Oleh : Rahmat Rizki
Kita semua dilahirkan tanpa pilihan
Adakah manusia yang bisa memilih?
Lahir, tumbuh, berkembang
Dari pucuk menjadi layu, muda menjadi tua, menjadi usang
Terbit lalu terbenam
Bercinta lalu mati
Ada lalu tiada
Ada pula yang lahir dan merasakan hidup
Kemudian merasakan bahagia
Terlarut dan dicandu kebahagiaan
Keluarga, materi, cinta, dunia, dan semuanya
Senang, namun hanya sementara
Yah, semuanya tentatif
Menyisakan gumpalan kerakusan meminta dipenuhi
Terisi lalu hilang dan kembali rakus lagi
Bahagia datang melahirkan penderitaan
Lalu sedih, bahagia lagi
Lalu kemalangan, lalu Pelik
Dan terus berulang
Hanya ada kemelut berkepanjangan
Ah sudahlah “Ini takdir, pasrah saja,” ucap para fatalis
Jangan berpasrah dan mengeluh
“Amor Fati, cintailah takdirmu,” ucap Nietzsche
Begitukah? Saya bingung
Gelap, terang, datang berganti
Langit bocor mengundang kantuk
Saya mati suri saja
Mungkin Tuhan dan kuasanya memang begini
*Penulis merupakan Mahasiswa Semester V Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar











