Membangun Karakter Moderat Mahasiswa Melalui Kelas Moderasi Beragama

Facebook
Twitter
WhatsApp
Forum Sekolah Moderasi Beragama Prodi Studi Agama Agama yang berlangsung di Swiss Bel In Hotel, Sabtu (05/03/2022). | Foto: Sahrir

Washilah – Saat itu, sejuk menyapa pagi hari, Sabtu 05 Maret 2022, Program Studi (Prodi) Studi Agama Agama (SAA) menggelar Forum Sekolah Moderasi Beragama yang bertempat di Lantai 3 Gedung Swiss Bell In Hotel. Para peserta datang satu persatu. Ada yang datang lebih dulu dari waktu yang ditentukan, ada yang datang tepat waktu, ada pula yang datang lewat dari waktu yang ditentukan.

Jam menunjuk pukul 08:04 Wita, peserta forum kemudian dipersilahkan memasuki ruangan khusus yang diberi nama Ball Room. Dingin yang menyambut pertama kali dikarenakan suhu AC berada pada Angka 16°C. saat itu ada yang merasa nyaman, ada pula yang tak nyaman karena merasakan kedinginan.

Seiring berjalannya waktu, karena keadaan saat itu orang yang akan membuka acara belum tiba, kesempatan bagi peserta untuk memperkenalkan diri agar bisa lebih saling mengenal.

Tepat pukul 08:30 Wita, seseorang yang ditunggu untuk membuka acara telah tiba di tempat. Master Of Ceremony (MC) langsung memulai kemudian menyerahkan kepada Kepala Prodi (Kaprodi) SAA untuk menyampaikan sambutannya. Selanjutnya,Wakil Dekan (Wadek) III Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP), Dr Abdullah membuka kegiatan.

Dalam sambutannya, Kaprodi SAA, Sitti Syakirah Abu Nawas M Th I menjelaskan, Sekolah Moderasi Beragama dihelat untuk menjaga sebuah keutuhan negara serta menimbulkan kesejahteraan bersama. “Karena dengan paham moderat, konflik sedikit tereliminasi dan kemudian kesejahteraan itu menjadi sesuatu yang tak mustahil,” ujarnya.

Terdapat tiga pemateri hebat dan cakap yang turun saat itu. Cakap dari segi wawasan tentang moderasi serta cakap pula dari segi ilmu pengetahuan.

Materi pertama terkait Moderasi Beragama di Lingkungan Kampus, dipantik langsung oleh Dr Abdullah. Dirinya mengajak peserta forum untuk menerapkan konsep beragama dengan cinta karena menurutnya segala yang berkaitan dengan cinta itu adalah agama.

Berlanjut ke materi kedua, Peran Moderasi Beragama dalam Membangun Hubungan Antar Umat Beragama. Materi ini dijelaskan Dr H Nurman Said MA. Ia dikenal sebagai sosok dosen senior di FUFP yang cukup luas pengetahuan terkait moderasi.

Nurman memaparkan bahwa moderasi itu berusaha menghindari sifat extrem yang mengajak kita harus memposisikan diri berada ditengah tengah. “Moderasi Beragama bermakna sikap, pemahaman dan pengamalan ajaran agama yang menengah di antara berbagai kecenderungan yang bersifat extrem, baik itu extrem kanan ataupun extrem Kiri,” paparnya.

Lanjut pemateri terakhir, Dr H Saprillah MSi memaparkan Konsep dan Strategi Penguatan Moderasi Beragama. Kali ini, pemateri menjelaskan dengan berbagai metode. Ia menjelaskan terlebih dahulu terkait Konsep yang harus dipakai sebagai strategi, setelah itu kemudian ia membagi  22 orang peserta menjadi empat kelompok.

Berlanjut ke pemutaran film Lead India The Tree yang berdurasi 1 menit 32 detik. Usai menonton film, peserta kemudian diberi waktu 15 menit untuk menganalisis makna dari film tersebut. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk membuat bagan yang menerangkan fakta apa yang terjadi, pola yang terbentuk, dan struktur yang terjadi pada film tersebut.

Masing-masing kelompok kemudian memaparkan hasil analisis dari film tersebut. Kelompok dua yang lebih dulu siap dan begitu antusias dalam forum menjelaskan hasil analisis mereka. Satu demi satu dari kelompok telah usai menjelaskan, tibalah saatnya pemateri ini menyimpulkan Fakta, Pola dan Struktur yang terjadi dalam Film dan tentu saja sesuai yang menurut analisisnya.

Pada kegiatan berikutnya, para peserta forum diberikan kesempatan untuk menawarkan sebuah rancangan kegiatan. Kelompok Pertama menawarkan Camp Perdamaian, kelompok kedua menawarkan Sosialisasi Moderasi Beragama, kelompok ketiga menawarkan Peace Camp, terakhir kelompok keempat menawarkan Camp Moderasi Beragama.

Salah satu peserta, Andi tenri Wuleng berharap agar Sekolah Moderasi sering dilaksanakan. “Pelatihan seperti ini untuk menangkal paham ekstremisme beragama yang marak terjadi khususnya di masyarakat  awam,” harap Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional ini.

Salah satu Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) Indonesia Timur (Intim), Gideon Molindo merasa kegiatan tersebut sangat berkesan. “Banyak hal yang saya dapat, salah satunya mengubah mindset pemahaman saya mengenai agama yang belum begitu luas bisa terasa dengan sekolah moderasi beragama, menyuarakan perdamaian dengan cinta sesama manusia tanpa mengedepankan status agama, suku dan rasnya.” 

Terhitung peserta forum Sekolah Moderasi Beragama sebanyak 22 orang dari berbagai jurusan. Terdapat juga Mahasiswa dari luar Kampus UIN Alauddin Makassar. Bukan hanya mahasiswa yang beragama Islam yang menjadi peserta forum, akan tetapi ada pula yang beragama Kristen.

Penulis: Sahrir (Magang)

Editor: Jushuatul Amriadi

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami