5 X 3 Meter Itu, Penuh Inspirasi

Facebook
Twitter
WhatsApp

* Edy Arsyad

Ruangan berukuran sekira 5 X 3 Meter, ruangan yang penuh dengan proses perjalanan Pers Mahasiswa di kampus UIN Alauddin Makassar, sebagai penyampai kabar dengan fungsi kontrol sosialnya, informasi, serta hiburan. tak seperti kondisi ruangannya yang  sumpet, sempit dan pengap, Ia menyimpan begitu banyak torehan kenangan. Disanalah saya, senior, dan adik-adik kami melewati proses yang panjang. Banyak kisah yang terukir dari ruangan itu.


     Membayangkan Redaksi Pers, apalagi Pers mainstream, tentunya kita membayangkan berderet komputer dengan unit yang banyak disertai bilik pembatas, bahkan satu unit komputer untuk tiap reporter, bahkan ruangannya di penuhi meja dan kursi untuk mendiskusikan apa yang akan di beritakan.  Tetapi bayangan itu pudar, bila kita melihat secara langsung kondisi kami, yang bergerak di Lembaga Pers Mahasiswa, yakni Washilah.

        Ruangan itu multifungsi, sebagai tempat rapat redaksi, diskusi, kajian, bahkan makan bareng dengan sejumlah crew lainnya, sebuah kebersamaan dari keluarga kecil Washilah. Berkisah tentang ruangan ini, tentunya masih teringat dimemoar saya Sekret washilah menjadi rumah dan kampus ke 2, disana kami diajarkan nilai kebersamaan dan persaudaraan.

     Canda, tawa, tangis, lapar, melawan deadline, bersilang pendapat, berkisah tentang masa lalu, kini dan masa depan, mewarnai hari-hari kami di secret itu.  Bahkan bercerita tentang cinta. Dan sesekali mendengar petuah senior yang bercerita tentang kondisi masanya, saat Ia menjadi pengurus di Washilah, akrablah ditelinga kami dengan kata “I nakke riolo” (Saya dahulu).

    I nakke riolo, Sebuah ke –Aku-an, dari senior. Maklum, kita sebagai JUNIOR, hanya menganggukan kepala sebagai tanda setuju, seraya memikirkan uraiannya tentang kepengurusannya saat itu. Tentu, menjadi perbandingan tentang kondisi washilah dulu, kini, dan yang akan datang, sekaligus sebagai petuah dan memotivasi adik-adiknya di Washilah.

    Washilah, menjadi bagian dari kehidupanku sewaktu mahasiswa. Berjibaku dengan realitas pemaknaan dan menuliskannya menjadi laporan, disinilah pengenalan awal mengenal dunia kata. Dunia Penulisan dan siaran, sebuah dunia yang begitu asing bagiku saat itu. Dibimbing secara otodidak oleh para senior, terjun kelapangan untuk observasi, menuliskan laporan observasi, hasil wawancara, dan di desain menjadi tabloid tentunya. Proses itulah, mewarnai rutinitas kami yang terjun di bidang Pers Mahasiswa. Tentunya, semangat idealisme lah yang menjadi nafas bagi Pers Mahasiwa, termasuk Washilah- untuk tetap bertahan untuk mengabarkan informasi kepada khalayaknya.

 News Room kami hanyalah sebuah ruangan yang dulunya Water Closed (WC) namun direnovasi dan disulap menjadi Studio Radio, menjadi salah satu ruangan yang sakral. Karena, diruangan itu selain crew dilarang keras memasukinya. Peralatannya pun sederhana, Mixer yang uzur dan komputer tua yang tak lagi mampu menampung lagu-lagu hits, karena kapasitas penyimpanan data komputer tak mampu menampung lagu-lagu.

        Tetapi studio itu, mengajarkan kami berproses dengan peralatan yang terbatas. Keterbatasan perangkat siaran, bukanlah menjadi penghalang. Toh, banyak spot serta jingle radio di buat distudio ini, tentunya merupakan kreatifitas crew washilah itu sendiri.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami