Pudarnya Eksistensi Kartini di Era Modern

Facebook
Twitter
WhatsApp
Foto: Istimewa

Oleh: Al-Kautsar Taufik

Membahas persoalan wanita terus selamanya tak terlupakan. Sosok perempuan itu menjadi perbincangan yang menarik. Setiap kali kita berbicara tentang pekerjaan wanita, kita kemungkinan besar akan mengingat sosok wanita Indonesia yang sangat membantu, yakni R.A Kartini. Semasa hidupnya, Kartini sering menulis dan merangkai kata dalam surat-surat yang ditujukan kepada para sahabatnya di Belanda, yang berisi tentang keinginan Kartini untuk membebaskan perempuan-perempuan di Indonesia dari segregasi yang telah digali pada zamannya. Bermacam-macam huruf ini kemudian dibuat menjadi sebuah buku berjudul Door Duistermis tox Licht, “Setelah Gelap Terbitlah Terang”. Beberapa rilisan dari buku tersebut di antaranya:

“Tahukah engkau semboyanku? “Aku mau!” Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “Aku tiada dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “Aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung”.

Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. kehidupan manusia serupa alam”. (Kartini – Habis Gelap Terbitlah Terang)

Salah satu permasalahan yang dianggap paling berat untuk perempuan ialah rekognisi pendidikan untuk perempuan, realitas yang umum kita jumpai perempuan selalu dipandang sebelah mata. Karena pendidikan untuk perempuan tak diterapkan secara fundamental, hanya sebagai formalitas semata atau lebih parahnya jika pandangan bahwa pendidikan untuk perempuan seharusnya tak diberikan sama sekali, agar tunduk pada sistem dan semakin terkungkung dalam penindasan. Kesadaran terhadap pentingnya pendidikan terhadap perempuan masih tergolong rendah, tak jarang hal tersebut terjadi pada perempuan itu sendiri. Terkadang perempuan masih terjebak pada zona nyaman yang tak jauh dari dunia gemerlap, terdapat faktor internal dan eksternal sehingga menyebabkan pemikiran yang rabun akan dunia pendidikan. Salah satunya ialah faktor ekonomi yang mengharuskan perempuan tak dapat merasakan senangnya hidup dalam dunia pendidikan. Di lain sisi, perempuan masih mengalami tindakan represif yang didasari oleh interpretasi agama yang cenderung dimaknai secara konservatif dan cenderung bias gender. Pemikiran tersebutlah yang menyebabkan terjadinya kemunduran dalam konteks pendidikan bagi perempuan. Salah contohnya ialah kisah malala yousafzai yang berjuang untuk mendapatkan pengakuan atas idealismenya. Dia memperjuangkan agar perempuan muda di Pakistan mampu mengenyam bangku pendidikan. Di sana, perempuan yang berpendidikan ialah monster dan tidak sesuai dengan budaya setempat. Situasi yang sama juga dirasakan perempuan Margadarsi dari India atau perempuan muda sub sahara Afrika yang terpaksa berhenti sekolah karena mengalami menstruasi dan terjadinya olokan yang tumbuh karena faktor menstruasi, serta sulitnya mendapatkan pembalut yang menyebabkan mereka untuk merelakan pendidikan.

Konstruksi zaman di era modern hari ini mampu membawa suatu dampak positif dan  negatif bagi kaum manusia. Terlebih ketika kaum perempuan hari ini lebih condong kepada hal yang sifatnya hedonis. Sebagian besar kaum perempuan hari ini cenderung untuk melakukan hal-hal yang lebih bersifat modern dalam artian sesuatu hal yang melekat pada tubuhnya itu harus bermerek dan didapatkan dengan ketentuan terbatas. Karena perempuan yang seharusnya bertarung dalam ruang patriarki namun mereka justru terjebak dengan kondisi yang membuat mereka sulit untuk keluar dari zona tersebut, namun tidak semua perempuan bersifat hedonis. Mereka yang sibuk dengan kegiatan intelektual justru mengalami satu bentuk diskriminatif oleh mereka yang bersifat hedonis karena dianggap ketinggalan zaman.

Karakter dan perilaku tersebut mencerminkan satu kondisi di mana perempuan bisa dikatakan sebagai kaum apatis dan pragmatis karena perempuan hanya menuntut satu kesetaraan yang sama tanpa membaca kemampuan diri mereka masing-masing dan akan berujung bahwa kaum patriarki selalu mendominasi dalam tataran era hari modern. Sejatinya kaum perempuan yang kemudian menenggelamkan eksistensi pada dirinya sendiri. Paradigma yang membentuk terkait era modern bukan persoalan konstruksi berpikir yang harus modern tapi malah konstruksi barang yang harus mengikuti budaya modern itu salah satu kecelakaan dalam memahami kondisi modern.

Jika dibenturkan dengan eksistensi Kartini pada masanya akan berbanding 180 derajat, karena kartini pada masa itu dia sadar akan ketertinggalan kaum perempuan yang di mata publik hanya seorang budak bagi kaum laki-laki hal itu sangat menjadi satu bentuk keresahan bagi kaum perempuan pada masa Kartini. Kesadaran yang kemudian membawa satu perubahan yang besar tentu dilatarbelakangi dengan tindakan-tindakan yang bersifat produktif. Berbeda dengan perempuan hari ini mereka sadar bahwasanya mereka sedang mengalami ketidakadilan dalam eksistensinya sebagai manusia karena persoalan gender, namun kesadaran ini hanya bersifat dalam tataran pikiran saja, mereka kaum perempuan hari ini tidak mengimplementasikan bentuk kesadaran akal dalam tatanan realitasnya atau tidak diimbangi dengan satu bentuk tindakan saja. Memang banyak gerakan-gerakan kaum perempuan hari ini namun semuanya tidak terlibat dalam proses sosialisasinya sehingga stigma kaum perempuan hanya pasrah dan menerima tanpa melihat eksistensi dirinya sebagai kaum perempuan yang seharusnya berpengaruh besar dalam satu perubahan zaman.

Melalui satu framing tulisan ini saya menyampaikan kepada seluruh kaum perempuan yang merasa dirinya perempuan sadar dan cepatlah bangun dari ketidaksadaran. Karena kalian kaum perempuan terjebak dalam pusaran sejarah kartini tanpa membaca kondisi zaman hari ini.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar Semester VI

 

 

 

 

 

 

 

 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami