Melongok Fenomena Kekinian Lewat Cermin Masa Lalu

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh Patawari, S,Hi.

Pada tahun 2004 saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa aktif di perguruan tinggi UIN Alauddin Makassar. Dipercayakan secara demokratis untuk menduduki posisi strategis dalam lembaga kemahasiswaan yakni sebagai ketua umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Awalnya saya berfikir bahwa apa yang akan saya lakukan tentu berdasarkan visi dan misi lembaga yang menjadi cita dan tujuan lembaga tersebut. Dimana lembaga tersebut berperan sebagi agen of change, agen of control, dan moral force. Sedangkan tugas-tugas yang senantiasa saya jalankan adalah lembaga BEM menjadi mediator, katalisator terhadap kepentinagn mahasiwa dan birokrasi kampus hingga pada pemerintahan.
Dalam perjalanan tentu tak begitu mulus, pelbagai situasi dan kondisi baik secara internal maupun secara eksternal dapat mempengaruhi visi misi lembaga. Paling tidak menjadi tantangan sebagai leader bersama jajarannya menjadi katalisator dalam mempertemukan antara kepentingan mahasiwa dan kepentingan birokrasi kampus hingga pemerintahan.
Adalah konsekuensi, dimana amanah terus dijalankan dan tidak redup oleh siatuasi dan kondisi yang begitu multi problem.
Yang sangat membekas sepanjang sejarah menjadi leader yakni ketika diperhadapakan dengan birokrasi pemerintah. Sebagai contoh ketika lembaga BEM ditutup ruang untuk melakukan gerakan aksi atau demonstrasi dalam menyikapi persoalan terutama korupsi yang terjadi di instansi pemerintahan seperti DPRD sulsel saat itu.
Selaku leader tentu tidak redup dan tidak habis akal dalam mencari solusi dan strategi di dalam mengawal sikap dan keputusan lembaga. Terutama sikap anti korupsi merupakan cita luhur yang harus dilakukan oleh seluruh elemen bangsa terutama mahasiswa. Maka strategi yang dilakukan adalah melakukan konsolidasi dan ekspansi di beberapa lembaga kemahasiwaan yang ada di Makassar.
Intrik, intimidasi, provokasi hingga memecah belah persatuan dengan teman lembaga dari berbagai perguruan tinggi, tentunya ikut mewarnai perjuangan tersebut. Tindakan tersebut adalah tindakan yang lumrah. Tidak menjadi alasan di mana mental menjadi “ciut”.
Sebab selain peran serta lembaga lain puluhan BEM se-Makassar ikut dalam barisan juga support dari birokrasi kampus terkhusus fakultas, menjadi semangat untuk melanjutkan perjuangan dalam memberantas korupsi yang ada di negeri ini. Hingga kasus yang lembaga kawal bersama puluhan lembaga mahasiwa ditangani oleh pihak yang berwewenang (kejaksaan).
Semangat yang begitu besar karena dukungan dan support birokrasi kampus dan lembaga mahasiswa lainnya terhadap gerakan yang dilakukan, dalam pemberantasan korupsi di negeri ini. Paling tidak lembaga yang saya pimpin menjadi besar dan ternama, dan terikat dengan Universitas yang cukup dikenal oleh seluruh kalangan.
Fenomena tersebut paling tidak menjadi sebuah gambaran bahwa dalam setiap gerakan dan program yang dilakukan mahasiswa di mana, birokrasi kampus tidak cukup dengan melegitimasi lembaga sebagai lembaga resmi intra kampus namun dibutuhkan support guna mensinergikan kebijakan lembaga mahasiwa dan kebijakan birokrasi kampus untuk melakukan sebuah perubahan di negeri ini.
Mahasiwa tidaklah dipandang sebelah mata oleh birokrasi kampus, mereka merupakan aset negara dan menjadi tanggung jawab dunia pendidikan untuk memberikan pendidikan yang terbaik. Birokrasi kampus haruslah intens untuk melakukan pendekatan dan komunikasi terhadap setiap kegiatan yang dilakukan mahasiwa, tidak justru mengkabinghitamkan mahasiwa atau menciptakan jarak dengan mereka.
Dalam konteks kekinian pandangan birokrasi kampus, pemerintah, hingga masyarakat secara umum dimana citra mahasiwa tidak begitu baik. Maka menjadi harapan seluruh elemen yang terkait untuk introspeksi dan duduk bersama untuk memikirkan mahasiwa kiranya citra mahasiwa bisa kembali baik dan dapat dipandang sebagai intelektual yang mampu meberikan kontribusi pada agama, bangsa dan negara.
Mahasiswa adalah harapan bangsa untuk melanjutkan tongkat estafet negeri ini. kalaulah pendidikan, bimbingan dan pelayanan yang diberikan kepada mahasiwa itu dilakukan dengan baik maka tentulah mahasiwa ketika kembali kemasyarakat akan memberikan kontribusi yang baik pula.
Tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan dalam dunia kampus sangatlah dinamis dan ini disebabkan bahwa karakteristi mahasiswa berbeda; ada yang idealis, patuh, “ugal-ugalan”, selalu menyinggung perasaan, moralitas, etika adalah bagian yang tak terpisahkan dalam dunia pendidikan, hal tersebut birokrasi kampus tidak justru melakukan pembiaran.
Dalam memikirkan dan menyikapi berbagai fenomena tersebut paling tidak mahasiwa kembali kekampus untuk belajar yang bukan hanya menunut untuk mendapatkan nilai 4,0 dan atau IPK cumlaude namun ia harus keluar dari kampus dengan predikat yang tinggi dan berbanding lurus dengan ilmu yang ia peroleh.
Kondisi saat ini citra mahasiwa dan lembaga pendidikan secara umum, di tengah masyarakat sangatlah memprihatinkan. Sehingga pencitraan, paling tidak mulai dari mahasiwa sendiri, dosen, birokrasi kampus, birokrasi pemerintahan dan seluruh masyarakat umum turut untuk memberikan kontribusi dan peduli terhadap pendidikan. Pendidikan tidak dapat dipandang sebelah mata. Ia merupakan pembangunan yang abadi. Tengoklah pelbagai negara-negara maju adalah tidak lepas dari dunia pendidikan yang baik pula.
Dari ulasan pengalaman penulis tersebut di atas paling tidak menjadi sebuah catatan bahwa kondisi dulu dan sekarang dalam dunia pendidikan terjadi sebuh pergeseran, negara seolah tidak lagi peduli pada pembangunan sumber daya manusia. Lebih mengutamakan pada pembangunan dengan mempercantik daerah dengan mengabaikan pembangunan yang sesungguhnya pembangunan adalah pendidikan.

Nama Lengkap : PATAWARI, S,Hi.
Tempat Tanggal Lahir : Bone, 15 Mei 1981
Alamat Makassar : Jl. Dg. Ramang (Km.16) Perumahan Gelora Baddoka Indah Blok A3 No. 16
Alumni : UIN Alauddin Makassar Fakultas Syari’ah
Pekerjaan : Mahasiswa S-2 Ilmu Hukum/Tata Negara UNHAS

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami