Oleh: Hafifa Yahya
Sebuah sumpah yang begitu populer pada eranya hingga saat ini, sumpah itu masih bergeming di hati dan jiwa pemuda masa kini dengan sumpah yang sering kita lentangkan dengan kata.
“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”
Tepat pada tanggal 28 Oktober 2020 para pemuda dan pemudi kembali memperingati Sumpah Pemuda ke-92, hingga membuat kita kembali dimasa lalu, dimana saat semua pemuda dengan segala kepandaian dan keberaniannya memperjuangkan segala sesuatu yang hak untuk Indonesia miliki terutamanya yaitu, Kemerdekaan.
Memperjuangkan kemerdekaan dengan jiwa muda membara yang mengalir dalam darah pemuda indonesia dari sabang sampai merauke. Pemuda dahulu menaruh harapan besar bagi pemuda yang akan datang untuk melanjutkan harapan-harapan yang besar demi indonesia yang lebih maju.
Sumpah pemuda menjadi penyatu yang begitu berperan besar, dengan ini semua pemuda berjuang untuk menegakkan keadilan bagi bagsa Indonesia. Dari sabang sampai merauke akan menyatukan suara untuk menentang suatu hal yang dianggap tidak adil dan akan berdampak buruk bagi kemajuan bangsa.
Bahasa Indonesia menjadi penanda bahwa dinegara manapun pemuda berada apabila mendengar bahasa indonesia suasana tempat itu akan mengingatkan kita akan tanah air tercinta.
Pemuda memiliki semangat yang begitu tinggi untuk melakukan perubahan. Beberapa energi terpancar ketika pemuda melihat suatu kejanggalan yang dilakukan oleh para pemimpin bangsa. Semangat akan perjuangan pemuda tidak akan berhenti dan akan terus ada.
Hingga saat ini para pemuda sedang aktif-aktifnya melakukan penentangan besar-besaran terhadap pengesahan UU Cipta Kerja, pemuda bekerja sama disetiap kantor DPR demi melakukan penolakan atas UU Omnibus Law dimulai dari cara tenang sampai dengan demonstrasi. Demonstrasi menjadi pilihan pemuda dipenjuru Nusantara dikarenakan cara penyampaian yang baik-baik tak didengar.
Dengan aksi pemuda yang sudah banyak dilakukan dimana-mana tak sedikit pun ada kata menyerah melainkan hanya ada kata lawan, hingga perjuangan tak akan ada yang sia-sia, walaupun DPR yang katanya dewan perwakilan rakyat sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan kelanjutan UU Cipta kerja.
Pemuda adalah harapan bangsa, berjuang profesional dibidang kemampuan masing-masing merupakan hal terpenting tidak mengedepankan ego dan tetap bekerja sama untuk memajukan bangsa ini.
Sebagaimana yang telah di katakan oleh bapak presiden pertama Republik Indonesia Soekarno Hatta, “Seribu orang tua bisa bermimpi tetapi satu pemuda dapat mengubah dunia”.
Maka sudah sepantasnya seorang pemuda menujukkan taring akan garis perjuangan, sebagaimana pemuda dahulu yang gencar berjuang dalam proses kemerdekaan Indonesia, hingga pemuda ada bukan untuk ditindas dan ada bukan untuk menindas, tetapi ada atas nama keadilan negeri.
*Penulis Merupakan Mahasiwi Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Semester V.











