Dialog Alternatif, Mengupas Permasalahan Kekerasan Seksual di Kampus

Facebook
Twitter
WhatsApp
Suasana dialog dan launching logo yang diselenggarakan oleh Korps PMII Putri (Kopri) Komisariat UIN Alauddin Makassar, berlokasi di Warkop Mau.co, Rabu (26/01/2022). | Foto: Nur Afni Arifin

Washilah – Melihat maraknya polemik kasus kekerasan seksual di kampus, Korps PMII Putri ( Kopri ) Komisariat UIN Alauddin Makassar menggagas dialog yang mengupas permasalahan kasus kekerasan seksual di Kampus.

“Kasus kekerasan seksual di Kampus menjadi hal urgent yang sudah tidak asing lagi kita dengar,” tutur Ketua Kopri Cabang Gowa, Sakinah saat menyampaikan sambutan pada Rabu (26/01/2022).

Selain dialog dengan tema “Mengupas akar kekerasan seksual yang terjadi di ranah kampus” juga dirangkaikan launching logo Kopri Komisariat UIN Alauddin Makassar. Ketua Jurusan Ilmu Falak, Pihak yayasan Nalasara dan Ketua Gamasaba dihadirkan disana. Dipandu oleh Ketua Bidang Kaderisasi dan keilmuan Kopri Komisariat UIN Alauddin, Jirnawati.

“Kekerasan seksual selalu identik dengan perempuan, padahal secara universal kasus kekerasan seksual bisa terjadi ke laki-laki,” ujar Ketua Gemasba Sulsel, Siti khadijah Budiawan.

Khadijah menjelaskan bahwa meskipun kasus kekerasan seksual dominan ke perempuan namun hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa laki-laki juga kadangkala menjadi korban kekerasan seksual.

Khadijah juga mempertanyakan persoalan seberapa efektif kampus dalam menciptakan ruang aman dari kekerasan seksual. “Apakah kampus sudah menjadi ruang aman dari kasus kekerasan seksual? Survei Kemendikbud pada 2020 menyebutkan bahwa 77 persen dosen menyatakan kekerasan seksual pernah terjadi di kampus dan 63 persen tidak melaporkan kasusnya,” paparnya.

Kasus kekerasan seksual yang terjadi di ruang lingkup kampus seyogyanya tidak boleh diremehkan. Hal itu disampaikan Ketua jurusan Ilmu Falak, Dr.Fatmawati Hilal, M Ag. “Kalau adek- adek masih takut mendapati stigma, aii malu-maluki, kau akan membiarkan korban perempuan berjatuhan selanjutnya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Fatmawati juga menjelaskan tidak perlu takut untuk melapor. “Alauddin sudah memiliki regulasi aturan untuk pencegahan kasus kekerasan seksual, dibuat oleh Pimpinan kampus bekerjasama dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), jadi tidak usah takut melapor,” ungkapnya

Pada saat sesi tanya jawab berlangsung, Mahasiswa Ilmu Politik, Musfirah Nurul mempertanyakan bagaimana kebijakan kampus terhadap polemik kasus kekerasan seksual yang terjadi di UIN Alauddin, mulai dari Begal payudara yang terjadi di gang sempit hingga Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) video call yang berujung pada penunjukan alat vital.

Menanggapi hal tersebut, Fatmawati menjelaskan bahwa penerangan gang sempit bukan solusi. pasalnya adanya pengambilan hak lahan yang dilakukan oleh warga kepada kampus UIN Alauddin menjadi pertimbangan untuk pemberian fasilitas tersebut.

Terakhir, Fatmawati menjelaskan pembatasan aturan jam malam merupakan langkah alternatif untuk mencegah kekerasan seksual di Kampus.”Kami mendapati beberapa kondom di beberapa titik di Kampus, bahkan sering mendapati orang melakukan maksiat dikampus, jadi memang aturan pembatasan jam malam perlu diberlakukan,” jawabnya.

Penulis: Nur Afni Arifin

Editor: Jushuatul Amriadi

 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami