Oleh: Muhammad Kasim
“Ledakan besar berawal dari letupan-letupan kecil” sebuah kata inspiratif penuh makna, terkhusus pada golongan muda yang menjadi tonggak dan kekuatan terbesar dalam konstruk peradaban. Pemikiran yang beraviliasi dengan tindakan setidaknya mampu menjadi titik hegemonik pada kesadaran diri tiap pemuda.
Terbangunnya kesadaran para pemuda tentu akan melahirkan sebuah gerakan-gerakan yang bermakna. Di sisi lain ini menjadi ledakan besar yang membuat kehadiran pemuda sangat terasa dalam lingkungan masyarakat itu sendiri. Pada akhirnya, pemuda sendirilah yang mampu membangun kesadaran kolektif antara golongan muda dan golongan tua dalam fase-fase kemajuan masyarakat.
Pemuda itu harus seperti tumbuhan bakau yang dilempar ke manapun dan dalam keadaan apapun itu akan tetap tumbuh, bukan malah menjadi pemuda yang dilempar ke partai apapun atau paslon apapun akan tetap tumbuh subur. Karena pemuda terlalu murah ketika harus menukar semangat kepemudaannya dengan kekuasaan. Teringat pada sebuah satire yang sedikit lucu namun berkesan “lebih baik merawat oligardan dibanding merawat oligarki.” Jadi pemuda tak seharusnya menjatuhkan pilihan untuk merawat dan membesarkan oligarki.
Sebuah pengetahuan yang akan menggerakkan peradaban, maka penting kiranya gerakan-gerakan pencerdasan itu harus dibangun sejak dini dalam masyarakat. Agar tak meluluh kita dijajah oleh bangsa asing maupun bangsa kita sendiri, baik itu secara pemikiran maupun secara praktis. Karena pemuda adalah pemuja pengetahuan dan rakyat bukan pemuja kekuasaan.
Di momentum sumpah pemuda ini semoga menjadi awal dari gerak kecil membangun kesadaran secara lembut dan sopan. Ali Syariati mendaku bahwa terbentuknya masyarakat itu adalah kerena mereka memiliki kesamaan rasa. Jadi mari membangun rasa yang sama itu kembali untuk kemajuan masyarakat Indonesia. Ego individu tak seharusnya bermuara di masyarakat, karena itu hanya akan menghadirkan konflik horizontal yang sama sekali minim solusi.
Tiga butir sumpah pemuda itu telah menjadi bukti dan kesimpulan dari sikap para anak muda bahwa dia mencintai tanah air yang di dalamnya ada manusia yang memiliki kesamaan kedudukan di hadapan Tuhan. Maka anak muda seharusnya memberikan bukti nyata bukan malah terbatasi dan berpuncak pada kata-kata di media sosial saja. Karena kita bukan pemuda melankolis tetapi pemuda melawan ilusi.
*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester IX.











