The Power of Literation

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh: Muhlis Aqadry

Literasi bisa saja kita maknai sebagai suatu proses baca-tulis, tetapi pada pemaknaan yang lebih luas literasi sebenarnya merupakan upaya untuk menggali dan mendapatkan pengetahuan. Literasi bisa saja kita kontekskan pada sekolah-sekolah, instansi, universitas, perkantoran dan lainnya. Akan tetapi sebenarnya literasi mengisi seluruh sekat dalam aktivitas manusia. Anehnya, literasi ada di mana-mana namun diabaikan. Ini bukan kritik opini akan tetapi berbicara fakta.

Tiap tahun perguruan tinggi meluluskan para mahasiswa yang berjumlah ratusan bahkan ribuan dengan seremonial acara wisuda (toga, plakat sarjana dan lain-lain). Akan tetapi dapat dihitung jari dari ratusan mahasiswa tersebut hanya segenlintir saja yang hidupnya mapan dan bermanfaat pada orang lain. Bagaimana tidak, kebanyakan dari mahasiswa dininabobokan pola asuh 3D (datang, duduk, dan diam).

Terima atau tidak, sadar atau tidak bahwa dari waktu ke waktu tantangan semakin melebar, persaingan semakin ketat dan peluang semakin sempit. Sementara perguruan tinggi tidak mampu meluluskan mahasiswanya dengan hasil yang baik, maka bagaimana mampu menghadapi tantangan ke depan, lebih-lebih kepada masyarakat yang hidupnya sama sekali tidak pernah disentuh dengan dunia pendidikan, akan seperti apa nasib mereka?

Untuk itu, kuliah bukan hanya persoalan kemapanan ekonomi, dapat kerja yang menjamin hidup akan tetapi kuliah diciptakan untuk membentuk generasi yang cerdas dan berkualitas, generasi yang aktif dan penuh daya kreasi serta semangat yang tinggi.

The power of literation sebagai upaya untuk membendung arus globalisasi yang serba cepat, artinya semua elemen pendidikan harus bisa memperkuat literasi baik di bidang ekonomi, budaya, seni, dan tradisi. Spirit zaman dalam bingkai revolusi industri 4.0 dan society 5.0 boleh saja mengubah cara hidup kita, akan tetapi power kita pada bidang literasi juga harus semakin kuat karena sejarah akan mencatat, hanya orang-orang cerdas yang mampu membaca dinamika dan tuntutan zaman di mana ia hidup akan bertahan dan dikenang.

Laju Terjang Literasi di Indonesia

Pada dasarnya generasi muda memiliki keahlian dan kemampuan untuk mengakses media digital, akan tetapi kemampuan untuk mengimbangi arus yang ditawarkan dari media sosial itu sendiri belum mapan. Lihatlah misalnya konten-konten yang ditawarkan seperti Bigo Live, Tiktok dan sebagainya membuat generasi lupa akan jati dirinya sebagai manusia yang beretika.

Di Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia tahun 2018 mencatat perkembangan jumlah media mengalami peningkatan sekitar 43.400. Sementara media yang terdaftar di Dewan Pers Nasional hanya berjumlah ratusan. Hal ini membuktikan bahwa begitu banyak media yang dengan mudahnya terhubung ke internet dan melansir informasi secara bebas. Akibatnya akan semakin berpotensi mengakses informasi yang tidak valid alias hoaks karena budaya membaca masyarakat masih dalam tingkat rendah.

Selanjutnya, jumlah penduduk Indonesia pada bulan januari tahun 2021 tercatat sebanyak 274 jiwa, 1340 suku dengan 746 bahasa, sementara 345 juta jiwa yang terdaftar menjadi pelanggan ponsel, 202,6 juta pengguna internet dan 170 juta media yang aktif. Dapat disimpulkan bahwa sebagian dari warga Indonesia memiliki dua sampai tiga ponsel per orang.

Kemudian dari sisi waktu penggunaan internet dalam jejaring sosial media berdurasi 8 jam 52 menit setiap hari terkoneksi dengan internet dan 3 jam 14 menit bermain sosial media. Dengan demikian waktu yang dipakai dalam dunia maya lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang dipakai untuk berinteraksi di dunia nyata. Ini tentu sangat memprihatinkan kalau daya atau power literasi kita di bawah rata-rata karena akan terindikasi untuk menyebarkan isu sara dan berita-berita hoaks.

Konten secara terus menerus dan berulang-ulang diakses, hanya saja tidak semua informasi yang tersedia di web adalah konten yang terpercaya (Pikiran Rakyat, 2019). Dampak dari prilaku ini, konten yang berisi berita bohong tetapi diakses dan disebarluaskan secara terus menerus menjadi informasi yang dianggap penting dan benar yang merupakan kondisi pasca kebenaran (post truth) yang muncul bersama dengan berita-berita bohong. Hal ini memperlihatkan bahwa memang didapati kelompok masyarakat tidak memiliki keterampilan literasi ligital (LIorente, 2017).

Nabi Muhammad SAW dengan perkataan IQRA’ (Bacalah).

Tuhan menciptakan segala sesuatu tidaklah main-main, untuk itu segala sesuatu itu tercipta dalam suatu ruang yang disebut dengan waktu. Waktu selalu berjalan apapun keadaanmu dan dimanapun engkau berada tanpa melihat sedikit pun kamu siapa di Bumi ini. Waktu tidak pernah memiliki toleransi sedikit pun. Manusia akan dikatakan manusia ketika ihwal gerakannya menyempurna, dari sini tapak tilasnya tak bisa diingkari bahwa salah satunya adalah sabda literasi.

Selamanya dengan literasi, untuk mereformasi dan mensejajarkan antara kuantitas dan kualitas. Karena kuantitas tidak bisa dipungkiri akan tetap bertambah menurut kondisi alam maka tentu kualitas sangat diperlukan, dengan apa? tentu dengan cara literasi.

Literasi menginsankan manusia, dalam hal ini bukan manusia tapi insan karena dalam gerakan literasi yang digerogoti adalah makna bukan simbol. Artinya, manusia adalah sebagai tempelan identitas untuk fisik (simbol) sementara literasi adalah makanan jiwa, maka tidaklah salah jika literasi adalah makanannya insan (jiwa) bukan manusia (fisik).

Dengan literasi seseorang akan terdidik dan amanah. Ketika seorang itu terdidik maka sudah pasti amanah dan begitupun sebaliknya. Hakikat literasi tidak hanya mengajarkan baca tulis tetapi juga mengajarkan untuk menjadi manusia yang terdidik dan amanah. Muhammad SAW dengan kata IQRA’ yang dibawa Malaikat Jibril, sejak saat itulah beliau menjadi manusia yang terdidik dan amanah.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar semester V.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami