Matamu, samudra paling luas yang pernah kutemui.
Yang tak pernah kutau apa yang tersembunyi didalamnya.
Izinkan aku memandangnya agar bisa kutelusuri luasnya samudramu sampai habis umurku.
Kutemui kamu dipengujung hari, bersama melepas cerita dan canda dibibir pantai berlatarkan langit jingga menuju malam.
Ini seperti ritual rutin yang kataku sudah terbiasa kita lakukan. Melepas hari sambil menatap senja dan berharap agar hal yang mengecewakan ikut tenggelam bersama dengan jingga-jingga itu, sehingga sepasang manusia dapat menikmati malam dengan tenang tanpa kegelisahan menyulut dihati.
Di sore itu aku menatap matamu, bertanya-tanya apa yang tersembunyi didalam sana? Apakah itu kebahagian atau kesedihan? Apakah itu tentang aku atau dia? Mungkinkah suatu saat nanti kamu akan mengejutkanku dengan hal-hal yang tak kuduga dibalik matamu yang dalam? Aku terus bertanya-tanya dalam diamku hingga senja mengalihkan fokusku, kuselami jingga sampai ketenangan mengalir didalam tubuhku.
Purnama yang lalu disaat kita menatap senja ditempat yang sama kamu berkata padaku “aku pernah bertahan untuk seseorang, memperjuangkannya sekuat tenaga tetapi saat suatu titik terang menyadarkanku nyatanya dia bukan perempuan yang ingin diperjuangkan,” saat itu aku sadar bahwa kamu telah memiliki kekhawatiran dalam memperjuangkan.
Aku tau maksud dari perkataanmu, kamu yang dengan tidak langsung mengatakan agar aku tidak melakukan hal yang sama seperti perempuan itu. Kamu yang pernah merasakan hal yang seperti itu dan aku tak akan mebiarkanmu merasakan hal yang sama.
Kamu yang berdoa agar tetap didekatkan dengan manusia yang baik, pasti akan mengalami yang namanya ditinggalkan dan meninggalkan, karena itulah jawaban atas doa yang kamu panjatkan kepada sang pemberi cinta.











