Corona dan Kodingareng

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ibu-ibu di Kodingareng sedang membersihkan ikan untuk diolah menjadi abon. | Foto: Istimewa

Washilah – Suasana pagi menuju siang, tepat pukul 11.10 WITA, saya menikmati indahnya suasana alam Pulau Kodingareng. Rebahan di Gazebo yang terletak di bawah pohon jambu, menambah sejuk suasana di tempat itu. Pulau Kodingareng merupakan pulau yang terletak di sekitar kota Makassar, jarak tempuh sekitar satu jam. Halangan untuk menunaikan tuntutan spiritual sebagai seorang muslimah, membuat saya tinggal sendiri di Gazebo siang itu. 

Saya melihat aktivitas sosial melalui interaksi langsung antar masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-harinya sebagai penduduk Pulau Kodingareng. Uniknya, kerumunan di mana-mana sementara tak ada sama sekali yang menggunakan masker.

Asap tipis dengan aroma ikan bakar tercium wanginya. Saya mengambil beberapa langkah mendekati Kasmawati yang tengah sumringah, Wanita paruh baya yang saat itu sibuk membakar ikan. Dia menceritakan jika masyarakat Kodingareng tidak pernah percaya dengan hadirnya virus corona

“Sudah dua tahun corona ada di Indonesia, tetapi belum saya temukan bukti kalau virus corona memang ada, dan saya pun tidak tahu bagaimana penyakitnya,” ungkapnya.

Menurut wanita berusia 50 tahun itu, gejala corona yang ia lihat di televisi hanyalah gejala biasa yang kapan saja dapat dirasakan oleh setiap orang dalam kondisi waktu tertentu.

Sembari membalik posisi ikan yang dibakarnya, Kasmawati mengatakan virus corona adalah  penyakit biasa. “Dari dulu sudah ada penyakit seperti itu. Kalau ingusan, sakit kepala, dan demam. Itu efek dari pergantian cuaca.”

Di tengah terik sinar matahari siang ini, Masyarakat Kodingareng masih tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, meskipun berita-berita di layar televisi sangat marak membahas persoalan pandemi covid, mereka sama sekali tidak takut. 

Aktivitas shalat berjamaah tetap digalakkan di Masjid. Meski tersiarnya kabar tentang virus semakin maraknya. Salah satu tokoh masyarakat, Muhammad Amin menuturkan, pada saat berita tentang corona sangat melonjak dan aturan sosial distancing yang digaungkan pemerintah, itu sama sekali tidak diindahkan oleh masyarakat di pulau ini.

“Kemarin ada pemberitahuan dari pemerintah terkait virus corona yang semakin banyak terjangkit dan harus jaga jarak. Tetapi, masyarakat di sini tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya,” tuturnya.

Selain itu, ibu-ibu kelompok pengajian tetap melakukan pengajian setiap hari Jumat di Masjid tanpa memperhatikan adanya virus yang lazim disebut virus corona.

Di tengah kasus covid yang berkembang di kota Makassar, ada kejadian menarik tentang kegiatan vaksinasi yang dilakukan di Pulau Kodingareng. Mayoritas masyarakat menolak vaksinasi. Namun, syarat administrasi yang begitu ketat membuat beberapa masyarakat yang ingin ke Kota Makassar harus menjalani vaksinasi.

“Beban kecil masyarakat Kodingareng yang akan keluar pulau dituntut harus mempunyai sertifikat vaksinasi. Mau atau tidak mau, masyarakat yang mempunyai urusan mendesak di luar pulau harus terpaksa melakukan vaksinasi,” kata Irawati.

Perlawanan masyarakat Kodingareng tidak hanya sampai di situ, terbukti pemberlakuan pembelajaran secara offline tetap digalakkan, kerumunan masyarakat masih terlihat di kehidupan sehari-hari. Meski masyarakat mengakui beberapa kali pemerintah mensosialisasikan social distancing dan pengguna masker yang baik, namun masyarakat tetap menjalankan kehidupan sehari-hari tanpa ada perubahan yang berarti terhitung sejak dua tahun pandemi melanda Indonesia.

Penulis: Astiti Nuryanti (Magang) 

Editor: Jushuatul Amriadi

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami