Washilah – Saat ini tengah merambaknya Covid-19, terkait hal tersebut aktivitas perkuliahan pun dialihkan menjadi daring, karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk melakukan kuliah secara tatap muka. Namun kebijakan kampus yang masih simpang siur termasuk kebijakan yang ada di UIN Alauddin Makassar.
Melihat kondisi ini Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar mengadakan dialog daring part II dengan tema “Pengaruh Covid-19 Terhadap Kebijakan Kampus”. Dialog kali ini dibawakan oleh empat narasumber yang berlangsung melalui grup WhatsApp, Rabu (6/5/2020).
Adapun keempat narasumber tersebut yakni Agishna bidikrik Hasan selaku koordinator pusat Sema PTKIN nasional, Fahri Badina Nur, Ketua Sema UIN Alauddin Makassar, Aldi Nur Fadil, Ketua Sema UIN Malang, dan Dr Nur Syamsiah selaku Dosen FDK. Dialog ini diikuti oleh seluruh mahasiswa yang ada di Indonesia.
Ketua Sema FDK, Ikhsan Bayu Aji Saputra mengatakan tujuan diadakanya dialog ini untuk mengkaji dan menyelesaikan problematika mengenai masalah saat ini.
“Tujuan diadakannya dialog ini tidak lain dan tidak bukan untuk bagaimana senat mahasiswa FDK sama-sama mengajak kepada mahasiswa untuk mengetahui tentang problematika yang ada saat ini dan sama-sama mengkaji kira-kira apa cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini,” ucap Ibas sapaan akrab ketua Sema FDK.
Lanjutnya, ia menyampaikan Sema akan tetap ada, karena menurutnya masih banyak mahasiswa yang tidak mengetahui peran dari senat mahasiswa sendiri.
“Untuk membuktikan kepada seluruh mahasiswa bahwasanya sampai hari ini senat mahasiswa masih tetap ada dan memiliki power yang cukup kuat. Karena masih banyak di kalangan mahasiswa khususnya PTKIN tidak mengetahui peran dari sema itu sendiri.” lanjutnya
Fahri Badina Nur selaku narasumber berharap pimpinan kampus segera menanggapi dan memberikan informasi publik kepada mahasiswa terkait masalah yang ada.
“Saya berharap pimpinan segera memberikan informasi publik kepada mahasiswa agar tidak terjadi asumsi liar yang berbahaya, tentunya kalau cepat ditanggapi masalah juga bisa cepat selesai, namun kalau pimpinan lambat menanggapi segala bentuk tuntutan masalahnya akan lebih panjang dan akan lebih sulit lagi dan juga saya berharap surat yang kami layangkan minggu lalu bisa dijawab agar bisa secepatnya lembaga mahasiswa dan pimpinan bisa diskusi untuk mencarikan solusi yang terbaik dari masalah ini,” harapnya.
Salah satu peserta dialog, Junaedi yang merupakan eks Presma UIN Alauddin mengajak seluruh peserta diskusi untuk melawan dan berjuang.
“Atas nama mahasiswa melawanlah dengan gembira bersama api semangat juang. Jangan berjuang karena popularitas tapi berjuanglah atas nama kemanusiaan. Bakarlah semangat mu dan bunuhlah rasa takutmu, lebih baik mati dimedang juang daripada pulang dengan kekalahan,” ujarnya.
Penulis: Mutmainnah S. Sabrah
Editor: Rahmania











