Seminar Nasional HMJ Ilmu Politik UIN Alauddin Bahas Ketahanan Pangan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Pemaparan salah satu pemateri dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan HMJ Ilmu Politik FUF UIN di Auditorium Kampus II UIN Alauddin, Kamis (25/9/2025). | Foto: Washilah-Muhammad Faan Ramadhan (Magang).

Washilah — Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar selenggarakan Seminar Nasional yang dengan tema “Swasembada Pangan Menuju Kedaulatan Ekonomi Indonesia” di Auditorium Kampus II UIN Alauddin, Kamis (25/9/2025).

Anggota DPR RI, Dr Samsul Rijal menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan melalui alokasi besar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

“Pemerintah akan mengalokasikan Rp 164,7 triliun untuk ketahanan pangan, yang berarti sekitar 5 persen dari total APBN,” ujarnya.

Dia juga menyoroti masalah serius mengenai rendahnya minat generasi muda untuk menjadi petani.

“Sekarang, hanya sekitar 10,8 persen dari penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian, jauh berkurang dibandingkan dengan angka 40 persen di masa lalu.” tambahnya.

Selanjutnya, Prof Amin dalam pemaparannya menuturkan pentingnya swasembada pangan sebagai bagian dari strategi kedaulatan ekonomi Indonesia.

“Kalau kita tidak mengutamakan kegiatan pangan, ke depan tidak menutup kemungkinan bangsa kita akan menghadapi krisis. Saat ini saja sudah ada 58 negara mengalami kelaparan serius.” ucapnya khawatir.

Ia juga menekankan peran penting mahasiswa sebagai agen perubahan di sektor pertanian. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh hanya menggunakan gawai untuk hiburan, tetapi juga untuk inovasi dan kreativitas.

“Gunakan HP sebagai media menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” katanya.

Pakar Wiki Pangan Sulawesi Selatan, Brahmani Hanum Meutisari memandang pangan lokal seperti sagu, jagung dan umbi berpotensi besar untuk mendukung ketahan pangan dalam negeri, namun masih dipandang sebalah mata.

“Papua, yang memiliki kekayaan pangan lokal, malah tetap dikonversi untuk sawah baru. Kita harus mulai mengangkat pangan lokal sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan nasional,” jelasnya.

Narasumber berikutnya, Prof Muh Saleh Tajuddin menilai Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar, mulai dari perubahan iklim, gangguan pasokan global dan kenaikan harga pangan.

“Kalau tidak menyiapkan lumbung pangan, gudang logistik, serta pola konsumsi yang bijak, maka rakyat kecil akan paling menderita ketika krisis datang,” tuturnya.

Terakhir, ia menambahkan swasembada dan ketahanan pangan bisa dicapai jika semua aspek diperkuat secara konsisten.

“Dengan memperhatikan teknologi, distribusi, sumber daya manusia, serta integritas pemimpin, Indonesia bisa menghadapi tantangan pangan global dan menjaga kesejahteraan rakyat,” tutupnya.

Penulis: Andi Abhar (Magang)
Editor: Hardiyanti

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami