Tasawuf Kopi dan Coklat

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi/ Epi Aresih Tansal

Oleh:Epi Aresih Tansal

Tulisan ini kudedikasikan untuk mereka pecinta tasawuf, terutama untuk dia seseorang yang telah menghilang namun pernah menjadi sangjaka dalam intuisi rasa, terindah dalam frasa, yang manusia sebut dengan istilah cinta. Sejenak mampir menyinggung batinku yang lama tidak tahu diri, membawaku mengenal Abu Nawas dan syairnya, membuatku betah berlama-lama membaca sajak-sajak indah Jalaluddin Rumi dan menitihkan air mata tersengat rohani dari kebeningan hati Rabiatul Adhawiyah menghamba kepada tuhannya.

Lantas mengapa mengait-ngaitkan tasawuf dengan kopi dan coklat, “apakah penulisnya sedang gila” bukankah kopi dan coklat itu sebelum terseduh di depan retina telah melewati banyak gonjang-ganjing sehingga sampai diseruput dengan nikmatnya oleh kita, betapa kopi dan coklat mengantongi filosofi dalam prosesnya sebelum berakhir di kita dalam candu.

Tulisan ini ada sebagai rindu yang kusampikan kepada sangjaka itu, dia yang tidak bisa hidup seharipun tanpa menyeruput kopi pagi sebelum memulai hari, sangjaka itu tidak pernah menghabiskan kopi buatanku, “tidak enak” katanya heheheh… setelah menyelesaikan amanah orang tua yang melepasku mandiri dan belajar, tibalah waktuku pulang untuk berbakti.

Kopi dan coklat yang kuseduh setiap pagi untuk mama dan bapak lambat laun mulai menggangguku, merongrong kepadaku agar mereka berdua ditulis kedalam sebuah karakter kata, entah diriku sedang berkhayal atau merenung, tapi jelasnya senyawa rindu itu selalu hadir dalam otakku setiap menyeduh kopi mengingat sangjaka yang suka melahap buku-buku tasawuf itu, semoga dengan menulis ini tidak ada ada lagi taazur rindu yang menguntitku kesana kemari.

******

Pohon kopi dan coklat sedari bibit tidaklah disentuh oleh tangan manusia kotor, meskipun yang membesarkannya adalah tangan-tangan pak tani dan bu tani yang dekil kumal habis-habisan berkeroyok dengan tanah di ladang, meski demikian tangan-tangan ini tidak tahu apa itu korupsi, dan mungkin saja kopi dan coklat ini berakhir di tentengan cawan kristal elite, para koloni teknokrat yang paham betul tata cara dan rukun korupsi tanpa ditodong KPK, rekan-rekan media dan publik.

Kopi dan coklat bukan sekadar komoditi yang hanya malang melintang dari garis demi garis strata sosial, entah itu lokasinya kaki lima hingga nuansa berbintang, kopi dan coklat tetaplah mudah dijumpai. Memang benar coklat dan kopi tidak membatasi usia, profesi bahkan peradaban, kopi dan coklat adalah andalan negeri ini seperti halnya rempah-rempah yang telah mengundang nestapa tiga abad silam, bengisnya kolonialisme yang kenyang menjarah kekayaan hasil bumi Indonesia, bahkan leluhur kita saat itu mungkin tidak pernah merasakan kenikmatan kopi dan coklat walau telah banting tulang kerja paksa layaknya budak tanpa upah, terlantar ditanah sendiri melarat dan meregang nyawa.

Sangjaka itu pernah mengetes pengetahuanku dengan bertanya “kenapa negeri ini tidak pernah bisa maju” kujawab “karena banyak orang pinter yang serakah” dia malah tertawa dan mengejek jawabanku yang katanya terlalu berapi-api dan menyalahkan pemerintah yang berkuasa, lantas dia menjawab “kita teramat menyepelekan masa lampau, melupakan sejarah dan tidak ingin berhikmah mengenal identitas diri dengan memahami sejarah bangsa.”

Dialog dengan sangjaka itu berlanjut, hobinya melalap buku-buku sufi, tidak kusangka dia curhat sebegitu banyak sebagai rakyat biasa kepada diriku yang juga bukan wakil rakyat, katanya bangsa yang lupa sejarahnya berarti lupa identitasnya, hingga mereka sulit percaya diri dan teguh dalam berpendirian karena kehilangan jati dirinya. Suatu kemajuan akan dipandang secara utopis dan pragmatis, padahal rasa sakit leluhur kita itu sangat mungkin jadi energi bergelora mewujudkan kesejahteraan ditengah kongkalikong janji keadilan sosial yang semu dari sebuah kesenjangan.

Bahwa “keberanian akan membuka banyak pintu” mungkin sedari sekarang anak muda kita menginstal keyakinan itu dalam berpikir, bangsa yang kurang percaya diri akan berada pada situasi pasif, coba lihat air bila tidak bergerak akan berlumut dan berbau, darah yang tidak mengalir menyebabkan stroke dan lumpuh, lalu mengapa harus menganggap upaya akan selalunya berakhir statis. Lantas apa hubungannya kopi dan coklat terhadap keragu-raguan bangsa ini?

Biji kakao terbaik menurut bangsa Eropa adalah yang tumbuh di daratan Indonesia, cikal bakal coklat nan lezat diakui dunia ada di negeri ini, tapi mengapa dua komoditi ini enggan untuk lebih lanjut dipertimabangkan, Jika bukan karena karya-karya para petani Bugis di Sulawesi Tenggara dan belakangan keterlibatan pemerintah Orde Baru, Indonesia tidak akan menjadi produsen terbesar ketiga kakao di dunia. sehingga sampailah pada akhir hikayah bahwa bangsanya hanya tau nikmatnya coklat semata. Sedang kopi lebih berprestasi ketimbang coklat, yang menjadikan Indonesia menduduki rengking kedua ekporting dunia. Berbicara perihal kopi Indonesia lah empunya cita rasa yang molek, tahu kita kopi luwak dan kopi toraja, sedikitnya sebanyak 23 kopi Indonesia menyandang penghargaan bergengsi pada tahun 2018. Lalu apakah kita masih tetap kurang percaya diri ? ….

Bertolak ke fisik dan rasa, meski berwarna pekat gelap yang hakiki, rasa kopi dan coklat tidak dipandang remeh sepanjang masa, jika proses kopi itu disamakan dengan hidup seorang manusia ada kesamaan dari segi tujuan untuk mengejewantahkan sebuah karakter. Ahli psikologi mengatakan pada dasarnya “karakter manusia dipengaruhi bawaan dari ayah dan ibunya”, tidak jauh berbeda dengan kopi, karakter rasa yang memiliki nuansa khas dari setiap varian dan jenisnya.

Lingkungan tempatnya ditanam dan tumbuh mempengaruhinya, halnya seseorang yang tidak mungkin terlepas dari pengeruh keadaan lingkungan sekitarnya. Proses aging kopi yang memakan waktu bahkan sampai bertahun- tahun akan menguatkan aroma dan karakter biji kopi, sama halnya dengan kedewasaan seseorang dimana pengalaman hiduplah yang mengajarkan segalanya. Biji kopi perlu roasting yang lama dengan suhu panas, sama halnya dengan manusia, proses kehidupan yang panjang dan diisi dengan lika-liku cobaan, sebab disitu hal terpenting yang membuat karakter keduanya kuat.

Sedang coklat diabadikan zaman sebagai simbol kasih sayang, simbol cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, dimulai pada era Ratu Victoria empat abad yang lalu, hingga kini coklat selalu menjadi simbol letupan dan debaran bahagia bagi mereka yang saling memberi rasa sebagai dua sejoli yang jatuh cinta. Kandungan Phenyl ethylamine, endorphin yang memberi energi dan menciptakan perasaan gembira, bahagia, dan euphoria.

Kopi menderai banyak teka teki bijak, menyoal hidup yang kadang dikutuk tidak adil bagi segelintir manusia pecundang, secangkir kopi panas mungkin bisa memahamkan kita dalam mencerna keadaan, kopi manis terkadang pula pahit, mari jalani kehidupan ini seperti menikmati secangkir kopi, minumlah dengan perlahan dan nikmatilah semua yang bisa di nikmati, maka kita akan mengetahui apa yang sedang terjadi.

Kita tidak akan pernah bisa lupa rasa pahit secangkir kopi, seperti halnya cinta yang tidak pernah lupa bagaimana rasanya dilukai, jangan terburu-buru dalam menjalani sesuatu hal, nikmati saja apa yang ada, seperti halnya meminum kopi. Nikmati pelan-pelan sampai benar-benar merasakan kenikmatan dari menghabiskanya, jalanilah hidup ini secara perlahan hingga kita tahu mengapa diri ini harus menjalaninya.

Kiranya kusampai pada sebuah kesimpulan, mengenal dia yang gemar melahap buku-buku sufi membawaku merenungi kopi dan coklat yang kuseduh sederhana setiap pagi, “apakah sekarang dia sudi mengabiskan secangkir kopi buatanku”, karena diriku sudah banyak berlatih sambil merenungi nasib dari kopi dan coklat yang sampai ketanganku setiap hari.

Deretan proses yang tidak nyaman dilalui kopi dan coklat sebelum berbentuk serbuk, coklat dan molekulnya teobromina, kata para ilmuwan sains yang rada mirip dengan kafeina, molekul kopi yang mengundang candu. Selamat menyeruput kopi dan coklat sambil berhikmah dengan dunia yang semu, fana sifat khalis kehidupan ini, jangan terlampau candu menikmati karena apapun yang melenakan itu entah kenapa membawa kita melupakan cara menerima sebuah kenyataan.

*Penulis merupakan Alumni Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK)

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami