Teka-teki Pada Awal cerita

Facebook
Twitter
WhatsApp

oleh Anugrah
Illustrasi
                Berawal dari sebuah rasa yang indah dan kekaguman sederhana, sukmaku menerawang ke alam nyata yang hampir beriringan dengan dunia fantasi yang setengahnya luput dari kenyataan.
Semua serasa hampir tak mampu terungkap dengan kata.  Setiap rasa hadir tanpa harus kutunggu, di setiap pengharapan seolah menjadi nyata karena kesempurnaan rasa yang menjadikan segalanya menjadi indah walau tanpa sebab yang pasti…
                Namun,  tak ada yang mampu menghalangi ketika sesuatu akan berubah dan berlutut pada  hukum alam.  Di mana ada pertemuan maka akan ada pula perpisahan, di mana ada kesenangan akan ada pula kesedihan, dan di mana ada kebahagiaan maka akan ada pula penderitaan, di mana ada semangat akan ada pula jerah, serta di mana ada kedamaian maka akan ada pula dera.
                Tatkala semua berubah, kalut, galau, jerah, luka, pilu, dan segala rasa yang sangat melukai relung hati ini.  Hadir beruntun tanpa harus kuminta, bahkan semua yang dulu terasa indah sontak jadi hal yang memilukan jiwa.
Bukan suatu hal yang tak mungkin lagi ketika semua kesempurnaan rasa yang dulu indah, perlahan menjadi kebencian yang terkadang tak mampu untuk kubendung… kepercayaan yang dulu hadir tanpa dinanti, perlahan memudar dan menjadi kekuatan untuk menolak segala sisi baik dari semua yang bahkan tak bersalah sedikitpun, semua jadi kena dampak kekesalan yang tak terarahkan lagi.
                Berawal-lah rasa ketidakpercayaan serta keraguan dalam setiap rasa yang menerawang di area sadarku.  Hingga tak ada lagi keyakinan akan cinta yang hadir menghampiriku.  Hingga hatikupun tenggelam dalam kekosongan yang tak berarti apapun dalam kesenjangan rasa yang ada setelah semua luka-luka yang pernah mencolek relung hatiku.  Hampir tanpa kusadari luka itu meradang dan semakin parah mendera hatiku hingga hancur dan melebur bersama kebencian…
                Waktu tetap terus berjalan. Detik demi detik tetap berlalu tanpa menghiraukan luka yang juga semakin menanah di dalam relung hati yang kosong dan hampa di tengah keredupan cahaya yang semakin mendekati mati. Semua berlalu begitu saja bersama kesumbangannya dan semua kehancuran yang semakin menjadikan rapuh dan mati…
                Prahara-prahara dan teka-teki yang menyelimuti dalam iringan langkahku, tak sedikitpun membuatku jerah dan kalah dalam langkah yang walau tertati sekalipun. Ada yang tak mampu kumengerti dalam diri ini…

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami