Menunggu Pete-Pete Sungguminasa yang Tak Kunjung Datang

Facebook
Twitter
WhatsApp

Langit yang mendung mulai disambut hujan yang rintik. Waktu itu sekitar jam tiga sore (21/10), Wiwin dan Mila masih betah di tempat ia berdiri, di pinggir jalan, tepat di samping lapangan bola UIN. “Kami menunggu mobil pete-pete sungguminasa,” ucap Wiwin. Namun yang mereka tunggu tak kunjung datang. Walhasil, dari setiap usahanya menunggu mobil tersebut, yang datang justru teman yang siap memberi tumpangan di motornya. Bahkan, ada yang rela sampai bonceng tiga.

Mobil Angkutan Kota (Angkot), atau Pete-pete (sebutan Makassarnya), dengan rute Terminal Sungguminasa-Kassi Kassi Antang memang sulit ditemukan di Kampus dua UIN, jika tak ingin dikatakan hampir tidak ada. Mobil tersebut melintas di jalan Poros Samata, tapi tidak masuk ke kampus UIN. Dari semua Pete-pete tersebut, hanya beberapa saja yang masuk, jika kebetulan penumpangnya ingin ke Kampus 2. Itupun masih sulit. Menurut wiwin, ada beberapa sopir yang tak ingin masuk, dan menurunkan penumpang tepat di perempatan jalan ke kampus UIN.

Satu-satunya pete-pete resmi yang masuk Kampus II adalah pete-pete UIN, yang rutenya dari kampus 1 ke kampus 2 lewat jalan Hertasning. Wiwin mengatakan, pete-pete sungguminasa-kassi-kassi itu dilarang masuk ke UIN. Ini juga dibenarkan Kiky, salah seorang sopir pete-pete tersebut. Kiky, saat ditemui washilah (25/10) mengatakan, “kita memang punya trayek itu sungguminasa-kassi, dan tidak masuk ke jalan menuju UIN. Biasa kita mau masuk, tapi dilarang sama sopir pete-pete UIN,” jelas Kiky. Pria ini ditemui washilah di perempatan jalan poros samata, saat ia sedang menunggu penumpang dari UIN.

“Padahal banyak mahasiswa UIN, yang tinggal di sekitar jalan poros samata. Mereka terpaksa naik mobil dua kali,” ujar wiwin. Rasanya “nanggung”, mobil sungguminasa hanya mengantarkan sampai di perempatan. Selain itu, biaya pete-pete tentu bertambah dua kali lipat. Jika dalam sehari mahasiswa merogoh kocek Rp.6.000 pulang pergi, tapi karena dua kali naik pete-pete, biayanya perhari bisa mencapai Rp.12.000. Dalam sebulan, mahasiswa menghabiskan kurang lebih Rp.240.000 untuk transportasi. Bandingkan, jika hanya sekali naik pete-pete. biayanya bisa berkurang menjadi Rp.120.000. Tentu mahasiswa bisa menghemat biaya untuk pembuatan makalah, tugas, dan keperluan lainnya. “UIN memang seharusnya menambah jalur pete-petenya, jangan hanya pete-pete kampus I-kampus II,” tambah wiwin. (hasbi)

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami