Oleh: Ahmad Nur Iqbal Yusuf
Mugkin sebagian dari kalian sudah bisa menebak filter putih yang saya maksud ini apa. Ya itulah dia, rokok. Sejak memutuskan berhenti merokok dua tahun lalu menjelang tiga tahun ini, berat badan saya terasa meningkat, tentunya saya bersyukur. Baru kali ini mama bilang “badanmu naik nak”. Karena dulu hampir tiap kali saya pulang kampung dari tanah rantau (kuliah), mama selalu bilang.
“Kenapa kamu kurus nak?” Herannya.
Jawaban saya selalu sama.
“Karena memang sudah begini ma.” Pembelaan.
Saya berhenti jelas dengan alasan. Tepat dua setengah tahun lalu saya mendapatkan job sebagai salah satu tim dari suatu lembaga survei, penempatan di Luwu Utara, Kecamatan Baebunta, Desa Mekarsari Jaya. Awalnya di daerah Gowa tapi teman memberi tawaran untuk barter. Ya saya ambil saja kebetulan kabupaten itu belum pernah saya jejaki sebelumnya dan juga senang dengan perjalan baru.
Berbekal budget lima ratus ribu dari lembaga tersebut, saya dan kelima teman dari Unhas berangkat dengan bus pipos, demikianlah namanya. Perjalan dua belas jam dari magrib hingga pagi hari. Sebelumnya saya sudah menghubungi teman yang memiliki keluarga di Luwu Utara untuk berkenan menjamu saya, terpujilah ia Kak Herul. Beliau sangat baik hingga rela meninggalkan kerjaannya demi menemani saya ikut survei.
Hari kedua saya memutuskan untuk menginap di Masamba, rumah teman dari Unhas. Mengingat perjalanan ke Pincara, desa Kak Herul cukup jauh dan memberikan saran kepadanya untuk masuk kerja.
“Kak, biar saya saja yang pergi sendiri. Besok masuk kerja saja kak.” Pungkasku.
Pagi hari ditemani secangkir teh hangat dan buku Makamkan Dirimu di Tanah Tak Dikenal karya Mohamad Sobari dengan menghisap sebatang rokok, kejadian mengejutkan terjadi. Saya merasa ada yang aneh di mulut saat ingin mengeluarkan dahak. Cuhhh, Kaget bukan kepalang yang keluar adalah darah menggumpal.
Seketika itu saya membuang rokok yang baru dua batang saya hisap itu. Sejenak saya duduk dan menenangkan diri. Anak yang bermain kelereng di sampingku cuek saja. Hingga hari ini buku itu belum selesai saya baca karena merasa ngeri.
Hari itu mulailah kepanikan menyerang. Membeli sebotol air agar tak batuk dan dehidrasi. Survei saat itu terasa sangat menyebalkan dan dipenuhi ketakutan.
“Bagaimana kalau hari ini saya nanti mati di sini, di tanah yang tak dikenal.” Gerutu dalam hati.
Di desa Mekarsari Jaya, saya memilih untuk tinggal dan melanjutkan survei di hari ketiga. Saya diberi penginapan di rumah Pak Bambang. Beliau tinggal bersama ibunya yang sudah uzur. Saya melihat seorang anak yang berjuang membalas budi ibunya.
Malamnya saya batuk parah, Pak Bambang kaget melihat saya. Batuk yang tak ada henti dibarengi darah menggumpal. Saya berfikir mungkin malaikat Izrail akan datang menghampiri. Saya lantas melaksanakan salat tahajud memohon ampun dengan pesan kepergian yang sudah saya tulis di gawai.
Saya terbangun pagi hari. Malaikat Izrail mungkin tidak jadi datang, maka berkumpullah para tetangga Pak Bambang untuk menengok orang asing ini. Ada yang menawari kopi bubuk untuk saya makan. Ada pula yang memberikan obat kampung berupa cairan putih yang rasanya sangat aneh. Saya tidak bisa berlama-lama di sini, saya harus ke Makassar, bergumam.
Di desa Pincara, Kak Herul membawa saya ke Pustu. Pegawai tersebut hanya menyarankan untuk mengurangi rokok dan memberikan beberapa tablet obat. Magrib saya sudah meninggalkan Luwu Utara berbekal madu yang diberikan keluarga Kak Herul. Dalam perjalanan ke Makassar, saya tidak berhenti batuk darah karena hawa dingin dari AC bus. Kulihat darah yang keluar di kantongan putih bisa saya genggam dengan satu tangan.
Tiba di Makassar fikiran saya hanya ada satu, pulang. Tapi sebelum itu saya pergi ke Maros untuk berobat di rumah Puang Tunru, terpujilah ia. Beliau hanya bilang pergilah ke dokter lantas memberikan air zikir dengan biaya seiklasnya. Beliau diberi karamah dapat mendeteksi penyakit dan pengobatan dengan air zikir.
Tiba di Enrekang, saya sangat payah terasa berat badan mulai menurun. Orang tua langsung mengantarkan ke Unit Gawat Darurat (UGD). Mendengar diaknosa dokter memang membuat kita ciut. Tuberkulosis (TB) salah satu perbunuh nomor empat setelah Diabetes, Jantung, dan Stroke yang membuat saya batuk darah, artikel dari CNN indonesia.
Sedangkan menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2017, Indonesia menempati peringkat ketiga dengan tingkat kematian terbanyak setelah Tiongkok dan India akibat TB. Hasil rontgen menunjukkan paru-paru kiri saya tidak terlihat sebagian. Di situlah awal mula saya ketahuan merokok oleh orang tua, saya tidak bisa berkata banyak.
Di rumah sakit, batuk darah saya kambuh. Orang-orang sudah berkumpul. Orang tua, Om, Tante, Sepupu, dan adik saya menyaksikan apa yang sedang saya derita seraya tiap mereka mendekap dan menjabat tangan lalu berkata “Maafkan saya kalau ada salah.” Saya hanya bisa pasrah seraya berkata dalam hati, “Tuhan kalau mau ambil saya, ambil saja”. Tetapi berselang beberapa waktu dokter datang lalu menyuntikkan bius.
Saya menjalani pengobatan enam bulan dengan memakan obat merah dan kuning setiap hari, apabila terputus sehari saja maka bakteri yang ada dalam paru-paru akan kebal. Ada banyak pantangan yang harus saya hindari beberapa diantaranya rokok utamanya, memakai kipas angin, minum yang dingin, berkendara tanpa pakai pelindung dada, mandi malam dan ada beberapa lagi yang sudah saya lupa.
Di lingkungan saya, ada banyak orang yang masih merokok dengan alasan masing-masing. Ada yang ingin sekali berhenti tapi tidak sanggup karena sudah terlanjur kecanduan. Ada juga yang tetap merokok karena menganggap kita semua akan mati. Ada juga yang bilang merokok dapat membatu negara. Ada pula yang masih merokok tapi orang tua mereka belum memberikan lampu hijau.
Tidak sedikit juga yang bertanya kepada saya bagaimana cara agar bisa berhenti merokok. Saya jawab saja “sakit mako dulu!”. Mungkin kalau saya tidak diberikan penyakit itu dulu, bisa jadi saya masih merokok sampai sekarang. Saya sempat berhenti lima bulan kuliah waktu masih Maba, tapi mulai lagi karena teman banyak yang merokok.
Pandangan saya tentang rokok saat ini adalah silakan merokok tapi hargai juga yang tidak merokok. Memang rokok adalah komoditas utama penyangga kehidupan bagi petani cengkeh dan tembakau utamanya, semoga kalian tetap baik-baik saja. Belum lagi iklan rokok ratusan juta rupiah hanya sepersekian detik, tanyang lewat jam 10 malam yang membuat stasiun TV nasional kebanjiran cuan.
Rokok juga sudah banyak berkontribusi kepada negara, saya harus akui itu. Karena cukai dari rokok yang luar biasa jumlahnya dan juga perusahaan Rokok banyak menyumbangkan dana untuk berbagai macam kegiatan seperti beasiswa, sarana olahraga, event hingga fasilitas kesehatan. Tapi tahukah kalian kalau bos Sampoerna Yos Adiguna Ginting dan bos Djarum Robert Budi Hartono bukanlah seorang perokok?
Ada beberapa senior saya yang bercerita tentang kehidupan dengan istrinya yang sangat tidak menyukai rokok. Bagaikan Tom and Jerry, yang harus sembunyi untuk menghisap filter putih itu. Pesannya, “sepintar sejago sehebat apapun kamu kalau sudah berumah tangga akan tunduk dan taat juga pada istri.”
Ada juga banyak kampanye anti rokok yang dilakukan para pelaku kesehatan tapi menurut saya itu bukan menghentikan orang untuk merokok tapi hanya menyeimbangkan antara perokok dan bukan. Jadi kalianlah yang menentukan pilihan tetap merokok atau berhenti.
Saya selalu merasa ngeri bila mengingat atau menceritakan pengalaman ini, dan akhirnya saya menulis, tidak mau ngeri sendirian.
*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) semester X.











