Tentang Hujan dan Perjalanan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi | Ilham Aidil

Oleh : Ilham Aidil

Hujan baru saja reda, tapi rintiknya masih ada saat saya meninggalkan rumah menuju kampus UIN Alauddin Makassar. Saya mampir sejenak di gedung CBT untuk menyetor nilai ujian mahasiswa setelah itu saya memutuskan untuk memikirkan hendak ke mana. Saya pulang atau mengunjungi suatu tempat. Saya berteduh di bawah pohon kersen dari gerimis yang belum berhenti. Daun-daunnya meranggas merayakan musim hujan. Buahnya lebat dan mungil.

Hijau dan ada beberapa yang sudah ranum. Merah. Saat kecil saya senang memanjat pohon kersen untuk mengambil buahnya yang keci-kecil. Mesti berhati-hati karena rantingnya mudah patah. Saya bisa berlama-lama di atas pohon kersen sambil memakan buahnya. Hingga membuat teman saya yang di bawah menunggu pohon kersen jatuh di tangannya, saya lupakan. Nanti setelah memanggil nama saya baru saya akan melemparkan beberapa buahnya lalu ia tangkap.

Pohon kersen selain karena buahnya yang manis, juga bisa mempercantik pekarangan rumah agar kelihatan hijau dan hidup. Tanaman ini juga bermanfaat untuk kesehatan kulit dan mengobati asam urat. Saya memutuskan mampir di sebuah warung kopi, saya memesan segelas Thai Tea. Saya mengeluarkan laptop dari ransel saya dan menyalakannya. Saya bingung mesti menulis apa untuk project selanjutnya. Saya hanya memperhatikan layar laptop dan tuts-tuts keyboard. Sepuluh, duapuluh, tigapuluh menit berlalu. Tidak ada satu kata pun yang berhasil saya tuliskan sedang beberapa rencana tertuang di benak saya tapi saya tidak mampu menuliskannya.

Saya mencari informasi di internet tentang bagaimana membuka cerita atau tulisan dengan baik. Beberapa web saya buka. Saya membacanya sepintas. Rasanya tetap saja membosankan. Saya mengalami pesimisme. Saya mencoba merangsang ide-ide di kepala saya dengan mendengarkan lagu sambil menyeduh secangkir Thai Tea. Akhirnya saya menemukan apa yang mesti saya tuliskan. Tentang teh. Thai Tea bisa dikatakan minuman yang baru trending beberapa tahun belakangan. Rasa dan aromanya enak.

Mantap diminum dalam keadaan dingin ataupun panas. Karena kebetulan hujan dan dingin. Saya memesan yang panas. Warnanya berubah oranye saat saya menambahkan susu. Tampilannya menarik dan unik. Lembut.
Thai Tea mulai popular terlebih di kalangan millennial, sebuah varian tea dari negeri Gajah Putih yang telah digemari di Asia Tenggara dan kini dinikmati hampir di seluruh negara di dunia.

Di Indonesia sudah banyak dijumpai retail Thai Tea. Termasuk di Makassar. Sangat mudah didapatkan. Di pinggir jalan, di warung kopi, dan restoran-restoran sudah banyak dijajakan. Harganya juga terbilang murah. 5-20 K.
Saya termenung sesaat. Saya mengambil sebuah buku dari ransel. Tanpa membaca, otak tidak akan mengalami perkembangan dan pikiran menjadi sempit. Saya membawa buku setiap saat di ransel saya, hanya sekadar berjaga-jaga dari kebosanan. Saya hanya membuka lembar per lembar tanpa membacanya dengan baik.

Hanya memperhatikan bagian-bagian tertentu. Saya kadang membuka halaman secara acak. Sekadar melihat-lihat isi dan huruf-huruf yang disusun menjadi paragraf yang panjang. Buku yang tebal lebih dari 400 halaman. Pater Pancali- Tembang Sepanjang Jalan yang dikarang oleh Bibhutibhushan Banerji, yang diterjemahkan oleh Koesalah Soebagyo Toer. Bacaan itu termasuk ringan sebab ia dikemasl dengan bahasa yang mudah dicerna. Itulah mengapa kehadiran sastra menjawab kehidupan yang rumit itu menjadi mudah untuk ditelusuri ruang-ruang yang tidak terlihat dalam kehidupan.

Mengurai benang-benang kehidupan yang sulit menjadi sederhana. Iya. Saya menyukai sastra. Dengan sastra saya merasa mempunyai kehidupan lain. Ada alasan saya untuk tidak menyerah dengan kehidupan. Saya hidup. Saya merasakan napas yang lebih panjang. Kata Pram, “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”

Di kursi berkaki empat yang cukup tinggi, saya kembali mengamati hujan yang turun perlahan dan mengobati rasa rindu dari kemarau yang begitu panjang. Beberapa orang pengendara motor mampir berteduh di bawah pohon mengenakan jas hujan. Beberapa lagi berteduh di teras-teras rumah mungkin karena lupa membawa jas hujan atau karena tidak memilikinya.

Hujan memiliki keajaiban, cabang-cabang pohon penuh dengan daun-daun hijau yang tidak terhitung jumlahnya. Tanah mulai diselimuti rumput-rumput hijau. Semerbak bunga-bunga yang bermekaran mengibarkan musim yang indah. Beragam tafsir kehidupan muncul dengan sendirinya. Dan nampaknya saya bisa menulis saat musim hujan. Hampir naskah yang saya tulis semuanya berawal saat hujan sedang turun. Barangkali itu salah satu keajaiban mengapa Tuhan menciptakan hujan untuk orang seperti saya.

Kita adalah perjalanan dari sesuatu ke sesuatu, dari satu hari ke hari yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu ruang ke ruang yang lain, dari satu kesedihan ke kesedihan yang lain, dari satu kebahagiaan ke kebahagian lain, dari suatu harapan ke harapan yang lain. Demikianlah hari-hari yang terlewatkan. Hari, bulan dan tahun dan kita memberi warna dengan cara kita sendiri untuk setiap perjalanan. Untuk setiap perubahan. Dan semoga kamu tidak berjalan dari kesedihan satu ke kesedihan yang lain.

Penulis Merupakan Pengajar PIBA Bahasa Inggris UIN Alauddin Makassar.

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami