun tidak menurunkan niatku untuk menuju kampus. Hati ini terasa sangat sesak ketika melirik ke kanan. Pepohonan sepanjang jalan A.P. Pettarani dihiasi banyak poster.
Sempatkah kita memikirkan, sebenarnya pohon-pohon di kota Makassar banyak yang menangis. Hanya saja tangisanya tenggelam oleh deru knalpot kendaraan bermotor. Mengapa pohon-pohon itu menangis? Ternyata semua kesakitan karena terlalu sering dipaku. Kenapa dipaku? Karna digantungi poster. Poster apa? Poster orang-orang yang akan ikut pilkada.
Sebatan pohon meratap sedih.” Aduuh …!!! betapa sakit tubuhku. Sakitnya menjalar  dari ujun akar hingga ujun daun. Perutku ditancapi paku. Sekarang sudah infeksi, sudah bernanah. Sampai hati sekali yang memaku tubuhku itu. Apa dia tidak mengerti bahwa aku juga makhluk hidup. Aku juga bisa sakit dan bisa mati. Kenapa aku disiksa begini?
Aduuh…!!! benginilah nasib kami rupanya. Kami dijadikan alat oleh manusia-manusia egois tidak punya belas kasihan. Demi membuat mereka terkenal, aku dan teman-temanku  dijadikan korban. Huuh…!!! betapa sial nasib makhluk-makhluk yang tidak berdaya di negeri ini. Semakin tidak berdaya semakin diperlakukan sesuka hati. Rupanya manusia di negeri ini tega hati. Tidak peduli yang lain susah, yang penting diri sendiri senang. Kesenagan diperoleh dengan mengorbankan pihak lain.
Aduuuh…!!! aku menangis bukan hanya karena tubuhku sakit ditancap paku untuk menggantung poster-poster pilkada itu. Aku juga menangis karena sedih. Sedih karena negeri ini tidak diurus dengan baik. Negeri ini diperas dan dikuras . di hutan teman-teman kami disembelih habis-habisan. Tubuhnya ditumpuk-tumpuk lalu dijual ke mana-mana. Tidak peduli anak-anak juga dibabat habis.
Huuuhh…!!!  Di kota seperti ini katanya kami dijadikan sebagai penghias kota dan penjaga kelestarian lingkungan. Kami dipuji-puji sebagai paru-paru kota. Kami dijadikan slogan untuk mendapat piala. Kenyataanya kami diperlakukan tidak sepantasnya. Kami disakiti. Kami dipaku untuk menggantungi poster orang-orang yang mau berebut kuasa. 
Aduuuhh…!!! Kalau mau berebut kuasa jangan begini dong caranya. Pakailah cara-cara terhormat. Jangan menyakiti, walaupun kami hanya pohon. Kalau hak pohon saja sudah diambil seenaknya, bagaimana pula hak sesama manusia? Saya khawatir mereka berebut kuasa tidak jujur.”  Itulah sekilas ratapan sebatang pohon yang saya kutip di media cetak.
Pun saya teringat salah satu perkataan Kakanda Arianto Ahmad ketika mengikuti Paket Logika dan Filsafat, beliau mengatakan” kita ini jangan seperti kerbau yang disosok hidungnya, gampang digiring kemana-mana.”
Kita merasa bangga karena negara Indonesia adalah salah satu Negara paru-paru dunia. Mempunyai hutan yang luas sehingga bisa mengurangi polusi udara yang menyebabkan lapisan ozon rusak. Negara barat seperti Amerika mengkampanyekan penanaman seribu pohon utamanya di Indonesia.
Namun dibalik kampanye tersebut ada kepentingan yang tersirat. Buktinya, mereka yang mengkampanyekan penanaman seribu pohon akan tetapi aktivitas pabrik industri mereka  yang menghasilkan banyak asap semakin meningkat sehinga lapisan ozon semakin rusak.
Untuk mengantisipasi aktivitas industri mereka, maka Indonesia  dijadikan alat. Pemerintah menghimbau penanaman seribu pohon. Bahkan  daerah tempat tinggalku di jalan Barukang Raya (Pannampu) Makassar, jika ingin mendapatkan Beras Miskin (Raskin) maka harus menanam pohon di depan rumah masing-masing. Walaupun sebenarnya itu baik, akan tetapi  tanpa kita sadari kita dijadikan alat oleh pihak Asing untuk mengimbangi aktivitas industri mereka.
Jika pihak Asing memanfatkan Indonesia sebagai  alat untuk mengantisipasi perindustrian mereka maka pemerintah menjadikan pohon-pohon sebagai alat untuk merebut kekuasaan. Jika Ungu Band  dalam lagunya mengatakan Makassar adalah kota Daeng maka di kekinian Makassar adalah kota Poster.
Makassar Sabtu,11 Februari 2012

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami