Festival Pers LPMH Unhas Bahas Peran Pers Mahasiswa

Facebook
Twitter
WhatsApp
Pemaparan salah satu pemateri dalam sesi Talkshow pada Festival Pers yang diselenggarakan LPMH Unhas di Creative Hub (MCH), Makassar, Minggu, (16/11/2025). | Foto: Washilah-Gholib Al Hakam (Magang).

Washilah — Lembaga Pers Mahasiswa Hukum (LPMH) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar Festival Pers LPMH-UH 2025 dengan mengusung tema “Jurnalis Aksi: Dari Pena ke Jalan.” Berlangsung di Creative Hub (MCH), Makassar, Minggu, (16/11/2025).

Festival Pers ini juga dirangkaikan dengan sesi talkshow yang menghadirkan dua narasumber, yaitu UKPM Unhas, Alicya Qadariyyah Ramadhani Yaras dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar, Didit Hariyadi.

Dalam Sesi Talkshow ini membahas tentang strategi dalam menghadapi tantangan dan risiko sebagai jurnalis aksi, khususnya dalam lingkungan pers mahasiswa.

Alicya Qadariyyah Ramadhani Yaras, menyoroti pentingnya solidaritas dan kolaborasi antarmedia melihat kondisi pers mahasiswa saat ini yang sangat rawan akan represi untuk melindungi pers mahasiswa dari tindakan represi.

“Hal pertama itu adalah solidaritas terhadap sesama media pers, menjalin jejaring dan pola kolaborasi bersama media-media yang mempunyai keberpihakan kepada pers mahasiswa,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa sebagai seorang jurnalis, pers mahasiswa harus dapat membaca risiko dalam peliputan yang berpotensi menimbulkan intimidasi, meskipun sulit diprediksi.
Lebih lanjut, Ia juga menjelaskan bahwa peran pers mahasiswa itu sebagai garda terdepan dalam menyampaikan informasi yang tidak terdengar di kampus.

“Pers mahasiswa harus berbeda dari humas kampus yang hanya memberitakan hal-hal seremonial saja seperti pengkaderan dan pelantikan. Pers mahasiswa lebih dari itu,” ucapnya.

Dia menegaskan bahwa pers mahasiswa berfungsi sebagai teropong untuk menyuarakan kasus-kasus penting yang dianggap sebagai masalah yang harus diangkat.

Sementara itu, AJI Makassar, Didit Hariyadi menggarisbawahi perubahan kondisi pers mahasiswa dari era Orde Baru hingga sekarang, termasuk pembungkaman media di kampus.

“Pentingnya saat ini media pers mahasiswa menerapkan pola kolaborasi antara pers mahasiswa dan media-media eksklusif atau media mainstream agar memiliki independensi agar tidak diintimidasi, tidak mengalami tekanan dari orang-orang berkuasa dan tekanan dari pihak akademisi,” jelasnya.

Ia juga menuturkan sistem hierarki yang ada di lingkup kampus yang membuat pers mahasiswa rentan terhadap intimidasi atau represi saat meliput atau menerbitkan artikel.

“Salah satu hal yang dapat memberikan kekuatan pada pers mahasiswa yaitu pola kolaborasi bersama media-media mainstream agar tetap mendapatkan dorongan saat pers mahasiswa mendapatkan represi,” Tambahnya.

Dia berpesan pentingnya kerjasama dengan media mainstream untuk memberikan dukungan saat pers mahasiswa menghadapi tindakan kekerasan, sehingga bisa terus menggarap liputan isu-isu sosial di kampus.

Penulis: Zahra Awalia (Magang)
Editor: Hardiyanti

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami