Menyingkap Makna di Balik Senyuman

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok. Pribadi Penulis.

Oleh : Muhammaq Iqbal

Dalam buku Sapiens karya Yuval Noah Harari. Homo Sapiens yang di sebut sekarang sebagai manusia. Telah berhasil berevolusi dari sebuah genetik yang mendekati Kera, menjadi manusia. Dalam proses evolusi Sapiens melewati banyak rintagan dari makhluk yang paling terbelakang hingga sampai saat ini, sebagai makhluk yang mampu menguasai alam semesta.

Bagaimana tidak menurut Yuval Noah Harari, sapiens pada saat belum menemukan Api dan mengenal alat berburu, dan alat pertanian. sekawanan sapiens hanya bertahan hidup memakan sisa-sisa buruan dari binatang buas yang hasil buruannya tidak habis.

Selain itu di jelaskan pula dalam bukunya bagaimana bentuk interaksi awal Sapiens ketika hanya masih menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi satu sama lain. Yang pada saat itu belum bisa menjelaskan secara rinci permasalahan atau pembahasan yang ingin di sampaikan. Karena terbatas menggunakan bahasa.

Berbeda dengan kita pada saat ini. Sekarang bentuk interaksi kita ke sesama kerabat, teman, sahabat dll. sudah tidak terbatas diwilayah bahasa. Bahkan sudah banyak memakai istilah-istilah yang dibuat untuk lebih mempermudah atau mempersingkat bahasa yang ingin di sampaikan. Seperti OTW (on the way) tapi sering juga kita hanya menggunakan bahasa isyarat sebagai bentuk penekanan agar cepat di mengerti oleh lawan bicara kita, semisal ketika kita menyampaikan ungkapan peresaan kita kelawan jenis sudah biasa kita memberikan bahasa isyarat dengan gerak jari-jari tangan yang membentuk hati, agar lebih cepat di mengerti.

Tapi pernahkah kita hanya mendapatkan bahasa isyarat dengan lewat senyuman saja? Tanpa ada kata sedikitpun yang tersampaikan, namun kita yang cenderung mudah mengeneralisasikan langsung melakukan pen Tasdiqan bahwa di balik senyum itu ada rasa suka? Apalagi jika senyum itu di berasal dari seseorang yang memang kita menyimpan perasaan lebih kepadanya.

Sebagai mahluk sosial, sering kali kita mendapatkan sapaan hangat dari orang-orang sekitar maupun orang-orang yang baru kita jumpai saat pertama kali.

Tentu, itu bukan sesuatu hal yang sifatnya ambigu, sebab manusia secara fitrahwi memang sejatinya dinamis baik dari segi pemikiran maupun relasi sosial.

Saya pribadi sering salah menyingkap tanda-tanda yang ada di sekitar saya, karena mungkin saya terlalu cepat menyimpulkan atas tanda yang di berikan tanpa mengelolah bentuk informasi dengan baik.

Kebanyakan letak kesalahan dari kita adalah, adanya ketidakmampuan dalam menjelaskan hal-hal yang terjadi di alam dengan pengetahuan yang sifatnya objektif. Kita hanya mampu menjelaskan dari segi subjektifitas kita, sehingga kita seringkali memaksakan ukuran kita menjadi ukuran orang lain. Padahal, hal itu tidak bisa kita lakukan sebab setiap orang memiliki ukuran masing-masing.

Dari filsuf Decart, seharusnya kita banyak belajar tentang bagaimana kita seharusnya senangtiasa meragukan segalanya yang ada di Alam ini termasuk tanda-tandanya. Maksudnya apa? Lebih baik kita meragukan segala sesutu terlebih dahulu di banding langsung menyimpulkan tanpa adanya landasan yang cukup kuat. Disisi lain berbeda dengan Ayatullah¬†¬†Baqir Shadr. Ia menawarkan sebuah pemikiran yang menurut saya sangat rasional jika di bandingkan oleh beberapa teori yang saya ketahui selama ini. Menurut “Ayatullah Baqir Shadr bahwa alam baginya adalah sumber pengetahuan, di mana segala sesuatu hal ketika indra mempersepsikan alam menuju rasio sehingga menjadikannya sebuah konsep yang sederhana.

Namun konsep sederhana ini haruslah memiliki hubungan ke rasio sebagai sumber, dan rasio sebagai sumber menurunkan prinsipnya ke konsep sederhana.

Setelah mendapatkan generalitas yang sifatnya masih subjektif, kita harus melihat kembali ke alam, bahwasanya apakah konsep sederhana itu sudah menjadi pengetahuan objektif ketika diturunkan ke alam.

Begitu pula untuk mengetahui makna ketika seseorang senyum terhadap kita.

Di mana senyum dari orang itu belum tentu artinya ia memiliki perasaan lebih terhadap diri kita.

Boleh saja, senyum itu berarti bahwa terdapat sesuatu yang mengganjal ketika ia melihat kita. Semisal ada kotoran di bagian tertentu di badan kita atau memang senyumnya hanya bersifat sapaan untuk mencairkan suasana. Maka dari itu kita harus senantiasa membuka (kemungkinan) karena kita mempunyai relasi terhadap alam, dan alam pun sifatnya dinamis.

Artinya apa? Ketika kita melihat senyum dari orang lain, maka kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa ia memiliki perasaan yang lebih terhadap kita. Ya, sekali lagi karena sifatnya masih dalam konsep sederhana.

Maka dari itu untuk mengetahui makna di balik senyuman orang lain, kita harus mempertanyakan maksud dari senyumnya. Sehingga kita tidak jatuh kepada subjektifitas, melainkan akan membawa kita masuk ke pengetahuan yang objektif. Dari teori Ayatullah Baqir Shadr kita senang tiasa dibimbing untuk tidak mudah melakukan penilaian atas apa yang kita lihat melalu panca indra, sebab panca indra hanya untuk melihat objek yang ada di alam bukan untuk melakukan penilaian, tapi segala sesuatu yang ada di dalam Rasio tetap harus di kembalikan ke Alam agar terhidar dari sisi subjektivitas.

 

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik Semester IV

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami