Senyawa: Merawat dan Bertumbuh

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh : Nur Afni Aripin

Malam itu sebuah notifikasi muncul di layar hp saya. Tanpa aba-aba sebelumnya, saya membacanya dengan seksama. Salah satu kawa kami, Josh ingin pulang kampung ke Malino. Hal itu disambut antusias oleh teman-teman angkatan yang tergabung dalam balutan nama “Bara-baru”.

Salah satu teman, Fikri mengusul untuk ikut ke kampung Josh. Pasalnya Malino memang dikenal dengan kampung yang memiliki destinasi wisata indah. Kami kompak mengiyakan ajakannya.

Yah, sebuah upaya merawat kultur kekeluargaan di Washilah. Kami memilih menghabiskan waktu bersama selama kurang lebih 59 Jam 35 menit. Di Kota jauh dari hiruh-pikuk kota metropolitan Samata, yang dijuluki sebagai Kota bunga. Berdiri pada tahun 1972 .

Beberapa kesibukan di bulan Agustus. Diawali dengan kerja-kerja lembaga kepanitiaan In House Traning Jurnalistik (IHTJ), hingga pengerjaan tabloid magang sebagai prasyarat dikukuhkan.

Banyak dinamika yang membersamai. Begitupula, dengan percikan bara konflik, hingga berimbas pada merenggangnya alur komunikasi. Pada akhirnya, kami memilih liburan yang berawal dari sebuah kebetulan. Sebagai langkah paling solutif untuk sekedar menjahit kembali keakraban.

Maka dipilihlah sebuah tempat indah disebuah Desa Parang boddong. Yang juga merupakan tempat bermukim salah satu kawan kami, yaitu Josh.

Di jadikan sebagai tujuan untuk mengistirahatkan lelah pun kembali beradaptasi dengan teman-teman seperjuangan, yang sama-sama berkecimpung di lembaga pers.

*Layaknya pinus, kami pun bertumbuh*

Setelah melewati Jalan terjal nan cukup curam. Akhirnya, kami sampai pada destinasi wisata alam yang terletak di Lembanna Kabupaten Malino. Setelah sebelumnya,
lebih dulu mengunjungi air terjun dan memanen sayur kol di kebun milik kerabat Josh.

Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 30 menit dari desa Parang boddong. Sementara kabut tebal dan rintik hujan turut membersamai perjalanan kami sore itu.

Rasanya, perjalanan kami terbayar lunas. Sesampainya di Lembanna. Terlihat pohon pinus yang menjulang serta berjejer, kontras menyuguhkan pemandangan yang eksotis dan tak akan dijumpai dimanapun.

Namun sialnya, hujan lebat kala itu sekonyong-konyong turun mencegah langkah kami untuk menyusuri lebih jauh, tempat yang juga terlihat dipenuhi beberapa tenda dengan beraneka warna dan bentuk. Kami memilih untuk berteduh, sembari mengisi perut dengan bakwan dan bercengkrama.

Salah satu teman Fikri, terlihat sibuk mengikuti rapat melalui zoom. Sementara, Awal juga turut mengikuti pelatihan kepenulisan. Dilain tempat, kawan Heni dan Selvi yang juga merupakan Mahasiswi jurnalistik, tengah mengikuti kuliah perdananya di semester ganjil ini.

Entah kenapa rasanya saya terharu. Mereka memilih keluar dari zona nyaman untuk berkumpul dengan kami.
membayar mahal dengan menyempatkan waktunya untuk sekedar kata “temu”.

Saya kembali teringat bagaimana perjuangan kami kemarin malam. Menerobos dinginnya Malino untuk sampai ke Parang boddong. Salah satu kawan Dea menggigil kedinginan. Tubuhnya bergetar , wajahnya pucat pasih layaknya mayat hidup. Kami berkumpul dan saling memeluk memberi kehangatan. Heni bahkan memberi jaketnya kepada Dea, saya tau diapun kedinginan.

Begitupula, saat kami kompak bahu-membahu memanen sayur kol. Tak peduli bagaimana lelahnya, kami mengerjakan dengan sukarela bahkan selalu diselingi gelak tawa.

Serasa waktu sembilan bulan mengikuti pola pemagangan. Kami seolah bertumbuh layaknya menjadi keluarga. Pada amanah baru yang diberikan sebagai anggota biasa UKM LIMA Washilah. Dari yang asing bahkan kini terikat layaknya saudara. Seperti pohon pinus yang berjejeran tumbuh dan saling memberi kehangatan. Saya percaya kami pun demikian.

*Truth or dare : Saling Merawat*

Setelah menikmati indahnya pohon pinus. kami kembali mengicip pemandangan indah di kebun teh. Sekedar mencuci mata sebenarnya, dengan estimasi waktu yang tak cukup satu jam. Pasalnya kami dicekal oleh satpam disana.

Setelah mendapat pengusiran dari petugas. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke kediaman Josh. Lucunya saat diperjalanan Fikri, Selvi, Heni dan Arfah tertinggal jauh dibelakang. Saya dan Josh sepakat untuk menyusul kebelakang, menerobos kabut tebal yang menghalau jarak pendang. Tanpa sadar Mei , Nadia, awal bahkan Dea juga menyusul dari belakang.

Saya kembali terharu. di situasi yang bahaya ini, dengan kabut tebal, jalan terjal, cuaca ekstrem mereka tetap saling memikirkan dan mengkhawatirkan.

Tidak terasa ini malam terakhir bagi kami. Setelah, melewati waktu bersama salama dua malam tiga hari.

Tak ingin menyia-nyiakan momen, kami bermain truth or dare. Barangkali games ini sudah tidak asing. Permainan diselingi gelak tawa. Apalagi guyonan Arfah selalu saja berhasil mengocok perut.

Meski hujan diluar sana tak kalah riuhnya, bahkan dingin malam terasa mencekam. Saking dinginnya saat berbicara asap bahkan terlihat mengepul keluar dari mulut. Namun m, entah mengapa bersama mereka saya merasa hangat.

“Apa first impressionmu ketika mulihatka,” Fikri bertanya saat ujung handsinitizer mengarah ke saya dan memilih truth.

Sungguh, Saya kelabakan untuk menjawabnya. Tak ada kesan apa-apa ketika saya berusaha mengingatnya. Bahkan pertemuan pertama tak terbersit dalam benak saya.

“Tidak ada kesannya,” saya menjawab jujur dengan datar.

Sementara pertanyaan yang sama juga saya lontarkan kepadanya. Di menjawab “pendiam ” dengan gamblangnya, disusul dengan pembenaran dari Nadia.

“Iyo afni pendiam , misteriuski,” timpal Nadia yang membuat saya terbahak.

Jika mengingat beberapa bulan silam. Saya memang typical orang yang sulit untuk beradaptasi. Berkali-kali rasanya ingin mundur saja dari keluarga kecil Washilah. Namun mereka ada untuk merawat keakraban. Dan perlahan saya mulai merasa nyaman. Saya percaya saya ada hingga detik ini karena mereka ada.

Permainan masih berlanjut. sementara, pertanyaan semakin menelisik jauh kedalam sendi kehidupan hingga area privat sekalipun. Saya menebak, lewat game ini keakraban mulai terbangun Kembali. kami seolah saling mengenal satu sama lain lewat pertanyaan sederhana. Apa kenakalanku waktu SMA?, Motormu sejak kapan ada?, hingga ada perasaanmu ke dia?.

Jarum jam kini menunjukkan pukul 10:30 WITA. kami sepakat untuk mengistirahatkan lelah, karena besoknya sudah harus tiba di Samata.

“Weh mauki rapat evaluasi tabloid magang besok,” Mei mengingatkan.

Yah, seperti itulah gambaran kerja di lembaga pers mahasiswa. Ada sekelumit tanggung jawab yaang diamanahkan. Bagaimana pun batin menolak, rasanya ingin menetap saja disini bersama mereka. Namun, logika tersadar kembali untuk menuntaskan pengabdian kepada kepentingan banyak orang, di wilayah kampus UIN. Kami harus menanggalkan zona nyaman untuk berpindah ke zona nyaman lainnya.

UKM LIMA Washilah yang berdiri tahun 1985 ini, memang menjadi media penyalur aspirasi mahasiswa ke birokrasi kampus. Senada dengan arti Washilah sendiri yang berasal dari bahasa arab berartikan jembatan. Tak ayal hal demikian menjadikan kantuk dan lelah terasa terbayar . Apabila ketika kami berhasil menjadi mediator penyampaian aspirasi mereka dan terdengar ke Pimpinan.

Ada banyak pengalaman kemarin yang tidak bisa saya tuangkan secara detail dalam tulisan ini. Sebagai penutup, saya percaya jika Washilah adalah rumah maka mereka adalah keluarga, tempat saya untuk pulang. Dari mereka saya belajar bagaimana jatuh cinta tanpa alasan. Bagaimana rasanya dimiliki dan memiliki. Tetap bertumbuh dan merawat serta saling bersenyawa.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami