Pengembaraan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Foto: Istimewa

Oleh: Rahmat Rizki

Aku tak lagi melihat pohon rimbun sebagai kenangan
Ia pecah, berhamburan, bergeliat diterkam tanah
Pengembaraan memang selalu seperti ini, terus berlanjut.
Tak ada lagi perhentian untuk berteduh
Sebab rimbun pohon selalu sama, hanya meneduhkan panas, sedang hujan tetap menusuk sebagai dingin yang menyakitkan.

Segalanya adalah abu-abu
Namun gelap selalu menanti terang

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Sejaran Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami