Pengetahuan Seolah-olah

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dokumen Pribadi Penulis.

Oleh : Panji Hartono

Dalam salah satu buku dari Fahrudin Faiz (pengasuh Ngaji Filsafat Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta) yang berjudul “ihwal sesat pikir dan cacat logika : membincang cognitive bias dan logical fallacy” terdapat satu pembahasan dengan tema pengetahuan sopir.

Di awal pembahasan tema tersebut, kita disuguhkan sebuah cerita jenaka tentang penerima hadiah Nobel Fisika tahun 1918, Max Planck. Setelah menerima penghargaan tersebut, Planck diundang berkeliling Jerman untuk menyampaikan ceramah atau orasi ilmiah tentang Fisika Quantum baru. Kegiatan yang dilakukan planck di beberapa tempat itu mengikutsertakan sopir pribadinya.

Efeknya adalah sang sopir menjadi hafal apa yang disampaikan oleh planck dari ceramah/ orasi ilmiah di beberapa tempat tersebut. Sang sopir kemudian berkata kepada Planck “Tuan Planck, pasti sangat membosankan untuk memberikan ceramah yang sama setiap waktu. Bagaimna kalau di Munich nanti saya mewakilimu ceramah? Anda duduk saja di bagian belakang dan memakai baju sopir saya. Biar anda tidak bosan”.

Mendengar saran yang terkesan konyol tersebut, Planck justru tertarik untuk mencobanya. Sore hari saat berada Di Munich sang sopir dengan percaya diri menyampaikan ceramah tentang mekanika Quantum di depan audiens. Persis dengan apa yang biasa diceramahkan oleh planck.

Yang jenaka dari cerita tersebut adalah saat sang sopir telah selesai menyampaikan ceramah tiba-tiba seorang dosen mengajukan pertanyaan. Sang sopir yang kebingungan akhirnya menjawab “Tak pernah kuduga, di kota besar seperti Munich ini ada yang menanyakan pertanyaan mudah seperti itu, sopirku saja bisa menjawabnya. Cobalah…” (Sambil meminta Max Planck yang telah menyamar menjadi sopir untuk menjawab pertanyaan dosen tersebut)

Dari cerita singkat tersebut, Fahrudin Faiz kemudian menyimpulkan bahwa ada dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan yang sebenarnya dan pengetahuan “sopir”. Pengetahuan sebenarnya merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan banyak belajar, membaca buku, melalukan riset dan analisa mendalam. Sedangkan pengetahuan “sopir” adalah pengetahuan yang diperoleh secara instan, pengalaman singkat dan akhirnya hanya tahu sekilas. Pengetahuan “sopir” tersebut juga dapat disebut pengetahuan “seolah-olah” (seolah-olah mengetahui betul padahal tidak).

Memasuki era gelombang peradaban yang dinamakan gelombang informasi dan komunikasi (Alvin Toffler), badai informasi menjadi hal yang sulit dibendung. Hal tersebut memicu reaksi komentar yang juga sangat beragam. Sehingga agak sulit mengidentifikasi yang berpengetahuan sebenarnya dan yang berpengetahuan “sopir” atau “seolah-olah”. kita pun barangkali (termasuk penulis) sering terjebak dalam model pengetahuan “seolah-olah” tersebut. Apalagi dalam sistem komunikasi digital ada yang disebut dengan “copy paste”.

Kebebasan menyampaikan pendapat seringkali dijadikan senjata untuk membenarkan pengetahuan “seolah-olah” tersebut. Menyampaikan pendapat di ruang publik memang dibenarkan dalam demokrasi. Namun yang fatal jika kebebasan berpendapat itu justru dapat menjerumuskan orang banyak dalam jurang permasalahan kemanusiaan, seperti adu domba, pecah bela dan juga misinformasi terkait krisis “covid” yang belum berkesudahan.

Biasanya, siapa saja yang terjebak dalam model pengetahuan “seolah-seolah” akan mengalami suatu bias pemikiran yang disebut “availibility bias” yaitu model penalaran yang ditopang oleh pengetahuan sederhana (biasanya cukup dengan membaca 1/2 buku) tapi seolah-olah dengan pengetahuan sederhana itu mampu menjawab kompleksitas permasalahan yang ada meskipun jawaban yang diberikan sangat absurd bahkan dapat menyesatkan dan juga membahayakan.

Inilah hikmah dari nasehat untuk senantiasa belajar, membaca buku dan bersikap terbuka dengan beragam pengetahuan, sehingga “availibility bias” dapat dilawan dan cara berpikir sempit dengan prespektif “kacamata kuda” dapat dihindari. Olehnya musibah paling bahaya atau Krisis terbesar bagi kemanusiaan adalah krisis “kemalasan” untuk belajar, seperti yang ditulis oleh Blaise Pascal “semua problem kemanusiaan berawal dari ketidakmampuan manusia untuk duduk diam di kamar sendirian. Di rumah, belajar”.

Umar bin Khatab dalam satu nasehat bijaknya menjelaskan bahwa ada 3 fase seseorang dalam menuntut ilmu. Fase pertama adalah fase dimana seseorang akan merasa sombong dan tahu segalanya, fase kedua adalah fase dimana seseorang akan bijaksana dengan pengetahuannya dan fase yang terakhir adalah fase dimana seseorang merasa sangat bodoh dengan sedikitnya pengetahuan yang dimiliki.

Hanya tuhan sebaik-baik petunjuk.

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Semester X (Sepuluh)

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami