Oleh: Anugrah Ramadhan
Emannuel Macron sungguh payah, dia tidak secerdas Putin yang menguasai sosiokultural ataupun sejarah, juga tidak selihai Trump dalam menarik-ulur hubungan prinsipil dalam politik luar negerinya. Macron terlalu kaku dan serius, dia jelas hanya menunjukkan sikap spontan dan ceroboh terkait karikatur Muhammad di halaman depan majalah Charlie Hebdo pada Oktober silam.
Pernyataan Macron saat itu akhirnya membawa Perancis kembali terjerembab di serangkaian aksi teror besar dalam lima tahun terakhir.
Usai menjalani sebuah pertemuan di Kota Brussel, Belgia, November lalu. Macron menjawab cecaran para jurnalis yang mengepungnya dengan sigap, perihal pernyataan kotoversialnya yang menyakiti jutaan muslim di seluruh dunia. Dirinya bersikeras bahwa dia paham kemarahan umat islam, tapi juga tidak membenarkan kekerasan.
Ini membuat kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin sesorang berbicara tentang akibat tanpa melihat musababnya. Di sini terlihat bahwa Macron sebagai pemimpin, sepertinya tidak mau belajar dari krisis dalam negeri sebelumnya. Seperti upaya kudeta kaum oposisi yang menjadikan demosntran Rompi Kuning sebagai kuda troya, guna menggulingkan dirinya akibat kebijakan yang dianggap merugikan kelas pekerja pada akhir 2018.
Atau serangkaian aksi teror besar yang terjadi dari Januari 2015 atas penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang, lalu memicu serangan lanjutan secara terorganisir dan lebih brutal, yang merenggut sedikitnya 129 nyawa di tahun yang sama. Sungguh masa yang sangat mencekam bagi warga Perancis.
Kemudian di tahun 2016 di mana sebuah truk tronton menabrak kerumunan massa dalam perayaan Bastile Day dan menyebabkan 86 orang terbunuh. Hingga pada Juli 2018 seorang pastur Jacques Hamel dibunuh saat memimpin sebuah misa beserta satu jemaat lainnya. Serta dipenggalnya Samuel Paty oleh siswanya sendiri, usai memamerkan karikatur Muhammad di bulan Oktober.
Terakhir mencuatnya isu rasial yang dilakukan kepolisian Perancis terhadap warga kulit hitam belum lama ini, persis sama yang terjadi di AS beberapa waktu lalu.
Belakangan Macron tampak tidak senang dengan beberapa karikatur vulgar Charlie Hebdo, tetapi dia bersikukuh akan tetap menghargai kebebasan berpendapat di negaranya. Ini lucu, mengingat sosok mantan bankir tersebut pernah berpidato pada awal tahun, dia mengaku akan menjadi yang terdepan dalam menangani gerakan anti-semitisme di wilayahnya, dalam sebuah kunjungan di Yerusalem.
Barang ini sudah menjadi tumpang-tindih pasalnya Macron tidak mampu melindungi semua kultur-ras dalam kedaulatan bangsanya, sikapnya pada isu islam begitu dingin, sementara perkara holocaust berusaha diungkit-ungkit. Dari sana juga Macron baru saja meluncurkan rancangan undang-undang “separatisme islam” yang tentu akan merugikan penduduk muslim.
Macron sebenarnya punya banyak lembar pengalaman dan segudang taktik untuk menyelesaikan semuanya, tetapi dirinya memang betul-betul kalap. Dalihnya akan menjernihkan suasana, tampak justru menjadi bumerang dan semakin mengkeruhkan suasana, bahkan dalam level internasional.
Akan tetapi dari semua masalah kultural dalam negeri yang dihadapi Macron sejak mejabat, isu dalam negeri harusnya bisa menjadi modal utama dirinya untuk mencari posisi terbaik Perancis dalam mengambil alih eksistensi di panggung internasional. Mengingat peta kekuatan politik di kawasan Eropa kini menjadi milik Turki, yang perlahan bangkit dengan reformasi-religius ala Erdogan.
John Mueller dalam bukunya berjudul War, Presidents, and Public Opinion yang dirilis pada 1973 mengukuhkan sebuah konsep yang sebelumnya diperkenalkan ke publik oleh Richard Neustadt dan Kenneth Waltz, konsep tersebut dikenal dengan rally ‘round the flag effect. Konsep ini merupakan bagian dari variabel tidak terikat dan penentu dalam menunjang popularitas seorang presiden.
Mueller sendiri mendefinisikan rally ‘round the flag effect dalam tiga kriteria, yakni: peristiwanya yang bersifat global, melibatkan negara dan presiden secara langsung, serta berefek dramatis.
Atau sederhananya seorang presiden ketiban durian runtuh dari adanya peristiwa besar, karena keterlibatan negara yang “mau tidak mau” juga menyeret nama pemimpin mereka, baik prosesnya mebuahkan hasil atau tidak, itu tetap dapat mendongkrak nama seorang presiden serta memberi efek trust yang wajar.
Hal ini bukan isapan jempol belaka, contoh paling sederhana banyak teman tongkrongan dan saya sendiri yang baru mengenal siapa itu Jacinda Ardren setelah responnya terhadap penembakan di Christchurch, SB. Atau contoh lain, Awkarin! yah ini serius, di awal kemunculannya banyak yang benci tapi perlahan cemoohan justru membuat dia terkenal hingga menjadi influencer di kemudian hari.
Hal yang sama terjadi di beberapa generasi Presiden AS. Ketika serangan 9/11, George Bush memperoleh kenaikan popularitas secara signifikan dari warga ketika menginvansi Irak. Kemudian Jimmy Carter yang tenar pasca demonstran di Iran mengepung Kedubes AS di Teheran.
Lalu ada Presiden Nixon yang meraup reputasi positif dalam dan luar negeri tak lama usai menekan perjanjian damai yang mengakhiri perang Vietnam. Hingga masyhurnya nama Franklin Roosevelt pasca serangan Pearl Harbour yang secara langsung turut menyeret AS ke pertempuran berdarah Perang Dunia ke-II.
Diperkuat dengan penelitian John Oneal dan William Baker yang terbit di The Journal of Conflict Resolution menerangkan bahwa rally ‘round the flag effect memang sangat efektif menaikkan nama seorang presiden pasca peristiwa besar. Demikian juga dengan statistik yang dihimpun Gallup World Poll menunjukkan pola senada.
Kembali ke laptop, semua hal di atas harusnya bisa membawa nama Macron berada di puncak popularitas untuk meraup dukungan moril warganya dalam melawan balik masalah yang terjadi di dalam negeri. Terlebih Macron sendiri juga belum mampu membuat elit Perancis satu kongsi dengannya, apalagi setelah gerakan Yellow Vest yang masih menyisakan kekuatan oposisi.
Perlahan krisis dalam negeri di Perancis hanya akan bermuara pada elektabilitas Macron di Pilpres nantinya, yang menjadi pertanyaan adalah: apakah membawanya ke puncak kemenangan, atau justru terjun ke jurang kekalahan.
*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).











