Washilah — Pemilihan Mahasiswa (Pemilma), Presiden mahasiswa (Presma) UIN Alauddin Makassar 2026 memasuki babak baru. Kontestasi tahunan ini hampir saja diikuti calon tunggal setelah Lembaga Penyelenggara Pemilma (LPP-U) mengumumkan hanya satu orang yang lulus seleksi.
Namun, pada Kamis, sekitar pukul 18.00 (22/1/2026) LPP-U mengeluarkan maklumat dengan pernyataan berbeda. Kedua bakal calon lain yang awalnya dinyatakan gugur juga diluluskan.
Pada Kamis (22/1/2026), sekitar pukul 01.00 dini hari, LPP-U mengumumkan hasil tes BTQ dan wawancara pada insta story akun resminya. Isinya menuliskan hanya 1 bakal calon Presma yang lolos.
Pasca pengumuman itu, bakal calon yang dinyatakan gugur tidak menerima hasil tersebut dan mengajukan keberatan.
Sekretariat LPP-U yang berlokasi di Gedung Rektorat UIN Alauddin lantai satu pasca pengumuman kelulusan ramai oleh mahasiswa. Mereka adalah para pendukung bakal calon yang dinyatakan gugur.
Situasi sempat memanas akibat perdebatan para pendukung terkait penolakan gugatan salah satu bakal calon yang ingin mengulang tes BTQ dan wawancara.
Hingga sore hari, tidak ada keputusan jelas terkait hasil seleksi yang digugat.
Salah satu calon yang dinyatakan tidak lulus tes BTQ, Naufal mengatakan, penilaian tes berlangsung subjektif dan rentan terhadap intervensi luar. Menurut dia, seharusnya ada akumulasi nilai antara tes BTQ dan wawancara, bukan pengguguran secara sepihak.
”Tes baca tulis Al-Qur’an harus diulang karena subjektif cara penilaiannya yang saya rasa, dan bisa jadi berpotensi bisikan halus yang masuk dari luar. Seharusnya tes BTQ dan wawancara itu diakumulasikan, kecuali pakai kata ‘atau’. Tapi ini ada tiga tim penilai, seharusnya diakumulasikan. Saya rasa seperti itu,” ujarnya.
Atas gugatan ini, Ketua LPP-U, Rizkiyah menjelaskan bahwa permintaan untuk melakukan tes ulang tidak dapat dipenuhi karena tahapan tersebut telah melewati batas waktu yang ditentukan dalam agenda Pemilma.
”Alasan kami menolak tes ulang BTQ karena kami tak punya jadwal tes ulang. Kenapa kami setuju dengan penggugat, dia hanya ingin memvalidasi saja dengan catatan tidak ada perubahan dengan nilai tes pertama,” tuturnya.
Proses validasi nilai, kata dia dilakukan di Ruang Wakil Rektor, meski pimpinan universitas sedang tidak berada di tempat.
”Kami mengerjakannya di Ruang Wakil Rektor dan posisinya tidak ada pimpinan sama sekali di atas karena ada rapat kerja di hotel jadi kosong, dan memang kami pure tidak ada ikatan siapa pun terkait verifikasi,” jelasnya saat ditemui di Sekretariat LPP.
Ia menyebutkan perolehan nilai masing-masing kandidat yang mencalonkan menjadi Presma berdasarkan data hasil tes LPP-U.
”Kandidat pertama Aqil Abdan Syakuran memperoleh nilai 80.75, Muhammad Naufal Mahdani dengan skor 64.25, dan Muh Ardy Anugrah dengan skor 58.75,” katanya
Berdasarkan standar yang sudah ditetapkan, memang dia calon tidak memenuhi syarat.
”Sudah mi kita liat tadi juga itu adalah bentuk transparansi. 66 adalah syarat kelulusan yang ada di juknis Pemilma 2026 dan liat mki postingan sudah disosialisasikan,” ucapnya.
Selain teknis penilaian, Naufal juga mengkritik integritas penyelenggara terkait waktu pengumuman verifikasi berkas yang dilakukan pada dini hari.
”Pengumuman verifikasi berkas dilakukan pada jam 1 malam. Ada apa? Seharusnya jam operasional LPP-U itu dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Lewat dari itu seharusnya dihentikan untuk menjaga integritas. Ini justru mencederai integritas mereka sendiri,” tambahnya.
Naufal menduga adanya kepentingan luar yang mendikte keputusan penyelenggara. Dia berharap agar LPP-U tetap independen dan tidak menggugurkan kandidat hanya melalui proses pemberkasan atau tes yang dianggapnya tidak transparan.
Pada hari yang sama, Kamis, sekitar pukul 18.00 WITA, LPP-U melalui akun Instagram mengeluarkan putusan bahwa ketiga bakal calon dinyatakan lulus.
Ketua LPP-U, Rizkiyah saat ditanyai mengapa ada perubahan putusan tidak memberikan jawaban pasti.
Ia mengaku, pihaknya masih melakukan diskusi internal guna menindaklanjuti hasil verifikasi berkas bakal calon yang telah beredar luas.
”Menindaklanjuti hasil verifikasi berkas yang telah beredar, saat ini kami masih dalam tahap diskusi internal untuk menyampaikan informasi lebih lanjut kepada umum. Untuk hari ini, tidak ada agenda Pemilma dari LPP-U,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui Whatsapp, Jumat, (23/1/2026).
Dirinya menambahkan, pihak universitas akan menjadwalkan agenda mediasi yang mempertemukan para calon dengan pimpinan universitas.
”Akan ada mediasi calon bersama pimpinan universitas, (dan para calon sudah tahu itu). Harap menunggu informasi,” ungkapnya.
Penulis: Gholib Al Hakam (Magang)
Editor: Hardiyanti











