Perempuan sebagai Aksesoris Kapitalisme

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber foto: titikalinea.com

Oleh : Astiti Nuryanti

Mengenai perempuan, yakni seorang manusia. Manusia tidak terlepas dari seks dan gender. Seks bersifat biologis yang melekat di tubuh manusia, seperti perempuan mempunyai payudara, vagina, bisa melahirkan juga menyusui dan laki-laki memiliki penis. Sedangkan gender adalah sifat perempuan dan laki-laki yang di konstruksi secara sosial.

Konstruksi secara sosial ini bisa hadir melalui orang terdekat seperti halnya keluarga. Dalam kajian gender perempuan didasari dengan sifat yang feminin, dimana perempuan memang dituntut untuk lemah lembut, berbaju warna pink, dan tidak berkata kasar. Sedangkan laki laki dengan sifat yang maskulin, lebih kuat, keren, dan pemberani.

Hal-hal seperti itu memang sudah dibentuk sejak dini dan itu yang menjadi kebiasaan bahkan membudaya di kalangan masyarakat. Perempuan juga cenderung menggunakan suatu produk atau pakaian sesuai dengan trennya, dari situlah kapitalisme merancang ide baru dan melihat perempuan sebagai komoditi untuk mendapatkan keuntungan.

Kemudian, membahas mengenai kapitalisme, kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi sosial yang berorientasi pada provit motif dan hanya menguntungkan segelintir orang, kapitalisme dengan ciri akumulasi, eksploitasi, dan ekspansi telah berdampak kepada banyak orang salah satunya adalah perempuan.

Pada era 1970-an sampai awal dekade 1980-an ada salah satu teori Marx yang membahas mengenai ketertindasan perempuan pada awal abad ke-20 yang dikenal dengan women’s question, dan saat itu teori Marx cukup meluas, baik itu dikalangan Marxis, sosialis, feminism, bahkan juga dari feminisme radikal.

Bisa dilihat bahwa penindasan terhadap perempuan sudah lama terjadi, hal ini dapat dilihat dimasa sekarang, karena budaya patriarki dilanggengkan dan itu terjadi sampai sekarang. Penindasan terhadap perempuan di masa tahun 90-an ataupun tahun sebelumnya, akan berbeda dengan tahun sekarang yang lebih diperhalus penindasannya.

Contohnya perempuan tahun 90-an dipaksa untuk bekerja bahkan jam kerjanya tidak sesuai dengan upah yang diberikan, dibandingkan dengan sekarang, seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin maju, proses eksploitasi bisa dilakukan melalui media.

Kapitalisme juga mengandung sistem dan melahirkan cara pandang yang materialistik dan konsumtif. Agar sistem ini tetap bertahan, kapitalisme meluncurkan gempuran serangan propaganda yang mendukung sistemnya melalui media. Contoh kasus kecil, perempuan Indonesia yang didominasi dengan kulit berwarna sawo matang kemudian diserbu dengan propaganda bahwa cantik itu berkulit putih.

Maka berlomba-lombalah perempuan Indonesia membeli produk pemutih kulit.
Berdasarkan hasil penelitian Dokter Yusra Firdaus selaku dokter umum yang berpraktik di Rumah Vaksinasi Cikarang dan Rumah Sakit Permata Bekasi di tulis oleh Riski Candra Swari bahwa orang yang berkulit sawo matang akan rentan terpapar sinar matahari dan mengurangi  resiko kanker kulit.

Tetapi lagi dan lagi kecantikan sudah dikonstruk melalui media bahwa yang cantik itu adalah orang yang berkulit putih, dan jika dianalisis lebih jauh memang betul kulit orang Asia, termasuk Indonesia yang terlewati garis khatulistiwa, lebih sehat dan cantik karena paparan sinar matahari yang cukup. Tetapi tidak menuntut kemungkinan orang orang yang berkulit putih pucat kurang sehat. Untuk dapat membeli produk pemutih kulit, tentu perlu uang.

Sehingga, para perempuan tidak sedikit yang bekerja untuk membeli produk yang telah diinvitasi oleh kapatalis. Cara inilah yang membuat terbius bujukan dan pada akhirnya membentuk kondisi lingkungan yang materialistik di samping konsumtif.

Selain dikonstruk bahwa cantik itu harus putih, kapitalisme juga membuat kemolekan tubuh perempuan sebagai aset iklan, model, film, penghibur, bahkan pekerja seks. Kapitalisme terus mengeksploitasi waktu, pikiran, tenaga, bahkan mirisnya tubuh perempuan menjadi uang.

Apapun dilakukan untuk menghasilkan dan mendapatkan uang sehingga, kiang tumbuh suburlah materialis di dunia. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi pertumbuhan jumlah tenaga kerja perempuan dari 2018 ke 2019. Pada 2018 tercatat 47,95 juta orang perempuan bekerja. Jumlahnya meningkat 48,75 juta orang perempuan, dikutip dari https://databoks.katadata.co.id, ini masih data sepanjang tahun 2018 ke 2019, bagaimana dengan sekarang yang sudah bertambah dua tahun untuk perkembangan konsumsi yang semakin melonjak, maka akan semakin bertambah dan yang mendominasi tenaga kerja usaha dibagian jasa adalah perempuan.

Dalam teori konstruksi sosial media massa yang dicetuskan Peter L.Berger  dan Thomas Luckman bahwa hakikatnya, realitas sosial dibentuk oleh konstruksi sosial manusia, Selanjutnya Levine dan Harrison (2004), juga mengatakan bahwa media dapat mengkonstruk standar kecantikan dan seksual yang terlihat sempurna dan sangat indah, tetapi realitanya hal tersebut tidak mungkin terjadi, dan benar manusia selalu ingin sempurna dan terlihat indah melalui pandangan dari orang lain Bahkan diantara para perempuan, tidak sedikit diantara mereka yang saling bertukar pikiran untuk mencapai kesempurnaan dan terlihat indah seperti indah yang didefinisikan media.

Banyaknya kasus rasis yang disebabkan oleh kata “tidak memenuhi standar kecantikan”  sudah membuktikan bahwa konstruksi media tentang standar kecantikan sangat berpengaruh. Mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, jenis rambut, semua sudah menjadi permasalahan. Namun sejatinya, kecantikan tidak memiliki standar apapun idealnya. Kecantikan lahir dari diri yang selalu berpikiran positif, sikap yang tidak mengotak atik hati orang lain, dan hati yang jauh dari energi negatif. Mengikuti standar kecantikan karena konstruksi media adalah hal yang paling melelahkan.

Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik Semester V

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami