Membawa Toleransi Rusia Ke Samata

Facebook
Twitter
WhatsApp

Laporan | Andi Tenriawaru

Bertempat di Lt. 4 Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, berlangsung Kuliah Umum dengan tema “ Islam dan Hubungan Bilateral Indonesia-Rusia”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh International Office dengan menghadirkan Duta Besar Indonesia. Rusia Prof. Dr. Hamid Awaluddin.
“Kegiatan ini bertujuan positif bagi perkembangan hubungan bilateral Indonesia dan Rusia kedepannya, khususnya dalam mengupas perkembangan sejarah dan peradaban Islam di Asia Tengah”, tutur koordinator International Office yang juga Sekretaris Jurusan Ilmu Politik UIN, Kamis, (30/06/2011).

Dengan menggunakan kemeja biru tua polos dan dibiarkan tanpa dasi, penampilan mantan anggota KPU ini memberi kesan yang rileks dan nyaman bagi para audiens yang sebagian besar adalah mahasiswa, dosen, serta jajaran rektorat.
“Hubungan Bilateral Indonesia-Rusia telah berkembang dengan sangat pesat. Termasuk di dalamnya perkembangan Islam di Rusia,” tutur beliau yang akrab disapa “Syech Awaluddin” oleh para mufti di Rusia.
“ Hal ini ditandai dengan pertukaran mahasiswa antar kedua negara, keamanan yang terjamin bagi TKI, kerjasama perbankan syariah, manajemen haji, industri garmen dan pariwisata.” Kata Prof. DR. Hamid Awaluddin ketika menyampaikan kuliah umum di depan civitas akademika.

Hubungan bilateral yang semakin baik juga turut memberikan jaminan keamanan bagi warga Indonesia di Rusia yang selama ini dianggap “terlarang” menginjakkan kaki di bumi pertiwi. Kini mereka dapat kembali pulang dan bertemu dengan sanak keluarga tanpa ada tekanan politik setelah berpuluh tahun lamanya berpisah.

Tampak hadir Dirut PT Semen Tonasa, Sattar Taba (kemeja abu)
pada kuliah umum ini.

Sebagai Duta Besar Indonesia untuk Rusia, putra kelahiran pare-pare, Sulawesi Selatan ini menghimbau agar Indonesia senantiasa menjaga citranya sebagai negara dengan polulasi Islam terbesar dan paling toleran di dunia. Hal ini disampaikannya senada dengan maraknya aksi bom yang ditengarai dilakukan oleh kaum Islam radikal Rusia yang menuntut kemerdekaan (separatis). Namun ditengah hiruk pikuk anarkisme tersebut Indonesia tetap mendapat tempat yang baik bagi masyarakat Rusia sebagai muslim yang inklusif. Hal ini ditekankan oleh Bapak Hamid Awaluddin dalam petikannya berikut ini :

“Rusia akhirnya membuka diri kepada Indonesia, karena kita peduli pada mereka. Seperti itulah hidup, kepedulian kita pada orang lain akan membuka kepedulian orang lain kepada kita,”
Hamid Awaluddin.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami