Pergeseran Sosial Budaya Masyarakat Akibat Pandemi Covid-19

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi: www.newscientist.com

Oleh: Firda

Pertama kali terdeteksinya corona virus disease 2019 (Covid-19) di Wuhan, China yang menyebar ke seluruh dunia dalam waktu yang cepat dan menyeluruh yang menyebabkan berbagai perubahan dalam tatanan kehidupan manusia saat ini seperti pergeseran sosial budaya secara spontan dan tidak direncanakan,bahkan barangkali tidak pernah ada yang membayangkan bahwa pandemi ini akan mengubah kehidupan sosial masyarakat yang jauh berbeda dari kondisi sebelumnya.

Munculnya sebuah aturan-aturan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah kemudian menyebabkan sebuah kebiasaan yang berbeda dari sebelumnya seperti himbauan untuk belajar dari rumah, bekerja dan beribadah di rumah. Hal ini jelas berdampak pada kebiasaan masyarakat yang senang berkumpul dan bersalaman saat bertemu.

Menurut salah satu dosen UIN Alauddin Makassar, Santri Sahar  mengatakan bahwa pergeseran atau perubahan sosial budaya di masyarakat akibat pandemi ini merupakan sebuah revolusi. Artinya perubahan budaya yang terjadi dalam waktu yang singkat dan secara drastis.

Revolusi yang terjadi akibat pandemi covid-19 ini terjadi akibat kemampuan manusia untuk beradaptasi, hasil dari adaptasi yang dilakukan oleh manusia ini yang melahirkan kebiasaan baru seperti perilaku sosial masyarakat dalam segala sendi-sendi kehidupan.

Kebiasaan yang muncul akibat pandemi ini akan mengakibatkan emosi pada manusia menjadi tidak sampai dan pada akhirnya masyarakat akan berpikir secara benefit atau mencari keuntungan. Namun secara substansial misalnya dalam perkuliahan sangat susah untuk menjalankan metode belajar yang berbeda seperti saat tatap muka di mana mahasiswa berdebat, namun saat pandemi mereka harus melalui sebuah media seperti Zoom, WhatsApp, ataupun Gmeet, dimana perdebatan dan diskusi mahasiswa rasanya tidak nyambung satu sama lain.

“Saya menduga suatu saat kita akan masuk dalam satu fase,kalau para sosiolog mengatakan masuk dalam masyarakat abstrak, yaitu masyarakat yang mengikuti aturan tanpa harus melihat persona-personal, seperti kita taat dalam kuliah online yang tidak nyata tapi kegiatannya ada. Mau tidak mau kita akan masuk ke fase itu, walaupun suatu saat covid-19 sudah lewat namun kebiasaan kita akan menjadi sebuah transisi walaupun membutuhkan waktu,” ujar Pak Santri, dosen yang mengajar mata kuliah Sosiologi Kebudayaan.

Interaksi yang sifatnya emosional akan tergantikan dengan sifat yang rasional, dalam ilmu sosiologi ada yang dinamakan budaya rasa yang secara perlahan akan digantikan dengan budaya rasio. Karena sangat berbeda rasanya ketika kita berjabat tangan dan tidak berjabat tangan dalam kondisi tertentu, namun masyarakat harus berpikir daripada tertular virus ini lebih baik tidak berjabat. Jadi jika rasa itu hilang maka akan ada esensi budaya yang hilang.

Santri memberikan contoh seperti ada undangan pernikahan, kita hanya diberikan makanan di depan gedung, otomatis rasa sentimen emosional dengan orang yang mengundang menjadi hilang. Hal ini akan menyebabkan aspek rasa akan hilang dengan sendirinya.

Dari segala aspek kehidupan yang berubah akibat pandemi covid-19 ini pasti ada dampak negatif dan positifnya yang bisa kita petik. Dampak negatifnya adalah kita akan diuji oleh kepekaan sosial yang melibatkan seperti emosi dan keyakinan. Jadi ada sesuatu yang hilang dari masyarakat.

Kita kadang-kadang menitik beratkan kepada aspek rasional yang menyebabkan manusia menjadi goyah, sensitifitasnya menjadi berkurang. Sisi kemanusiaan masyarakat akan tergerus, seperti itu konsekuensinya.

Dampak positifnya banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dalam waktu yang singkat dengan berbagai macam pekerjaan, seperti dosen bisa mengajar pada saat menguji jadi pekerjaan bisa direduksi. Namun harus juga menyesuaikan, jadi memudahkan pekerjaan.

*Penulis Merupakan Mahasiswa semester lima Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami