Oleh: Amalia Mahfira Ramadhani
Maulid Nabi adalah momentum mengenang kembali kelahiran Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan umat Islam yang jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah.
Masyarakat Muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, syair Barzanji serta pengajian. Terlepas dari sikap kontra sebagian kalangan terhadap kegiatan peringatan maulid, termasuk dalam tradisi membaca Barzanji, semua kegiatan tersebut tentu saja dilatarbelakangi oleh kecintaan yang mendalam dari umat terhadap baginda Nabi Muhammad SAW.
Menurut penanggalan Jawa, bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud yang kemudian acara muludan dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten, tradisi endhog-endhogan (telur) yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa-Using di Banyuwangi, Jawa Timur.
Sedangkan di Aceh, masyarakat Muslim selama tiga bulan akan beramai-ramai merayakan maulid nabi dengan memberikan makanan kepada keluarga atas rasa syukur terhadap momentun kelahiran Rasulullah yang telah merubah dunia.
Sebagai umat Islam, saya pribadi tidak menganggap spesial hari kelahiran beliau karena beliau sendiri tidak memerintahkan untuk mengistimewakan hari tersebut. Saya memandang maulid bukan sebagai perayaan namun sebagai peringatan. Dengan peringatan maulid yang diketahui bersama sebagai hari lahir Nabi Muhammad dapat menjadi momentum untuk meneladani akhlak, sirah dan perjuangan Rasulullah.
Perlu diketahui pula bahwa menurut pakar sejarah yang terpercaya bahwasannya yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah) Berdoa kepada Allah SWT agar bangsa ini dan seluruh masyarakat diberi keselamatan, kesejahteraan, keberkahan dan kebahagiaan.
“Musibah akan berakhir dengan do’a dan sedekah. Musibah akan tertolak dengan dzikir dan sholawat Nabi Muhammad SAW dan juga dengan memperbanyak istighfar” – Habib Umar Bin Hafidz.
Semoga pada momen hari ini, kita semua mampu mendapat syafaat dari Allah SWT dengan terus meneladani Nabi besar kita, Nabi Muhammad SAW.
Tepatnya 12 rabiul awal ia dilahirkan dari rahim seorang wanita mulia bernama Siti Aminah. Yang kemudian menjadi suri tauladan bagi seluruh umat.
“Kita memperingati maulid Nabi Muhammad SAW pada hari ini dengan berselawat kepadanya, seraya mengingat perjuangan beliau membawa kebenaran, tuntunan, dan teladan bagi umat manusia. Tuntunan dan keteladanan baginda Nabi SAW itu memandu kita dalam membangun Indonesia yang maju” kutip Presiden RI, Joko Widodo pada laman twitter nya.
Sesungguhnya Peringatan Maulid Nabi SAW bukan sekadar kegiatan seremonial dan rutinitas tahunan yang akan berlalu begitu saja tanpa memberikan perubahan sosial dan politik kepada umat Islam.
Momentum Peringatan Maulid Nabi Saw. hendaknya memberikan bekas dan pengaruh yang nyata dalam memperbaiki masyarakat menuju umat terbaik (Khaira ummah), sebagaimana firman Allah SWT:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
Hanya dengan itulah umat Islam dapat meraih kembali kemuliaannya yang hakiki, yang hakikatnya memang hanya milik mereka.
Momentum peringatan maulid nabi besar Muhammad SAW harus membawa pengaruh serta perubahan yang besar bagi umat beragama agar menuju ke kehidupan yang lebih baik, semoga kita tetap istiqomah dan selalu berada dijalan-Nya dalam mmperjuangkan apa yang telah di perjuangkan oleh baginda Rasulullah…
Allahumma shalli‘alaa sayyidinaa Muhammad
Selamat Memperingati Maulid Nabi SAW. 1442 H.
*Penulis Merupakan Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) Semester III.











