Washilah – Liku-liku menggelar kegiatan lembaga intra kampus, memiliki suka duka mendalam. Pelaksana kegiatan tentu ingin menunjukkan yang terbaik ke publik. Di balik sukses acara, ada saja cerita yang terbangun. Seperti halnya pelaksanaan malam puncak Milad ke-10 Ilmu Alquran dan Tafsir, Jumat, 10 Desember 2021, di SLB Negeri 1 Makassar.
Butuh waktu dua bulan, dari Oktober hingga Desember. Bukan waktu singkat untuk mempersiapkan semuanya. Teramat urgen dipikirkan adalah menyiapkan dana. Bantuan secara resmi dari Program Studi (Prodi) tidak ada. Tapi, tetap ada dekan, wadek, dan dosen lainnya menyumbang secara pribadi.
“Anggaran kegiatan kami dari universitas sudah habis terpakai. Otomatis untuk acara milad ini, kami harus kerja ekstra mencari dana secara mandiri, ” ujar Ketua HMJ Ilmu Alquran dan Tafsir, Rahmat.
Ditemui di sekretariatnya, mahasiswa semester tujuh ini mengatakan, amat sedih bila melihat mereka mati-matian menggalang dana. “Saya selaku ketua, mau menangis melihatnya. Mereka rapat mati-matian, latihan dan penggalangan dana juga,” tuturnya saat itu.
Semangat begitu luar biasa, pantang mundur, tidak mengenal kata menyerah. “Saya apresiasi kerja ketua panitia dan anggotanya yang tidak pernah mengeluh, semangat dan tanggung jawabnya luar biasa. Padahal, mereka juga kan kuliah, tapi prioritas untuk kegiatan ini tidak disepelekan”.
Kata Rahmat, kendati ada sekira 100 panitia, paling yang aktif 50 persen saja. Hal tersebut dapat dimaklumi , sebab selain kondisi pandemi, jurusan ini berbeda dengan lainnya.
Beberapa di antara mereka ada yang menjadi imam masjid dan guru mengaji. “Nah, kalau ada yang tidak bisa keluar rumah di malam hari, ya, tidak bisa dipaksakan, karena kulturnya memang sudah seperti itu, ketika masih mondok di pesantren,” Rahmat menjelaskan.
Tapi, dalam kondisi demikian, lanjutnya, tidak ada dikotomi hanya orang yang ‘berdarah-darah’ saja bisa menghadiri milad. “Sebetulnya kita tidak ada paksaan untuk bekerja atau tidak demi sukses tidaknya acara, hanya kesadaran diri sendiri saja, bahwa ketika masuk organisasi, berarti siap memegang tanggung jawab,” tuturnya.
Kemudian sebuah kesyukuran, sebab tanggung jawab yang tinggi membuat mereka tidak mengeluh. “Mereka sangat capek, sudah mengorbankan semuanya baik materi, waktu, tenaga dan pikiran demi suksesnya milad tersebut,” tutup Rahmat.
Ketua panitia pelaksana, Riang Cahaya Anugrah, menguraikan liku-liku pelaksanaan milad. Menurutnya, ada beberapa rangkaian kegiatan, seminar nasional, webinar nasional, bakti sosial, perlombaan antar kelas dan malam puncak perayaan milad.
Sementara untuk pengadaan dana, mengadakan bazar, cetak baju kaos, jual makanan dan minuman. “Kalau makanan kan pre order, mesti pesan dulu. Kalau ada pesan, baru kita buatkan. Kendalanya kalau hujan, makanan tidak laku, jadi terpaksa kita jual saja ke senior-senior,” papar mahasiswa semester V itu.
Begitulah prosesnya hingga banyak panitia yang drop, sakit di musim hujan. Sebab mereka yang melakukan penggalangan dana, juga kerja ganda karena harus latihan untuk mengisi acara.
Malam puncak perayaan milad yang mengambil tema ‘Menjalin Silaturahmi dalam Milad Ilmu Alquran dan Tafsir sebagai Inspirasi dalam Harmoni Kehidupan’, agak berbeda dengan milad sebelumnya. Dalam 10 tahun hanya menyelenggarakan milad dua kali.
Tahun lalu, tidak ada perayaan karena covid. Program kerja juga tidak jalan sehingga vakum. “Sekarang, teman-teman berinisiatif membangun kembali semangat yang sempat pudar itu. Paling tidak, teman-teman yang masih di kampung, dapat memberikan kontribusi pemikiran,” ucapnya optimis.
Penulis: Mufadhdhal Raihan Al-Asyraf Yusuf
Editor : Agil Asrifalgi











